Pedro Casaldaliga: Questions on the Ascent and Descent of Mount Carmel

Pada 22 Februari 2018, sebagian besar tamu dari Amerika Latin terutama dari komunitas-komunitas dan institusi-institusi di Mato Grasso datang ke Centro Comunitario di Sao Felix, Araguaia, Brasil, merayakan misa syukur ulang tahun ke-90 dan ke-50 tahun kehadiran Mgr. Pedro Casaldaliga di pedalaman Amazon Brasil. 

Pedro Casaldaliga atau dalam bahasa Catalan Pere Casaldaliga i Pla, adalah seorang Spanyol-Catalan, yang lahir di tepi sungai Llobegrat, Balsareny-Spanyol, pada 16 Februari 1928. Dia ditahbiskan menjadi imam misionaris Claretian pada 31 Mei 1952. Keinginannya bermisi ke periferi terpenuhi pada 26 Januari 1968, yakni ke Brasil. Seusai empat bulan menjalani formasi interkultural di Centro da fomacao Intercultural (CENFI), dia dan Manuel Luzon berangkat ke Mato Grosso. Casaldaliga dikenal karena keterlibatannya dalam perjuangan pembebasan Brasil, khususnya revolusi Nikaragua.

Pembebasan di Brasil tak bisa dilepaskan dari paradigma teologi pembebasan sebagaimana yang diusung oleh Gustavo Gutierez, “Penyelamatan bukanlah suatu upaya yang bersifat pribadi dan perseorangan, melainkan komunal dan publik. Bukanlah penyelamatan jiwa orang per orang, melainkan penebusan dan pembebasan rakyat yang diperbudak.” Sayangnya, perjuangan pembebasan melawan struktur pemerintahan tidak sepenuhnya didukung oleh Gereja. 

Rupa-rupanya, analisis marxis yang digunakan untuk membaca realitas kemiskinan dicurigai sebagai antek komunis, akar ateisme. Padahal, ketakutan itu lebih pada kecemasan golongan penguasa atas cita-cita komunis: penghancuran para kapital negara yang banal dalam mengeksploitasi manusia. Tak heran perjuangan pembebasan di Brasil yang menuai kecaman dari kelompok rohaniawan konservatif juga didukung aparatur pemerintahan.

Pengalaman-pengalaman yang tidak mudah ini membuat sebuah protes yang frontal, diterapkan langsung di lapangan, akhirnya menjadi “nyanyian sunyi seorang bisu”. Mereka hanya mampu berbicara, memprotes, dan memberontak terhadap diri sendiri. Ada yang kemudian memilih untuk menyampaikan protes dalam bentuk lukisan semisal Maximino Cerezo Barredo, namun ada yang berteologi melalui puisi, salah satunya ialah Pedro Casaldaliga.

Questions on the Ascent and Descent of Mount Carmel

 “No through way here now.”

To where is there no way?

If we dont have their wine, will chicha not do?

Will those who go with us, live to see the day?

How can we have a party, if we haven’t any bread?

What path will you take to heaven, other than earth?

For whom will you go to Carmel, if you go up and don’t come down?

Will the balm of the law, heal our old wounds?

Are the kings  battle’s fought with flags or lives?

Does mission find its harvest in the curia or in the street?

If you let the Wind be still, what will you hear in the prayer?

Without hearing the voice of the Wind, what words will you bear?

What will your offering be, is not yourselves in what you give? If you let hope and truth, Yield to the Empire’s sway, who will tell the mistery of the fullness of freedom?

If the Lord is bread and wine, and the Way that we walk,

And “paths are made by walking”,

what paths you want to find?

 

Puisi Questions on the Ascent and Descent of Mount Carmel ini bila ditelisik ke dalam, berisikan protes terhadap dua institusi: pertama, terhadap kondisi sosiologis dari Brasilia, dan kedua, terhadap corak eklesial yang apatis terhadap penderitaan rakyat. Puisi ini selalu diakhiri dengan tanda tanya. Pada alinea pertama disebutkan “No through way here now.” To where is there no way? 

Setiap alinea yang berakhir dengan tanda tanya mengungkapkan peziarahan masyarakat Amerika Latin yang mengarungi samudra ketidakpastian. Mereka berziarah ke tempat yang tidak diketahui, yang tidak dapat diramalkan, there is "no through way" ready made "here". Sebuah navigasi pentakostal yang kandas pada rerumputan mafia struktural yang temporal. Konsekuensinya, Masa depan yang sejatinya tak dapat diduga pun kini diprediksi dengan sikap pesimis. 

Dalam puisinya yang lain, Pedro Casaldaliga juga menyebutkan peziarahan misteri ini. Namun demikian, yang diungkapkan ialah perjalanannya sendiri sebagai ‘nabi’ bagi umatnya. Misalnya dalam puisinya Propésito, dia katakan “Saya akhirnya akan berjalan... sendirian, di manapun” (por fin ocharé a andar...solo, por donde sea). Peziarahan yang akhirnya membuat dia sendiri merasa lelah, ya mo estaba cansando.

