Resensi Buku Sejarah Kitab-Kitab Suci (Mukhlisin Purnomo)

Keberadaan suatu agama tidak bisa dilepaskan dengan adanya kitab suci sebagai pedoman ajaran. Kitab suci adalah referensi dari agama itu sendiri, yang tidak lain adalah sebagai jalan hidup manusia yang beragama. Sejauh ini, manusia telah mengenal berbagai agama, baik yang bersifat samawi maupun bumi. Demikian pula, masing-masing agama tersebut mempunyai kitab suci yang sakral.

 

Mukhlisin Purnomo, S.Th.I., M.Pd.I dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Kitab-Kitab Suci” menguraikan secara rinci perjalanan kitab-kitab suci yang dimiliki tiga agama besar samawi, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Diturunkannya kitab-kitab suci itu tidak lain adalah sebagai pedoman umat manusia.

Secara historis, agama-agama samawi diturunkan untuk umat manusia melalui perantara para nabi dan rasul. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memiliki kekuatan iman yang sangat tangguh. Namun demikian, para nabi dan rasul itu juga termasuk manusia yang tidak lepas dari sifat fana (tidak abadi). Dengan demikian, risalah-risalah agama yang diturunkan tersebut akan turut musnah seiring kefanaan para pembawa risalah. Untuk itu, dokumentasi risalah-risalah tersebut selalu dibutuhkan untuk tetap melanjutkan ajaran-ajaran agama yang ditinggalkan para pembawa risalah. Dengan dokumentasi risalah tersebut, muncullah wujud antologi wahyu yang berupa kitab suci.

Hal itu sebagaimana Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai sebagai penuntun umat Israel dalam menjalani kehidupan mereka. Isi Taurat yang utama adalah sepuluh perintah Tuhan (ten commandments) yang ditulis di atas dua loh batu (hlm. 2).

Dengan begitu, Kitab Taurat secara sah difungsikan sebagai pedoman bagi bangsa Israel yang kala itu dipimpin oleh Musa beserta saudaranya, Harun. Dengan semangat yang religius, bangsa tersebut dibebaskan oleh Musa dan Harun dari kekejaman Mesir yang dikuasai oleh Fir’aun.

Jauh setelah Musa dan Harun, Daud menerima risalah Tuhan yang berwujud Zabur atau Mazmur. Pada dasarnya, Zabur merupakan wahyu Tuhan yang diterima oleh Daud, tetapi tidak mengandung syariat tersendiri karena umat manusia, khususnya bangsa Israel, kala itu diperintahkan untuk mengikuti syariat Musa. Dengan demikian, Daud meneruskan syariat Musa dengan penegasan Kitab Zabur atau Mazmur.

Sementara itu, Isa atau Yesus juga mewariskan wahyu Tuhan yang kemudian terdokumentasikan dalam wujud Injil. Sebagaimana Taurat, Injil juga menjadi penuntun umat manusia dan rujukan religius kaum Nasrani. Yang termuat di dalam Kitab Injil tersebut terfokus pada pengajaran, pekerjaan, serta sikap hidup Yesus, dan bukan menceritakan sejarah hidup Yesus (hlm. 148).

Di lain pihak, umat Islam pun meyakini Kitab Alquran sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad sebagai pedoman dan pegangan hidup umat manusia. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan kepada bangsa Israel, Alquran justru diturunkan kepada saudara bebuyutan bangsa Israel, yakni bangsa Arab.

Telah menjadi kesepakatan tidak tertulis oleh kaum intelektual sedunia bahwa Alquran diturunkan sekitar 14 abad yang lalu di tanah Arab dari Tuhan yang diakui oleh Muhammad. Alquran terbukukan menjadi sebuah kitab suci resmi umat Islam sekitar tahun 30-an Hijriah. Dari dulu sampai sekarang, kaum Muslimin masih tetap meyakini bahwa Alquran merupakan himpunan wahyu Tuhan yang senantiasa memberi petunjuk moral (hlm. 246).

Keberadaan kitab-kitab suci tersebut merupakan suatu kebutuhan bagi umat beragama. Selain sebagai pedoman, kitab suci juga merupakan penyambung risalah agama yang seharusnya terputus ketika para nabi dan rasul telah tiada. Kitab suci menjadi warisan agung agar risalah agama tersebut tetap lestari hingga akhir zaman.

Setiap manusia pada dasarnya akan merasakan kekeringan spiritualitas pada suatu titik hidup tertentu. Oleh karena itu, umat manusia niscaya membutuhkan siraman yang bisa menyejukkan dan membasahi nurani (rohani) dengan menempuh berbagai jalan. Jalan spiritual yang ditempuh tersebut pada gilirannya akan mewujud menjadi berbagai tindakan yang kesemuanya itu berjalan pada pola-pola tertentu sehingga membentuk suatu ajaran. Dengan cara seperti itu, umat manusia menemukan kesejukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni menemukan Tuhan atau dewa yang disembah sebagai pelipur lara serta tempat bernaung, bergantung, dan kembali.

Untuk itulah para pembawa risalah jalan spiritual menyebarkan agama, termasuk para nabi dan rasul serta para guru bijak yang mencerahkan. Mereka datang kepada umat manusia dengan membawa ajaran dari Tuhan agar umat manusia senantiasa hidup dalam damai secara lahir dan batin. Ajaran Tuhan yang mereka bawa itu mengandung misi perdamaian, pencerahan hidup, dan penyembahan terhadap Tuhan. Ajaran-ajaran tersebut kemudian terbentuk dalam dokumentasi kitab suci sebagai pedoman umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dan alam setelahnya. Dari kitab suci itulah ajaran-ajaran agama mengalami eksistensi dan tetap lestari.

Perjalanan dari ajaran agama yang terdokumentasi menjadi kitab suci tersebut memakan waktu yang tidak sebentar. Kitab suci akan terus berjalan beriringan dengan umat manusia beragama. Di balik keberadaan kitab suci itu, terkandung sejarah panjang dari masa diturunkannya hingga sekarang ini.

Dari hal itulah buku yang berjudul “Sejarah Kitab-Kitab Suci” ini mencoba untuk mengilustrasikan sejarah kitab-kitab suci dari agama-agama samawi. Kitab-kitab suci tersebut hingga kini telah banyak memengaruhi jalan hidup umat manusia dalam berketuhanan, bersosial, dan berspiritual.

Akhirnya, buku ini mengajark para pembaca menyelami perjalanan dokumentasi wahyu Tuhan tersebut. Turunnya wahyu yang terdokumentasi dalam wujud kitab-kitab suci tersebut tidak berawal dari ruang kosong, tetapi pelestariannya bertujuan sebagai penuntun umat manusia.