Pencarian Rohani Hamzah Fansuri

Lelaki itu terkenal sebagai ustaz muda pendatang baru. Ia belum lima tahun belajar agama secara serius. Akan tetapi, fans-nya sudah cukup banyak, lebih-lebih di media sosial. Mungkin mereka terpesona dengan penampilan dan retorikanya.

Suatu hari, ia bertamasya ke Tiongkok. Karena ingin mengamati kehidupan beragama di negeri Tirai Bambu itu, secara random ia mewawancarai orang-orang yang ditemuinya tentang makna agama. Salah seorang “sasarannya” ialah kakek pemilik toko kerajinan tangan khas Tiongkok.

Alih-alih menjawab pertanyaan Pak Ustaz, kakek tersebut justru mengajaknya keluar toko.

“Apa yang Anda lihat?”

Dalam kondisi bingung terheran-heran, Pak Ustaz menjawab, “Saya melihat jalan raya. Orang-orang berlalu-lalang. Deretan bangunan. Marka lalu lintas. Seliweran kendaraan.”

“Apa lagi?”

“Pepohonan.”

“Apa lagi?”

“Angin yang berembus.”

Sang kakek lantas merentangkan kedua tangannya. Bibir rapat. Kedua sudutnya melengkung ke atas. Mata ditutup. “Itulah agama bagi kami,” ujarnya.

Kenapa ia tidak mengajak Pak Ustaz untuk melihat-lihat kitab sucinya, patung dewa-dewinya, atau rumah ibadahnya? Jawaban kita temukan dalam biografi spiritual Hamzah Fansuri, seorang ulama besar Nusantara abad ke-16. A. Teeuw, kritikus sastra Indonesia dari Belanda, menyanjung Jauhar Barus tersebut sebagai sang pemula puisi Indonesia modern.

Dalam salah satu untaian syairnya, Fansuri bertutur tentang pencarian rohaninya.

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait al-Ka'bah

Di Barus ke Quds terlalu payah

Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Bait yang padat ini mengisyaratkan bahwa awalnya, pandangan keagamaan Fansuri seperti Pak Ustaz dalam cerita di atas. Realitas kehidupan terbagi dan terbelah dua. Ada wilayah agama, ada pula wilayah nonagama. 

Tuhan diyakini hanya tinggal di rumah ibadah. Kalau ditanya tentang agama, yang ditunjuk ialah “kitab” Alquran, masjid, dan simbol-simbol keagamaan (sya'airullah) yang lain. Untuk memperoleh gelar ustaz atau kiai, kita cukup mengenakan gamis, serban, dan peci haji, serta membawa tasbih ke mana-mana, dan rajin memberi petuah dengan mengutip secara fasih sedikit saja hafalan ayat dan hadis.

Bertumpu pada paradigma demikian, kita mencari Tuhan hanya di dalam masjid. Dalam jangka panjang, pencarian eksklusif seperti ini bisa menimbulkan efek samping destruktif: ibadah ritual mengalahkan rasa kemanusiaan. Agama bercerai dari pasangan identiknya, yaitu cinta. 

Jika itu terjadi (apakah kini sedang terjadi?), maka sebagaimana tecermin melalui tingkah laku kita, yang kita anggap saudara hanyalah orang-orang seagama. Bahkan, lebih sempit lagi: orang-orang sealiran akidah, orang-orang semazhab fikih, atau hanya orang-orang seormas keagamaan.

Manusia yang kebetulan tak memeluk Islam diperlakukan bukan sebagai saudara yang harus dimengerti, dihargai, dan dihormati. Bersandar kukuh pada dalil-dalil suci yang dimaknai secara harfiah, kita lantas memonopoli keselamatan jiwani, cinta Ilahi, dan kebahagiaan surgawi, mirip apa yang dilakukan “sebagian” umat Yahudi pada zaman Rasulullah Saw.

Apakah Tuhan, Sang Tak Terbatas yang Mahabesar, hanya ada di dalam masjid? Hamzah Fansuri mencari Tuhan di Masjid Al-Haram, Arab Saudi. Ia pun mencari-Nya di Masjid Al-Aqsha, Quds, Palestina. Fansuri mencari dari masjid ke masjid. Hanya saja, ia tak menemukan Dia di sana. Maksudnya, Fansuri tak mengalami kebahagiaan sejati saat menjalankan ibadah ritual secara mekanis dan epigonistis.

Karena itu, ia kemudian menggali jauh ke dalam diri. Sangat bisa jadi, Fansuri bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan ini: Hakikatnya, di mana Tuhan? Di mana kebahagiaan sejati? Apa tujuan puncak meyakini adanya Tuhan yang Esa? Apa makna agama dan beragama? 