Pada alinea kedua menggambarkan secara cukup jelas posisi ideologinya sebagai seorang realisme sosialis, If we dont have their wine, will chicha not do? Wine atau anggur merupakan minuman khas Eropa. Termin tersebut merepresentasikan kultur termasuk pola hidup Eropa yang perlahan memengaruhi masyarakat pribumi. Mereka menyerap budaya Eropa tanpa difilter terlebih dahulu. Akhirnya, mereka tidak hanya dijajah dalam artian eksploitasi materi, tetapi juga dijajah secara budaya. 

Ajakan menggunakan chicha (semacam sari buah yang mengandung alkohol) sebagai pengganti wine ialah kembali pada kekayaan tradisi sendiri. Merasa bangga dengan diri sendiri. Bagi Pedro Casaldaliga, anggur juga bermakna kehidupan masyarakat di belahan dunia I yang tak lain simbol dari kapitalisme.

Casaldaliga bertanya, berapa banyak orang yang mati sebelum waktu, tanpa melihat hari yang dituju? Berapa banyak orang harus hidup, berjuang, dan mempertanyakan kebenaran, sedangkan Gereja tidaklah tampak sebagai sakramen di hari ini dan kristianitas tidak menjadi komunitas yang memberi kesaksian. Kita harus menyadari bahwa tak ada jalan ke surga selain daripada bumi. Hanya di dalam sejarah kita bisa menyambut dan berharap pada Tuhan, karena di surga kelak, tidak ada lagi kata memercayai atau berharap. Kita pergi ke gunung Karmel, namun kita tidak lekas turun.

Pengalaman bermisi membantu Casaldaliga untuk menyadari bahwa sulit untuk dapat keluar dari luka lama. Masyarakat Amerika Latin tidak hanya ditindas oleh kolonialisasi, militer, maupun aparat pemerintahan, tetapi juga agama dan budaya. Maka termin “balm of law” merujuk pada aturan-aturan yang mengontrol, sistem monopilitik yang sentralistik, dan ditambah dengan uniformitas yang membunuh kebebasan pribadi. 

Akhirnya, Casaldaliga menyadari bahwa orang tidak dapat mendengar suara Allah, tanpa mendengar tangisan kaum miskin dan jeritan ciptaan. Dari kedalaman puisi inilah kita menjadi sadar bahwa Pedro Casaldaliga melakukan sebuah perjuangan yang merupakan hasil perbincangan dengan diri sendiri, di kedalamannya sendiri. Maka pembebasan yang diusung oleh Casaldaliga merupakan pembebasan yang tidak hanya melulu sosialis, melainkan pula pembebasan yang berhasil mengakarkan diri pada spiritualitas pembebasan. 

Ernesto Cardenal pada catatan awal buku Casaldaliga “The Spirituality of Liberation” menulis, “teologi pembebasan harus menghasilkan spiritualitas pembebasan. Spiritualitas ini berbeda dengan spiritualitas tradisional yang dibawa oleh orang-orang tua. Spiritualitas yang secara radikal berbeda dengan orang-orang yang menutup mata terhadap situasi sosial dan politik. Ini merupakan sebuah spiritualitas yang realis tidak teoritis. Dan ini bukanlah sebuah spiritualitas borjuis yang di situ orang kaya menguasai kelas-kelas”. Cardenal sendiri menyadari bahwa kecendrungan praksis pada gagasan ataupun puisi dari Pedro Casaldaliga juga lahir dari sebuah kontemplasi yang mendalam dan berbeda, dia menyebutnya sebagai, contemplation in liberative action, in reality and in the present, in the changing circumstances of our peoples. Dengan demikian, tepatlah bila kita menyebut Pedro Casaldaliga sebagai seorang realisme sosialis yang mengakar pada spiritualitas pembebasan manusia, a espiritualidade é patrimonio de todos os seres humanos.

Santo Oscar Romero sebelum kematiannya mengatakan, “Si me matan, resucitare en la lucha de mi pueblo”, (Jika mereka membunuhku, aku akan dibangkitkan dalam perjuangan umatku). Entah mengapa, semakin banyak persoalan menyangkut kemanusiaan, semakin banyak pula orang-orang berjiwa patriot humanis berteriak mengenai pembebasan manusia.

Ceritanya terus bersambung. Casaldaliga telah menjadi sosok yang rentan. Jika cerita perjuangan mereka dikenang sebagai nostalgia perjuangan pembebasan, maka kata Pramoedya, “kita hanyalah orang-orang yang mengikuti peradaban tanpa mengisi peradaban”. Pedro Casaldaliga sendiri berpegang pada semangat pengutusan, “Misionaris hanya akan merasa lelah ketika dia berhenti berjalan”. Namun pertanyaannya, mengapa kemunculan orang-orang seperti mereka yang giat memperjuangkan martabat manusia selalu menjadi bermakna seratus tahun kemudian? 

 

Petrus Pit Duka Karwayu, cmfMahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta