Abu Yusuf; Ekonom Muslim Era Klasik

Manusia itu makhluk ekonomi (Homo Economius). Artinya, setiap kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari aktivitas ekonomi. Dalam konteks ini peran ekonom sangat penting untuk membuat sebuah teori bagi berlangsungnya aktivitas ekonomi. Seperti John Adam Smith (1723 – 1790), seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern, melalui bukunya, “The Wealth of Nation” (Kemakmuran Suatu Negara), menyatakan bahwa sistem ekonomi yang tidak ada campur tangan pemerintah (liberal) akan mewujudkan laju pertumbuhan ekonomi secara maksimum. 

David Ricardo (1772 – 1823), seorang pemikir ekonom klasik paling berpengaruh menyatakan melalui bukunya, “Principles of Political Economy and Taxation”, bahwa dengan bertambahnya modal menjadi kunci dari pertumbuhan ekonomi bangsa, dan satu-satunya cara untuk mewujudkannya dengan mendorong sektor produksi untuk mendapatan keuntungan yang besar. 

Kedua tokoh ekonomi di atas hanya sekian dari banyaknya pemikir ekonomi Barat yang berkecimpung dalam dunia filsafat, politik, dan ekonomi. Nama-nama lain pun masih berseliweran, seperti Michal Todaro (1942), pemikir ekonomi yang selalu kita kenal saat belajar ekonomi di jenjang perkuliahan dengan bukunya tentang pembangunan ekonomi. Namun demikian, jika kita menelisik—jauh sebelum para pemikir ekonomi Barat—ternyata tidak sedikit pemikir ekonomi yang kurang diketahui. Kita selalu dikenalkan oleh para ekonom Barat dengan berbagai macam teorinya. Kita pun lupa, bahwa dunia Timur sudah lebih dulu melahirkan banyak pemikir ekonomi, seperi Abu Yusuf, Al-Syaibani, Abu Ubaid, dan lain-lain. 

Perkembangan pemikiran ekonomi (Islam) Timur dimulai sejak abad ke-2 H atau abad ke-8 M. Perkembangan ini terus tumbuh hingga abad ke-8 H atau abad ke-14 M. Berbagai pemikiran ekonomi pada saat itu sangat pesat, mulai  rangka mikro hingga makro. 

Abad ke-8 M merupakan masa peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah. Masa ini merupakan era konflik internal umat Islam banyak terjadi yang mengakibatkan segala aktivitas tidak kondusif. Salah satunya ialah aktivitas perkembangan ilmu pengetahuan. Namun demikian, dalam nuansa ricuh itu lahir salah satu tokoh terkemuka. Ulama yang hidup dalam fase dua dinasti—Umayyah dan Abbasiyah—ini mampu berkontribusi besar dalam ilmu pengetahuan, terkhusus dalam bidang perekonomian, yakni Abu Yusuf. 

Nama lengkapnya ialah Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari (113 H/731 M – 182 H/798 M). Dia merupakan murid sekaligus partner Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan Al-Taymi atau lebih dikenal dengan Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi. Abu Yusuf berasal dari suku Bujilah, salah satu suku Arab. Keluarganya disebut Anshari karena dari pihak ibu masih mempunyai hubungan dengan kaum Anshar (pemeluk Islam pertama dan penolong Nabi Muhammad Saw di Madinah). Waktu belajarnya banyak dihabiskan di Kufah, yang masyhur dengan tempat menuntut ilmu yang diwariskan oleh Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat besar Nabi Muhammad Saw.

Sebagai salah seorang penganut mazhab Hanafi, Abu Yusuf menggunakan metode penalaran ahl al-ra’y  dalam pengambilan hukum. Hal ini dilakukan ketika sumber pengambilan hukum (Al-Qur’an, Sunah, dan Ijma’ sahabat Nabi) tidak ditemukan aturan yang jelas. 

Karya-karya Abu Yusuf antara lain Al-Asar, Ikhtilaf Abi Hanifah wa Ibn Abi Laila, Al-Radd ’ala Siyar Al-Auza’i, dan Kharaj. Kitab Al-Kharaj merupakan karya utama Abu Yusuf dalam mengembangkan pemikirannya tentang ekonomi. Asal-muasal kitab ini ialah ketika Abu Yusuf menjadi pejabat pemerintahan, hakim agung. Dia dimintai oleh Khalifah Harun Al-Rasyid (786 – 809) ketika hendak mengatur sistem baitul mal, sumber pendapatan negara seperti kharaj (pajak atas tanah di bawah pendudukan Non-Muslim yang muncul setelah penaklukan Islam), usyur (pajak yang dikenakan pada tanah milik umat Islam), dan jizyah (pajak yang dibebankan kepada Non-Muslim). Tujuan utama Khalifah Harun meminta Abu Yusuf untuk menuliskan permasalahn ini ialah untuk menghindari adanya praktik ekonomi yang zalim, manipulatif, dan tidak sesuai dengan aturan-aturan agama.

Dalam kitab tersebut, Abu Yusuf menganalisis semua permasalahan fisikal dan memberi saran kebijakan bagi pertumbuhan ekonomi yang menyejaterahkan rakyat. Beberapa pokok pikiran ekonomi Abu Yusuf dapat dikemukakan sebagai berikut.

a. Pengeluaran Negara dan Distribusi Pendapatan

Yandi Janwari dalam bukunya “Pemikiran Ekonomi Islam Dari Masa Rasululah hingga Kontemporer” menyatakan bahwa ada tiga poin tentang masalah distribusi pendapatan zakat: (a) pendapatan zakat tidak boleh dicampur dengan pendapatan lainnya, (b) pendapatan dari zakat harus secara ketat didistribusikan sebagaimana dalam aturan Al-Qur’an, dan (c) pendapatan ini harus didistribusikan kepada penerima lokal di tempat, kota, atau wilayah dari mana zakat itu dikumpulkan. 

b. Pajak Tanah

Dalam membahas pajak, Abu Yusuf membagi menjadi dua bagian, yakni pajak kharaj dan pajak usyur. Pajak kharaj adalah pajak atas tanah di bawah pendudukan Non-Muslim yang muncul setelah penaklukan Islam. Sementara itu, pajak usyur adalah pajak yang dikenakan pada tanah milik umat Islam. Abu Yusuf memperkenalkan metode baru pajak kharaj, yaitu dengan bagi hasil (muqasamah). Jauh sebelumnya, Khalifah Umar bin Khatthab ketika di Irak pernah menerapkan pajak kharaj dengan metode tingkat tetap dengan ambang batas. Ada perbedaan metode antara Khalifah Umar dan Abu Yusuf. Mengapa demikian? Salah satunya karena kondisi yang cukup berbeda dan pengembangan pengetahuan yang terus meningkat.

c. Pajak atas Produk yang Dihasilkan

Abu Yusuf membagi menjadi tiga kategori: (a) produk yang berasal dari pertanian, (b) produk yang diambil dari tanah, dan (c) produk yang dihasilkan dari laut.

d. Zakat

Pemikiran Abu Yusuf tentang pajak tidak berhenti pada pajak tanah, tetapi juga merambah pada pemikiran tentang zakat. Abu Yusuf menegaskan bahwa zakat sudah tertera aturannya dalam Al-Qur’an dan Sunah. Ambang batas zakat dan bentuk alokasi harta sudah diatur secara rinci dalam syariat. Pemerintah dan penguasa wajib menjalankan aturan zakat yang sesuai dengan tanpa memanipulasi atau bahkan bertindak zalim. 

Abu Yusuf dalam model administrasi zakat dan kharaj memiliki beberapa implikasi pada biaya kepatuhan (compliance cost), beban administrasi, dan keuntungan bersih dari pajak. Dengan tidak adanya kebijakan negara berkaitan dengan tarif pajak atau dasar pajak, pendapatan bersih dari pajak dapat ditingkatkan dengan minimalisasi biaya administrasi dan pemborosan pendapatan potensial melalui efisiensi sehingga akan memaksimalkan pendapatan bersih pajak. Hal ini sesuai dengan “efisiensi” sebagai salah satu dari empat penekanan dalam meriam perpajakan menurut Adam Smith, setelah kepastian, keadilan, dan kejelasan (The Wealth on Nations). 

Pemikiran ekonomi Abu Yusuf identik dengan kebijakan fiskal atau perpajakan. Hal ini berlandaskan atas pertanyaan Khalifah Harun Al-Rasyid dengan tujuan menghindari manipulasi dan kezaliman dalam bernegara. Dengan demikian, Abu Yusuf menjadi pelopor ekonomi Islam yang dengan karyanya, Al-Kharaj, menjadi rujukan utama pemikir ekonomi Islam masa-masa setelahnya. 

 

Muhammad Najib Murobbi, santri Ma'had Aly Krapyak Yogyakarta