Setelah lama menggali, Fansuri mengerti bahwa qalbun insan ialah masjid yang sesungguhnya. Akhirnya, ia berjumpa Tuhan di dalam “rumah”, yaitu di dalam qalbun-nya sendiri. Ranggawarsita, dalam Serat Wirid Hidayat Jati, menyebut lokus batin yang sakral ini sebagai Baitul Muharram (Simuh, 1988: 238). 

Kalau kita membuka Alquran terjemahan dan kitab-kitab hadis terjemahan, kata qalbun biasanya diartikan secara dangkal dan pukul rata sebagai ‘hati’. “Hati” lantas cenderung ditafsirkan sebagai perasaan atau emosi. 

Namun demikian, Alquran mengisyaratkan bahwa pekerjaan qalbun bukan merasakan, melainkan memahami dan mengerti (QS. Al-A'raf: 179; QS. Al-Hajj: 46). Karena itulah, dikatakan bahwa qalbun merupakan wadah yang menerima dan menampung cahaya ilmu. Jika demikian, apa hakikat qalbun itu?

Saya tak hendak menjawabnya. Soal semantik itu bukan fokus artikel ini. Yang penting digarisbawahi, pekerjaan qalbun ialah memahami (to comprehend) dan mengerti (to understand). Qalbun, karena itu, merupakan instrumen epistemis yang fungsinya ialah berpikir.

Bila pada akhirnya Fansuri berjumpa Tuhan dalam qalbun-nya sendiri, maka pencarian rohani tiada lain kecuali transformasi cara berpikir, suatu pergeseran paradigma (shifting paradigm) yang radikal, revolusioner, dan menyeluruh. Betapa jauhnya jarak yang membentang di antara paradigma kufur dan paradigma syukur, di antara paradigma benci dan paradigma cinta, di antara paradigma keterpisahan (dualisme/dikotomi) dan paradigma keutuhan (tauhid), serta di antara paradigma sekuler dan paradigma religius.

Kakek dalam cerita di atas mengajarkan paradigma religius kepada Pak Ustaz yang “sekuler” dengan mengajaknya keluar toko. Agama, bagi sang kakek, adalah kemanunggalan realitas yang tersusun dari keragaman yang harmonis, penuh makna, dan inter-being.

Bahasa sederhananya, kalau kita senantiasa berpikir dengan sudut pandang ilahiah ('ain al-rahmah; al-'aql al-rabbany), maka kita “melihat” Tuhan di mana-mana. Seluruh segi, sisi, dan dimensi kehidupan, bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohonnya, itulah agama. 

Tuhan ada di dalam dan di luar masjid. Semesta, yang manusia tercakup di dalamnya, merupakan kitab suci yang terhampar (al-quran al-takwiny). Tindakan kemanusiaan ialah ibadah yang menambah pahala, yang menghapus dosa-dosa, dan yang nilainya tak kalah tinggi dibanding ibadah ritual. “Allah,” ujar Rasulullah, “menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

“Manusia yang menganggap ibadah sekadar jendela yang hanya kadang-kadang dibuka,” tulis Kahlil Gibran, “sebenarnya belum mengunjungi rumah jiwanya yang selalu terbuka—sepanjang masa. Hari-hari dalam kehidupan kalian adalah rumah tempat ibadah. Maka, masukilah rumah tersebut dengan segenap keutuhan diri.”

Hakikatnya, tidak pernah ada batasan mana wilayah agama dan mana wilayah nonagama. Pikiran kita sendiri yang membatasi bahwa bagian realitas yang ini ialah sakral, sementara bagian realitas yang itu ialah profan. 

Nyatanya, di dalam masjid sekalipun, kita kerap melihat politikus yang menggunakan mimbar khotbah untuk berkampanye atau untuk menjatuhkan lawan politik. Dalam sebuah riwayat populer dikisahkan, seorang pelacur masuk surga karena memberi minum anjing kehausan. 

Dalam lingkungan para preman, kadang dirasakan persahabatan yang tulus. Sementara itu, dalam lingkungan para guru, ketulusan kini merupakan mutiara yang kian langka. 

Mata keutuhan melihat perbedaan gelap dan terang sebagai ilusi belaka. Semua ialah cahaya. Kegelapan sejatinya cahaya yang belum terbongkar kedoknya. 

Jika seorang insan telah mencapai maqam keutuhan—sebagaimana Hamzah Fansuri—maka cintanya tak lagi diskriminatif. Cintanya melimpah kepada siapa saja. Bahkan, iblis pun dipeluk dengan penuh empati sebagaimana dilakukan Al-Hallaj sehingga sang martir cinta itu terlindungi dari serangan dan bisikan daya negatif.

Seperti Rabi’ah Al-Adawiyah, insan yang berada di maqam keutuhan kesadarannya telah melampaui dikotomi surga dan neraka. Ia terjaga dari dosa bukan karena tak lagi berbuat dosa, melainkan karena dosa tak lagi meruntuhkan imannya.

