Resensi Buku Pencerahan Sufi (Syekh Abdul Qadir Jaelani)

Tulisan ini pernah tayang di bukupocer.com pada 22 Mei 2017

Islam sebagai agama, membawa seperangkat tata aturan berupa syariat. Tentu saja, syariat tersebut menuntut untuk dijalankan oleh umat Islam sebagai pedoman hidup dan pegangan dalam perikehidupan di dunia ini. Dimensi syariat itu, mengingat syariat Islam mewajibkan aneka ritual yang juga harus berasaskan syariat, pada gilirannya

menjadi identitas dan entitas umat Islam.

Namun demikian, dapat kita lihat kini dimensi syariat terlihat begitu berlebihan sehingga mendominasi identitas umat Islam. Walhasil, umat Islam yang kini—meski tidak semua—muncul adalah mereka yang gemar membenarkan diri sendiri dan menganggap orang lain sebagai yang salah. Padahal, Islam bukan sekadar urusan halal dan haram, benar dan salah, pahala dan dosa, atau klaim surga dan neraka.

Dimensi syariat yang terlampau ketat yang berhulu dari istinbath dalil secara kontekstual dan kaku tersebut tidak hanya mencitrakan Islam yang garang, alih-alih mengayomi dan menenteramkan, namun juga meresahkan. Sejatinya, mengayomi dan menenteramkan inilah “tugas mulia” dari agama, tanpa terkecuali Islam—agama adalah “jalan hidup” sekaligus “jalan pulang” umat manusia agar selamat di dunia dan akhirat.

Dimensi syariat sebetulnya hanya “satu sisi” dari keseluruhan ajaran Islam. Ibarat sandal atau sepatu, ia hanya sebelah kanan atau kiri. Padahal, sandal atau sepatu itu bisa digunakan secara nyaman jika ada dua sisi, yakni kanan dan kiri. Begitu pula dalam Islam. Jika satu sisi itu adalah syariat, maka sisi lainnya adalah ‘hakikat’.

Syariat dan hakikat ini seharusnya difungsikan secara berirama, sebagaimana gerak langkah kaki kanan dan kiri, entah pelan atau cepat mesti selaras agar dapat menuju pada suatu arah pasti. Kekentalan dimensi syariat yang muncul akhir-akhir ini memang merepresentasikan Islam secara tidak utuh. Oleh karenanya, Islam bisa sempurna jika ada dimensi yang menyempurnakannya, yakni hakikat.

Hal itu mengandung arti bahwa Islam bukan sekadar persoalan halal dan haram, benar dan salah, pahala dan dosa, atau klaim surga dan neraka, yang dalam dimensi syariat tak lain merupakan sebuah kecenderungan saja. Islam adalah ‘kasih’ kepada semesta. Islam diturunkan di dunia ini agar umat manusia menjadi umat yang saling menebar kasih antar manusia, juga alam. Dan kasih itu sendiri mempunyai tiga orientasi: Tuhan, manusia, dan alam.

Dalam dimensi hakikat, kasih sering disebut sebagai tasawuf. Sejatinya, tasawuf tidak sepenuhnya merepresentasikan nilai hakikat dalam Islam. Namun paling tidak tasawuf bisa mewakili dimensi hakikat selain teologi atau akidah.

Dalam sejarah peradaban Islam, telah banyak dikenal tokoh tasawuf kesohor. Di antara mereka ada Jalaluddin Rumi, Al-Ghazali, Abu Yazid Al-Busthami, Hasan Al-Bashri, Rabi’ah Al-Adawiyah, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Dari sekian nama tokoh tasawuf atau pengamalnya yang disebut sebagai sufi, Syekh Abdul Qadir Jaelani adalah tokoh yang sangat dihormati. Aliran tarekatnya bahkan lestari hingga kini.

Syekh Abdul Qadir Jaelani juga menulis beberapa karya bertemakan tasawuf atau sufisme. Di antara karyanya adalah Fathur Rabbani (diterjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Forum dengan judul “Pencerahan Sufi”). Isi dari buku tersebut adalah nasihat-nasihat bijak Syekh Abdul Qadir Jaelani yang berisikan telaah dimensi hakikat.

Karya fenomenal Syekh Abdul Qadir Jaelani tersebut pantas menjadi referensi di masa kini agar umat manusia tidak melulu mengentalkan Islam hanya dengan syariat sehingga menampilkan Islam yang tidak utuh. Jika Islam hanya ditampilkan dengan kebrutalan, maka itu bukanlah ajaran melainkan sebuah klaim. Dengan demikian, dimensi hakikat yang diwakili oleh tasawuf perlu diperkenalkan kembali. Itulah sebabnya mengapa karya Syekh Abdul Qadir Jaelani tersebut layak menjadi referensi pokok dalam menelusuri ajaran-ajaran agama Islam secara utuh.