Resensi Buku Sejarah Kitab-Kitab Suci (Mukhlisin Purnomo)

Tulisan ini pernah dipublikasikan oleh Majalah Gatra edisi 5/xx 11 Des 2013
Buku yang mengetengahkan titik temu dari sejarah kitab suci agama-agama samawi. Memberikan detail-masif dengan penjelasan ihwal konstruksi sosial-budaya, politik dan ekonomi pada fase rentang sejarah yang panjang.

Ada yang terabaikan dalam tradisi keberagamaan kita sejauh ini: historisitas kitab suci dari agama samawi. Sebagai agama yang sama-sama mengklaim dirinya hadiah dari Allah, Yahudi, Kristen, dan Islam mempunyai aspek historisitas yang tidak bisa diputuskansatu sama lain. Ketiga agama ini nyaris mempunyai sumbu yang sama.

Meski begitu, sedikit sekali upaya untuk mencari sumbu tersebut sebagai kesadaran rekonsiliasi. Atau setidaknya, menjadi titik temu untuk melihat khazanah sejarah masing-masing yang terhubungkan tadi. J. Warner Wallace, penulis buku Cold Case Christianity (2013), mengungkapkan hal senada bahwa, “Many of the world’s best known religious texts are silent when it comes to claims about history.”

Hingga hari ini, kita memang tidak bisa mengelak bahwa konteks sejarah dari kitab suci cenderung disembunyikan satu sama lain, menjadi sesuatu yang saling menengarai. Padahal, jika ada upaya untuk melakukan verifikasi sejarah terhadap masing-masing kitab suci, dengan gamblang akan ditemukan korelasi dan benang merah dari ketiga agama tersebut. Hasil dari upaya seperti itu akan memberikan inspirasi untuk “proyek agama” ke depan.

Salah satu cara yang patut diapresiasi dilakukan Mukhlisin Purnomo dengan buku langka ini. Buku ini fokus hanya membahas tentang sejarah empat kita suci, yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Quran. Buku ini menjadi buku bernilai, karena sebelumnya nyaris tidak ada karya berupa buku yang secara tekun menghadirkan aspek historis dari kitab suci.

Sebagai agama Ibrahim, masing-masing sejarah kitab suci mereka mempunyai klaim yang sangat kuat. Klaim mereka bukan tanpa data dan verifikasi sejarah. Satu sisi, mereka saling menguatkan satu sama lain. Di sisi lain, mereka justru saling menghapuskan, sebagai upaya menjadi kebenaran tunggal di balik klaim sejarah mereka masing-masing untukmenyebutkan kitab suci mereka paling benar.

Sebelum memasuki sejarah secara detail, Purnomo mengajak untuk bersepakat di awal bahwa sejarah keempat kitab suci dari agama samawi merupakan sejarah yang kontinu dan timpa-bertimpa. Untuk itu, pembacaan historis memang harus dimulai sejak kitab suci paling awal, yaitu Taurat yang kemudian disusul oleh sejarah kitab-kitab suci setelahnya, seperti Zabur, Injil dan Al-Quran.

Meski dari beberapa sumber menyebutkan bahwa Al-Quran dan nabinya, Muhammad, disebutkan paling awal, secara fakta sejarah –yang hadir sebagai peristiwa yang disaksikan– berbicara lain. Dalam narasi seperti ini, Al-Quran disebut sebagai penyempurna sekaligus purna sebagai firman Allah melalui para rasul.

Semua deskripsi di atas dicoba ditelusuri Purnomo untuk menguji aspek antiquity dan holy keempat kitab suci. Misalnya, yang terjadi dengan kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, sebagai kitab paling tua dari agama Ibrahimi. Pada bab berbeda, ketika menjelaskan kitab Zabur (Mazmur) yang diturunkan kepada Nabi Daud, Purnomo mengingatkan bahwa kitab tersebut adalah kelanjutan syariat dari kitab sebelumnya, yaitu Taurat.

Selanjutnya, buku ini menulis sejarah di balik kehadiran kitab Injil dan Al-Quran dengan lebih lengkap lagi. Secara kuantitas halaman, penjelasan untuk sejarah dua kitab ini memakan porsi lebih banyak. Dalam konteks sepak terjang sejarah kedua kitab dan agama yang terakhir ini sudah sangat banyak dijumpai, misalnya dalam buku Hugh Goddard,Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen.

———————————————–

Peresensi adalah Bernando J. Sujibto, Penekun kajian peace building, sedang menempuh studi master sosiologi di Selcuk University, Turki