Cara pandang yang utuh diperoleh dengan terlebih dahulu menata kembali pikiran dan pemikiran kita. Apabila dikerjakan secara mekanis, ritual ibadah berfungsi sekadar untuk menata tingkah laku dalam lingkup yang terbatas. Bila dipahami, ditafakuri, dan dihayati maknanya, ritual ibadah menjadi sarana efektif untuk membentuk ketertataan pikiran dan pemikiran. 

Melalui kesinambungan perenungan kritis dan mendalam untuk mencari apa yang abadi (lubb) dalam keragaman hal-hal fana (qisyr), perlahan-lahan kita melakukan shifting paradigm. Dalam proses transformasi tersebut kita menanggalkan paradigma keterpisahan, lebih tepatnya ketercerai-beraian, yang mengundang penderitaan (syaqawah) untuk kemudian mengenakan paradigma keutuhan yang memberikan kebahagiaan (sa'adah). 

Itulah sebabnya, Islam mendorong umatnya untuk melakukan perenungan. Jasser Auda, pakar maqashid al-syari'ah dan maqashid al-'aqa'id, dalam syarahnya terhadap kitab Al-Hikam Ibn ‘Atha-illah, mengutip sebuah hadis: “Tafakur dalam sehari lebih baik daripada salat selama 60 tahun”.

Dari syair Hamzah Fansuri kita belajar bahwa Tuhan “ditemukan” setelah kita mengadakan perjalanan intensif ke dalam diri dalam rangka membangun cara pandang yang utuh, tak dualistis, dan tak terbelah. Tafakur menyembuhkan penderitaan berkepanjangan yang ditimbulkan oleh pikiran dan pemikiran yang salah tentang hakikat realitas.

Saya teringat sebuah anekdot. Ceritanya, sang raja sakit parah. Berbulan-bulan terbaring di ranjang. Semua tabib kerajaan sudah berupaya mengobati. Akan tetapi, obat mereka tak mujarab. 

Mahapatih kemudian mengumumkan sayembara. Siapa pun yang berhasil menyembuhkan raja akan diberi emas berlimpah, rumah mewah, dan jabatan tinggi. 

Seorang darwis, yang tinggal di pelosok kerajaan, menyambut sayembara tersebut. Sesudah mendiagnosis penyakit sang raja, darwis itu menulis resep. Dia pun berkata, “Obat tak berkhasiat bila terapi tak dilakukan.”

“Apa terapinya?” tanya raja.

“Semua yang Paduka lihat harus berwarna hijau.”

Raja menuruti nasihat darwis. Seminggu kemudian, dia benar-benar sembuh. Dia pun menyelenggarakan syukuran. Si darwis diundang ke istana sebagai tamu kehormatan. 

Saat melihat gerbang istana, ia kaget. Gerbang berwarna hijau. Istana berwarna hijau. Pakaian semua pejabat, prajurit, dan abdi dalem juga hijau. Bahkan, kulit dan rambut mereka dicat hijau.

“Kenapa seisi istana berwarna hijau, Paduka?” tanya darwis.

“Lho, ini 'kan terapi yang Anda sarankan. Dan saya sembuh berkat resep dan terapi Anda.”

“Saya memang mengatakan bahwa apa pun yang Paduka lihat harus berwarna hijau. Tapi, Paduka tak perlu menghijaukan seluruh isi istana begini.”

“Lho, memang ada cara lain?”

“"Tentu. Paduka cukup memakai kacamata berwarna hijau.”

Mencari Tuhan cukup dengan mentransformasikan pikiran, dari dimensi materi yang tercerai-berai naik ke dimensi spiritual yang sarwa utuh, sarwa manunggal. Dalam ungkapan para guru tasawuf, cukup dengan membersihkan hati. Dengan demikian, kita menemukan Tuhan di mana-mana. 

Bukan hanya Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha yang “berwarna hijau”. Bukan hanya kitab suci, rumah ibadah, dan simbol-simbol keagamaan lain yang “berwarna hijau”. Jalan raya, deretan bangunan, orang yang lalu lalang, marka lalu lintas, pepohonan, dan angin berembus pun “berwarna hijau”. 

Seluruh segi, sisi, dan dimensi kehidupan ialah agama. Seluruh waktu ialah momen ibadah. Seluruh bagian bumi ialah masjid. Seluruh ciptaan ialah ayat-ayat suci-Nya. Maka, kita dianjurkan berbuat baik, ber-laku becik, atau beramal saleh di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun, dan dalam kondisi bagaiamana pun. Bukankah tujuan kehadiran agama itu untuk mengajari dan membimbing umat manusia menjalankan kebaikan yang universal dan inklusif?

Rahayu. Rahayu. Rahayu.

 

Widodo,masyarakat biasa