Ibn Bajjah; Perjalanan Hidup dan Nalar Filsafatnya

Salah seorang tokoh yang tak bisa diremehkan dalam kemajuan filsafat Islam ialah Abu Bakr Muhammad bin Al-Sayigh atau yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Orang-orang Eropa pada abad pertengahan menyebutnya “Avempace”. Ibn Bajjah dilahirkan di Zaragoza pada abad ke-11 M.

Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Seville, Granada, dan Fez; menulis beberapa risalah tentang logika di kota Seville pada tahun 1118 M. 

Mengacu pada beberapa literatur, Ibn Bajjah bukan hanya seorang filsuf ansich, melainkan juga seorang saintis yang menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, astronomi, musik, dan matermatika. Fakta ini dapat diterima karena di masa itu belum terjadi pemisahan dalam suatu buku antara sains dan filsafat sehingga seseorang yang mempelajari salah satunya ‘terpaksa’ bersentuhan dengan yang lain. 

Selain menggeluti ilmu pengetahuan, Ibn Bajjah juga aktif dalam dunia politik, sehingga Gubernur Zaragoza Daulat Al-Murabith, Abu Bakar bin Ibrahim Al-Sahrawi, mengangkatnya menjadi wazir. Kehidupan politik Ibn Bajjah bisa dibilang sangat dramatis. Pasalnya, ketika Zaragoza jatuh ke tangan Alfonso I,  Raja Aragon, pada tahun 512 H/1118 M, Ibn Bajjah harus pergi tanpa tujuan yang tetap, seperti orang terusir.

Dia meninggalkan kota itu dan tiba di Seville melalui Valencia, kemudian pergi menuju Granada lalu pergi lagi ke Afrika Barat-Laut. Bisa dikatakan Ibn Bajjah adalah seorang nomaden karena dalam kehidupannya dia selalu merasa terancam, baik oleh para penguasa pada saat itu, maupun oleh orang-orang yang memusuhinya secara intelektual yang mengecapnya sebagai ahl al-bid’ah. Hal inilah yang kemudian terjadi setibanya Ibn Bajjah di Syatibah. Pada saat itu Ibn Bajjah dipenjarakan oleh Amir Abu Ishaq Ibrahim bin Yusuf bin Tasyrifin, karena dituduh sebagai ahl al-bid’ah. Akan tetapi, Ibn Bajjah dibebasakan atas desakan muridnya sendiri, bapak filsuf Andalusia termasyhur; Ibn Rusyd.

Setelah kejadian itu, Ibn Bajjah memulai babak baru kehidupannya dengan berkunjung ke kota Fez. Di kota tersebut Ibn Bajjah diangkat oleh Gubernur Abu Bakr Yahya bin Yusuf bin Tasyrifin sebagai pejabat tinggi berkat kemampuan dan pengetahuannya yang langka. Jabatan tinggi itu dipegang oleh Ibn Bajjah selama 20 tahun. Selama menjabat sebagai pejabat tinggi di Fez, banyak sekali fenomena yang terjadi di kawasan Spanyol dan Afrika Barat-Laut pada saat itu. Yang paling menonjol ialah ketika para gubernur kota dan daerah kawasan tersebut menyatakan kemerdekaan mereka, sehingga situasi tidak kondusif dan kacau. Konflik sosial terjadi, saling tuduh, saling curiga, dan saling membidahkan pun tak bisa dihindari. Hal ini pun yang dirasakan oleh Ibn Bajjah ketika banyak sekali orang yang melontarkan tuduhan bidah kepada dirinya, sampai-sampai beberapa kali mereka berusaha untuk melakukan pembunuhan berencana terhadap Ibn Bajjah. Percobaan pembunuhan tersebut kemudian benar-benar terjadi dan berhasil membunuh Ibn Bajjah ketika Ibn Zuhr, seorang dokter termasyhur pada saat itu, berhasil membunuhnya dengan cara memberikan racun pada bulan Ramadan tahun 533 H/1138 M di Fez.

Di balik kisah hidupnya yang memilukan, tidak diragukan lagi bahwa Ibn Bajjah adalah sosok yang mumpuni dalam banyak bidang, antara lain matematika, astronomi, musik, ilmu pengobatan, ilmu logika, dan terutama yang akan menjadi fokus pembahasan pada bagian ini; filsafat. Kontribusinya dalam bidang filsafat cukup signifikan dalam menggerakkan roda perkembangan filsafat Andalusia pada saat itu. T. J. De Boer ketika membahas Ibn Bajjah di dalam History of Philosophy in Islam mengatakan bahwa karakteristik pemikiran filsafat Ibn Bajjah mirip dengan Al-Farabi. Sebagai contoh, ketika membahas persoalan logika, Ibn Bajjah nyaris tidak dapat dibedakan dari Al-Farabi. Bahkan teori-teori fisika dan metafisikanya sebagian besar sepakat dengan pandangan gurunya tersebut. 

Ibn Bajjah banyak bersandar kepada hasil rumusan logika dan filsafat melalui karya-karya Al-Farabi, namun jelas bahwa dia telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karya itu dan dalam penelitiannya Ibn Bajjah menggunakan pendekatan yang benar-benar lain dari gurunya. Sebagai contoh, Ibn Bajjah berusaha untuk menjawab permasalahan-permasalahan filsafat hanya berdasarkan nalar semata dan inilah yang membedakannya dengan Al-Farabi. Di sisi lain, Ibn Bajjah juga sangat menggemari pemikiran filsafat Aristoteles, yang di atasnya kemudian dia membangun sistemnya sendiri. 

Sebagai seorang yang sangat memiliki concern terhadap filsafat Aristoteles, Ibn Bajjah telah banyak mensyarahi karya-karya Aristoteles. Uraian-uraian ini merupakan bukti yang jelas bahwa dia mempelajari teks-teks karya Aristoteles dengan sangat teliti, sehingga dalam mengembangkan pemikiran filsafatnya Ibn Bajjah juga memiliki karakteristik yang sama seperti filsafat Aristoteles, misalnya Ibn Bajjah mendasarkan pemikiran metafisika dan psikologinya pada fisika, dan itulah sebabnya dalam tulisan-tulisan Ibn Bajjah dipenuhi dengan wacana-wacana mengenai fisika. Ibn Bajjah sendiri, seperti yang diinformasikan oleh Muhammad Shagir Hasan Al-Ma’sumi, telah menuangkan pemikirannya dalam sebuah tulisan yang berjumlah 11 judul buku.

Demikian sekilas pembahasan tentang Ibn Bajjah dilihat dari perjalanan hidupnya yang sangat dramatis sekaligus memilukan serta dilihat dari karakteristik pemikiran filsafatnya. Sebenarnya, masih banyak dimensi yang belum terungkap mengenai sosok Ibn Bajjah secara utuh. Namun demikian, di sini perlu kembali ditegaskan bahwa sebagai seorang tokoh besar Ibn Bajjah telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu filsafat, ilmu logika, matematika, fisika, dan ilmu pengobatan. 

 

Bakhtiar Yusuf, Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga