Resensi Buku Risalah Ibnu Fadhlan (Ahmad bin Fadhlan)

Ketika umat manusia menyadari akan urgensi sebuah sejarah, mereka akan mempelajari sejarah mereka sendiri. Pada gilirannya, umat manusia tersebut yang kemudian berafiliasi pada suatu bangsa itu menghendaki sejarah bangsa mereka. Mereka tercekam rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap kisah masa lalu nenek moyang mereka. Namun demikian, bagaimana jika sejarah mereka itu sulit ditemukan dan dilacak?

Hal itu pernah dialami oleh bangsa Rusia atau masyarakat Eropa Utara. Ketika mereka sadar akan urgensi sejarah bangsa mereka sendiri, mereka lantas melacak apa yang terjadi pada masa lalu nenek moyang mereka. Namun demikian, hal yang mengejutkan adalah ketika sejarah mereka telah tertulis dengan baik—meskipun tidak lengkap—oleh seorang asing dari Baghdad. Ia adalah Ahmad bin Fadhlan.

Ibnu Fadhlan—begitu biasa ia disebutkan dalam berbagai literatur—adalah seorang penjelajah di abad ke-10 dari Baghdad. Seorang muslim yang diutus negaranya untuk melakukan ekspedisi ke Eropa Utara tersebut memulai perjalanannya pada 21 Juni 921. Ia menuliskan ekspedisinya dalam risalahnya yang kini dikenal sebagai “Risalah Ibnu Fadhlan”.

Bangsa Rusia atau masyarakat Eropa Utara menemukan kondisi dan situasi nenek moyang mereka dengan rujukan sebuah risalah yang dituliskan oleh Ibnu Fadhlan tersebut. Dengan demikian, setidaknya mereka mendapatkan sebuah gambaran tentang sejarah dan kisah masa lalu bangsa mereka. Tidak berlebihan, risalah yang ditulis Ibnu Fadhlan di abad ke-10 tersebut baru dianggap penting oleh bangsa Rusia dan masyarakat Eropa Utara tersebut di sekitar abad ke-19 dan ke-20.

Lebih pentingnya lagi bahwa risalah yang ditulis oleh Ibnu Fadhlan mengenai ekspedisinya ini mampu memberikan gambaran tentang negara Rusia, Bulgaria, dan Turki pada abad ke-10 Masehi dengan suatu gambaran yang mungkin hanya ditemukan dalam sumber ini. Bangsa Rusia sendiri telah merujuk pada catatan ini, membaca, mengkaji, mengembangkan, dan menerjemahkannya sejahk lebih dari seratus tahun yang lalu. Mereka menjadikan risalah ini sebagai sumber mereka yang berharga; sebagai sebuah referensi pokok yang tidak tergantikan. (hlm. 2)

Dengan demikian, Ibnu Fadhlan mempunyai posisi tersendiri dalam “penemuan” sejarah bangsa Rusia dan sekitarnya di abad ke-10. Ia menjadi traveler di abad pertengahan dan catatan-catatan tentang traveling-nya menjadi rujukan penting dan bermanfaat di abad modern.

Dalam risalahnya, Ibnu Fadhlan mengisahkan dirinya dalam menjelajahi setiap tempat yang menjadi persinggahannya. Ia menuliskan dengan baik tentang budaya, tradisi, keyakinan, dan agama masyarakat yang dijumpainya. Ia juga menceritakan keanekaragaman hayati yang tentunya hal itu sangat baru bagi masyarakat asalnya di Baghdad mengingat Timur Tengah dan Eropa mempunyai persediaan alam yang berbeda. Oleh karenanya, selain kini dipuji oleh bangsa yang dulu pernah dijumpainya, pada masa lalu pun risalahnya telah mendapatkan pujian dari bangsa asalnya sendiri.

Ekspedisi yang dilakukan oleh Ibnu Fadhlan barangkali tidak sememukau ini jika ia tidak menuliskan riwayatnya. Jika ia tidak “membawa pena dan kertas”, maka perjalanannya akan segera lenyap begitu saja. Akan tetapi, risalah yang dituliskannya ini menjadi rujukan sejarah yang sangat penting. Paling tidak, bagi bangsa dan masyarakat Rusia atau Eropa Utara.

Di samping itu, perjalanan Ibnu Fadhlan bukan tanpa tujuan. Jika hanya menjelajah semata, maka hal itu tidak ada keuntungan yang didapatkan oleh negaranya karena ia melakukan ekspedisi tersebut atas biaya pemerintah. Tentu saja berbeda dengan Ibn Batutah yang menyeberangi beberapa belahan dunia bukan karena sebuah utusan dari negaranya.

Bisa jadi, misi perjalanan Ibnu Fadhlan tersebut didasari dakwah agamanya, Islam. Ketika itu, Islam telah mencapai Eropa Utara. Di sana, tidak sedikit orang yang telah memeluk Islam. Entah bagaimana mulanya Islam telah mencapai Eropa Utara. Yang pasti, masyarakat muslim di Eropa Utara perlu bimbingan yang baik dalam beragama Islam mengingat mereka kurang memahami praktik-praktik religius dalam Islam. Misi seperti ini sebagaimana yang dulu Rasulullah Saw lakukan ketika mengutus Hudzaifah pergi ke Yaman untuk membimbing dan mengajar masyarakat di sana tentang Islam.

Sebagai contoh, di Saqalibah, ketika waktu salat menjelang, azan pun dikumandangkan. Tidak ada yang salah dengan azan. Akan tetapi, iqamah yang dilafalkan oleh muazin memang tidak tepat. Hal itu dikarenakan bahwa lafal iqamah yang dikumandangkan ketika hendak didirikan salat adalah sama dengan lafal azan. Tentu saja hal ini perlu pelurusan dan tidak mudah bagi Ibnu Fadhlan untuk meluruskan azan tersebut.

Diceritakan oleh Ibnu Fadhlan bahwa ketika iqamah, muazin membaca lafal-lafalnya secara dobel layaknya azan. Ibnu Fadhlan pun menegurnya. Raja Saqalibah pun memerintahkan muazin untuk mengumandangkan iqamah sebagaimana yang disarankan oleh Ibnu Fadhlan. Akan tetapi, ketika raja tersebut kalah berdebat dengan Ibnu Fadhlan dalam suatu hal, raja itu memerintahkan agar iqamah dilakukan sebagaimana azan, seperti sebelum ditegur oleh Ibnu Fadhlan. Hal itu dimaksudkan agar raja mempunyai tema debat baru dengan Ibnu Fadhlan. (hlm. 129)

Meski demikian, sepertinya pengutusan Ibnu Fadhlan tersebut tidak hanya urusan dakwah Islam. Biar bagaimanapun, pengutusan tersebut pasti tidak lepas dari perkara politik. Bagaimana tidak, untuk apa “menghambur-hamburkan” uang negara jika sekadar ekspedisi? Oleh karena itu, terdapat dugaan kuat akan adanya motif politik di sebaliknya.

Akhirnya, dengan membaca buku “Risalah Ibnu Fadhlan” ini, para pembaca diajak untuk berziarah sejarah di Eropa Utara pada abad ke-10. Persia, Turki, Bulgaria, Rusia, dan sekitarnya adalah destinasi dalam ekspedisi Ibnu Fadhlan. Tentu para pembaca akan disegarkan dengan kisah-kisah kuno dari daerah-daerah tersebut beserta budaya, tradisi, agama, dan lain sebagainya yang melekat.