Resensi Buku The History of Prostitution (William Wallace Sanger)

Resensi ditulis oleh Ali Usman yang dipublikasikan alif.id

Praktik prostitusi sesungguhnya telah berlangsung lama, selalu ada di setiap ragam peradaban dunia. Itulah sebabnya, fenomena prostitusi merupakan fakta sejarah yang tak bisa ditutupi, meski berusaha sekuat tenaga menggunakan dalih atas nama agama.

Prostitusi justru terjadi berjalan seiring dengan tumbuh berkembangnya agama-agama, sehingga ajaran-Nya memiliki relevansi dan sekaligus kontekstualisasi yang nyata pada situasi sosial masyarakatnya.

Buku ini, The History of Prostitution (Sejarah Prostitusi Dunia), terbit pertama kali tahun 1913, edisi Indonesia 2019, dan merupakan karya babon/induk dari fenomena praktik prostitusi yang sejak zaman dahulu telah menyejarah.

William Wallace Sanger, penulisnya, adalah seorang dokter yang pernah bertugas sebagai dokter residen pertama di Blackwell Island. Ketertarikannya meneliti tentang prostitusi ketika ia ditugaskan oleh anggota dewan kota New York untuk mencari tahu motif pelacuran, sehingga ia pun telah mengawasi wawancara polisi terhadap 2000 pelacur.

Ada istilah “prostitusi kuil” (temple prostitutes). Prostitusi model ini ditemukan di pada kebudayaan zaman Babilonia, Mesir Kuno, Palestina Kuno, Yunani, dan Romawi. Para pelacur berkeliaran di jalan-jalan dan di kedai-kedai minuman, mencari mangsa laki-laki. Kemudian, penghasilannya diserahkan kepada para pendeta untuk membantu pembangunan kuil.

Pada masa Nabi Shaleh, misalnya, prostitusi terjelma dalam bentuk iming-iming seorang perempuan cantik bernama Shaduq binti Mahya kepada Masda bin Mahraj yang berjanji membunuh unta Nabi Shaleh. Langkah ini kemudian diikuti oleh perempuan lain yang menyerahkan kehormatan anak gadisnya kepada pemuda Qudar bin Salif.

Persepsi dan kedudukan prostitusi mengalami fluktuasi. Ada kalanya pada masa itu ditempatkan sebagai perbudakan. Mereka distempel sebagai masyarakat kelas bawah. Biasanya mereka lebih banyak beroperasi di jalan-jalan.

Di Yunani, pelacur jalanan disebut pornoi. Kebiasaan-kebiasaan seksual pun telah bertumbuh secara variatif.

Di Romawi, pelacur dianggap penjahat dan pengganggu anak-anak. Pelacur diharuskan menggunakan pakaian tertentu untuk membedakan dengan perempuan kalangan bangsawan. Lebih ketat lagi, Asysyiria menetapkan pasal hukuman bagi pelacur yang membuka tutup kepalanya sebagai trade mark-nya.

Di India Kuno, pelacur rendahan ini disebut khumbhadasi. Kaum perempuan dari golongan rendah hanya diberi dua pilihan, menikah atau menjadi pelacur.

Sementara di Cina, pelacuran sudah mulai ditempatkan di rumah-rumah khusus. Pelacur yang berasal dari golongan rendah disebut “wa she”. Pada masa Dinasti Han, pelacur golongan ini dirumahkan bersama-sama dengan kelompok penjahat, tahanan perang, dan budak.

Demikian halnya pada masa-masa awal masyarakat Islam, munculnya harem juga tak bisa dipisahkan dari pelacuran. Sudah mentradisi, orang-orang kaya biasa membeli ratusan budak perempuan untuk dijadikan harem. Walaupun pelacuran jelas-jelas dilarang dan pemerintah memiliki muhtasib, polisi susila, diam-diam para budak perempuan banyak yang dipekerjakan menjadi pelacur.

Di Indonesia, praktik prostitusi oleh William Wallace Sanger ditelusuri lewat pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, sebab saat itu, memang belum menjadi bangsa yang merdeka.

William Wallace Sanger mencontohkan kasus di Jawa yang mendukung sejumlah besar perempuan sebagai penari. Penduduknya sangat menyukai hiburan seni tari, namun tidak ada perempuan terhormat yang akan bergabung di dalamnya, sebab semua partisan perempuannya adalah pelacur, dan memang, penari dan pelacur sangat identik dalam bahasa mereka (hlm. 493).

Meski demikian, pelacur tidak selamanya dipandang sebagai profesi rendahan. Dalam beberapa bangsa dahulu, pelacur justru menempati kedudukan terhormat. Pelacur terhormat ini memberikan pengaruh yang mendalam terhadap politik, seni, sumber inspirasi puisi, dan mode pakaian.

Mereka datang dari kelas atas dan menengah. Mereka memilih profesi pelacur, karena waktu itu profesi ini menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk meraih kekayaan dan gengsi sosial dalam masyarakat yang dikuasasi oleh kaum laki-laki.

Mereka perempuan terdidik dan mempunyai fungsi sosial yang besar, di saat kaum perempuan dibatasi tinggal di rumah dan tidak diberi tempat dalam ruang publik.

Mencermati fenomena tersebut, praktik prostitusi tak dapat dihindari, namun bisa diatur lewat regulasi aturan pemerintah. Sebab, usaha untuk memberantas prostitusi dalam sejarahnya, juga seringkali mengalami kegagalan. Bahkan kala itu, tulis William Wallace Sanger di buku setebal bantal ini (hlm. viii), seluruh kekuatan gereja yang bukan semata kekuatan spiritual, melainkan juga sebuah badan sekuler yang nyata, telah putus asa melawannya.

Dunia menentang perintah para pendeta, ancaman kehancuran di kehidupan setelah kematian sia-sia untuk mencegah orang mencari tahu, dan perempuan memberikan kesenangan penuh dosa di dunia.