Resensi Buku Kerancuan Filsafat (Imam Al-Ghazali)

Kajian filsafat merupakan kajian yang tiada habisnya. Meski kajian tersebut dimulai dari masa Yunani Kuno (bahkan sebelum itu), hingga kini filsafat tidak kehilangan daya tariknya. Hal itu berbanding lurus dengan anugerah akal dalam manusia sehingga manusia terus berpikir mencari suatu kebijaksanaan.

Kajian filsafat oleh para pakarnya dan filsuf bahkan pernah mencapai periode yang “mengerikan”. Di abad pertengahan, pernah terjadi perseteruan filsafat yang hingga kini sangat kentara pengaruhnya. Perseteruan di abad pertengahan tersebut menjadi sebuah sejarah yang memengaruhi banyak pemikiran di era kini.

Perseteruan tersebut dimulai dengan kegusaran Abu Hamid Al-Gazali (Imam Al-Gazali) terhadap para filsuf yang terlampau jauh “mendewakan” rasionalisme. Imam Al-Gazali pun mengkritik para filsuf tersebut dengan menuliskan buku yang berjudul Tahafut Al-Falasifah. Buku yang berjudul “Kerancuan Filsafat” inilah terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Buku yang ditulis oleh Imam Al-Gazali ini menyanggah beberapa pemikiran yang dikemukakan para filsuf. Memang tidak semua pemikiran filsuf disanggah, hanya dua puluh permasalahan yang disanggah oleh Imam Al-Gazali dalam buku ini. Keduapuluh permasalahan tersebut adalah seputar ketuhanan, alam semesta, jagat raya, metafisika, keimanan, dan kemampuan nalar akal manusia.

Imam Al-Gazali memang seorang sufi tetapi perjalanan intelektualnya telah menapaki puncak rasionalitas. Imam Al-Gazali telah melewati filsafat dan intelektualitasnya sedemikian dewasa dan matang. Karena telah melampaui cara berpikir filsafat dan berfilsafat, Imam Al-Gazali merasakan spiritualitas yang gersang dan kering. Selangkah lebih maju, Imam Al-Gazali pun menggapai tasawuf.

Oleh karena itu, wajar saja Imam Al-Gazali menyanggah berbagai pemikiran para filsuf yang hal itu telah dilampaui oleh Imam Al-Gazali di fase intelektualitas sebelumnya. Bisa jadi para filsuf tengah terjebak dalam skeptis dan sulit keluar darinya. Meski begitu, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang sangat wajar, terutama dalam disiplin filsafat yang di dalamnya menonjolkan pemikiran.

Sanggahan Imam Al-Gazali tentang kerancuan filsafat ini kemudian disanggah lagi oleh seorang filsuf-faqih, Ibn Rusyd. Sanggahan-sanggahan Imam Al-Gazali terhadap para filsuf yang tertuang dalam Tahafut Al-Falasifah pun disanggah oleh Ibn Rusyd dalam salah satu masterpiece-nya yang berjudul Tahafut Al-Tahafut (Kerancuan Buku Kerancuan Filsafat). Dengan demikian, terjadilah perang besar filsafat di abad pertengahan yang sangat berpengaruh luas dalam keilmuan dan pola hidup beragama masyarakat Islam pada saat itu.

Pada dasarnya, Ibn Rusyd sangat paham siapa Imam Al-Gazali. Dalam perspektif Ibn Rusyd, Imam Al-Gazali adalah seorang ulama yang keilmuannya sangat luas. Namun demikian, Ibn Rusyd merasa perlu menyanggah buku Imam Al-Gazali tersebut lantaran perbedaan pendapat. Uniknya, meskipun menyanggah pemikiran Imam Al-Gazali, Ibn Rusyd tidak bermaksud mengkritik pribadi Imam Al-Gazali. Ibn Rusyd semata hanya menkritik pemikiran Al-Gazali terkait sanggahannya terhadap para filsuf.

Bisa dikatakan bahwa perang filsafat tersebut merupakan perang besar pemikiran dalam sejarah peradaban Islam. Kedua belah pihak mempunyai banyak pendukung. Sedemikian luas pengaruh perang pemikiran tentang filsafat tersebut, realitas itu justru menjadi sejarah tersendiri yang mengungkap pemikiran dua maestro filsafat muslim.

Perang tersebut bukan berasal dari ruang hampa. Imam Al-Gazali melihat para filsuf beserta teori mereka yang terlampau rasional dan bahkan ada yang hampir menyimpang dari syariat. Imam Al-Gazali yang telah melewati fase filsafat tersebut berusaha hendak meluruskan kembali apa yang telah bengkok.

Bahkan, Imam Al-Gazali menulis buku Tahafut Al-Falasifah ini sangat jelas mengobjekkan sanggahan terhadap para filsuf. Dengan buku ini, Imam Al-Gazali tidak hadir sebagai pembangun sistem. Imam Al-Gazali hanya bermaksud untuk mengacak-acak berbagai teori para filsuf. Tujuan itu pun dicapai oleh Imam Al-Gazali. (hlm. 115).

Ternyata, sebagai seorang filsuf dan mewakili para filsuf yang terdesak dengan sanggahan Imam Al-Gazali, Ibn Rusyd menyanggah sanggahan tersebut dengan cara intelektual pula. Buku Tahafut Al-Tahafut jelas-jelas ditujukan untuk menyanggah buku Imam Al-Gazali ini. Benturan pemikiran dua tokoh besar tersebut menjadikan kajian filsafat semakin ramai oleh khalayak.

Sayang sekali, gerak langkah kajian filsafat menurun di dunia Islam saat ini. Berawal dari lemahnya Dinasti Abbasiyah Baghdad di masa-masa akhir berikut ketidakberdayaan Dinasti Umayyah di Andalusia sehingga menurunkan gairah ilmu pengetahuan. Kajian filsafat pun tidak segencar ketika perang argumen antaran Imam Al-Gazali dan Ibn Rusyd.

Puncaknya, Baghdad diporak-porandakan oleh tentara Mongol dan buku-buku ilmu pengetahuan dibakar serta dibuang ke laut sehingga airnya menjadi hitam lantaran tinta-tinta dari ratusan ribu buku tersebut luntur. Itulah salah satu sejarah brutal terhadap dunia ilmu pengetahuan.

Di dunia Islam, kajian filsafat menjadi minim. Justru giliran bangsa-bangsa Barat yang mentradisikan berpikir filsafat sehingga mampu membangun kemajuan. Pemikiran-pemikiran progresif Ibn Rusyd diadopsi oleh Barat. Begitu juga pemikiran-pemikiran lainnya sehingga Barat menapaki kemajuan dan mampu mengalahkan umat Islam.

Sementara itu, umat Islam kehilangan gairah berpikir. Praktik tasawuf yang diwariskan oleh Imam Al-Gazali memang banyak digali, tetapi hal itu tidak diimbangi dengan pemikiran progresif lainnya yang revolusioner. Tasawuf diamalkan secara mentah-mentah, padahal Imam Al-Gazali sendiri telah melewati jalur filsafat untuk mencapai puncak makrifat.

Namun demikian, Imam Al-Gazali masih mewariskan buku ini kepada generasi setelahnya yang hingga kini masih lestari. Meskipun buku ini menyanggah filsafat, tentu saja untuk membaca buku ini juga harus berpikir tentang filsafat. Oleh karena itu, filsafat menjadi salah satu jalan untuk mencapai kebijaksanaan. Sebagaimana Imam Al-Gazali, ketika hal itu telah mencapai puncaknya, maka dunia tasawuf menjadi media keseimbangan antara nalar berpikir dengan spirit rohani.