Yang Ditentang Agama (Islam)

Agama adalah seperangkat ajaran yang mengatur manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Oleh karenanya, adanya suatu agama itu berkaitan erat dengan keyakinan (keimanan) terhadap Tuhan. Keyakinan terhadap hal yang tidak bisa dijangkau oleh indra manusia itu merupakan kepercayaan yang kemudian menimbulkan sikap penghambaan terhadap yang tak terjangkau tersebut. Kepercayaan tersebut lantas mengimplementasikan praktik-praktik ritualistik yang kemudian membentuk suatu aliran (agama).

Islam, sebagai sebuah agama, tidak sesederhana itu. Islam memang menyeru adanya praktik-praktik ritualistik tersebut. Akan tetapi, Islam tidak hanya menyembah Tuhan. Ada serangkaian ajaran yang menjadi manifestasi penyembahan terhadap Tuhan. Ajaran-ajaran tersebut berupa kebajikan moral atau keluhuran budi yang dipraktikkan dalam bentuk moralitas. Dengan demikian, Islam tidak hanya mengatur keterhubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga antara sesama manusia, bahkan antara manusia dengan lingkungannya dan alamnya.

Islam lahir di tanah kerontang Jazirah Arab. Ia didakwahkan oleh Rasulullah Muhammad Saw dengan materi risalah yang menentang spiritualisme masyarakat Arab kebanyakan, yakni penyembahan terhadap berhala (paganisme). Ajaran paganisme tersebut benar-benar ditentang oleh Rasulullah Saw karena bertolak belakang dengan ajaran yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As, yakni ketauhidan.

Hal ini mengindikasikan bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw merupakan suatu keyakinan kepada Tuhan yang bertentangan dengan tuhan-tuhan milik masyarakat Arab. Artinya, Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw itu merupakan seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya.

Karena perbedaan keyakinan antara Rasulullah Saw dengan masyarakat Arab tersebut, maka terjadilah gesekan yang memercikkan konflik. Hal itu sudah lazim terjadi sebagaimana para nabi terdahulu ketika mendakwahkan ketauhidan, bertuhan hanya kepada Allah, maka kaum mereka menolak karena perbedaan keyakinan tersebut.

Akan tetapi, sejatinya perbedaan keyakinan tersebut tidak menjadi suatu perkara yang sangat berat di masa Rasulullah Saw. Masyarakat Arab, meskipun menyembah berhala, namun mereka itu, sebagaimana yang dikatakan Taha Husein, sinis terhadap berhala. Mereka tidak sepenuhnya bertuhan kepada berhala karena berhala menjadi perantara untuk mendapatkan keberuntungan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. 

Dengan demikian, pada dasarnya mereka apatis dalam hal keimanan. Buktinya, mereka tidak mempermasalahkan agama dari masing-masing penduduk Mekkah. Di Mekkah, terdapat beberapa agama, selain paganisme, tentunya. Ada Nasrani, Yahudi, Zoroastrianisme, dan agama-agama lokal lainnya. Tidak ada gesekan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama atau keyakinan. Konflik mereka hanya karena kesukuan sehingga antara satu suku dengan suku lainnya berperang jika tidak berkoalisi.

Terlebih lagi, menurut Ali Husni Al-Kharbuthli, masyarakat Arab menjelang kedatangan Islam, mempunyai peradaban dan moralitas yang baik. Memang benar bahwa masa itu disebut jahiliah, namun jahiliah tersebut tidak mengindikasikan kebodohan masyarakat Arab secara keseluruhan. Kejahiliahan mereka itu karena menyembah berhala, namun mereka juga sinis terhadap berhala. Selain itu, penyebutan jahiliah itu juga sekadar penamaan sebagai suatu masa sebelum Islam datang di tanah Arab.

Oleh karena itu, seandainya dakwah Rasulullah Saw hanya mengenai ketauhidan, maka penolakan yang didapatkan tidak seberat sebagaimana yang digambarkan oleh sejarah. Sejarah menggambarkan bahwa dakwah Rasulullah Saw itu sangat berat. Risiko yang didapatkan oleh Rasulullah Saw pun besar. Luka, intimidasi, bahwa ancaman pembunuhan dan itu hampir berhasil. Sederhananya, nyawa ialah taruhannya.

Lantas, apa yang menjadikan dakwah tersebut sangat berat sebagaimana yang digambarkan oleh sejarah?

Jawabannya ialah bahwa Rasulullah Saw mengampanyekan prinsip keadilan sehingga mengganggu para elite Mekkah. Rasulullah Saw menerapkan prinsip keadilan sosial dan ekonomi. Itulah yang menyebabkan dakwah Rasulullah Saw tentang Islam sangat ditentang dan mendapatkan penolakan sedemikian keras hingga risikonya sangat tinggi untuk keselamatan jiwa dan raga.

Andai saja yang didakwahkan oleh Rasulullah Saw itu sekadar ketauhidan, maka perkaranya tidak menjadi sangat sulit. Akan tetapi, prinsip keadilan itulah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw sehingga mengancam kedudukan para elite Mekkah yang tengah menikmati status quo.

Prinsip keadilan secara sosial benar-benar diajarkan oleh Rasulullah Saw sehingga dalam ajaran Islam tidak ada stratifikasi sosial. Semua manusia dianggap sederajat, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada pula yang lebih rendah. Inilah hal yang diotak-otik oleh Rasulullah Saw sehingga mengancam kedudukan para pembesar di Mekkah. Para pembesar di Mekkah mengecam keras prinsip keadilan sosial tersebut. Mereka khawatir jika posisi nyaman mereka terusik akibat agama baru yang tidak hanya mengurusi persoalan teologi itu.

Di sisi lain, para budak tertarik untuk mengikuti seruan Rasulullah Saw sehingga terjadi gelombang syahadat yang bertubi-tubi. Hal ini menjadikan ketimpangan bagi para pembesar sehingga budak-budak mereka diberikan deraan siksa. Lihatlah betapa Bilal mendapatkan cedera. Ammar bin Yasir hingga ngelindur murtad. Masih banyak lagi budak Muslim yang mendapatkan siksa dari majikan mereka karena para budak tersebut mengikuti seruan Rasulullah Saw.

Pertanyaannya, mengapa para budak tersebut tertarik untuk memeluk Islam? Kembali lagi bahwa Islam tidak mengajarkan stratifikasi sosial. Budak tidak dibedakan dengan orang berdarah biru, bangsawan, atau terhormat. Abu Bakr yang bangsawan kaya bisa duduk sama tinggi dengan Bilal bin Rabah yang budak negro. Oleh karena itu, Islam menjadi daya tarik bagi mereka yang berada di kelas bawah.

Tidak hanya itu, Islam juga memberikan banyak iming-iming kepada umatnya untuk membebaskan budak. Bahkan banyak kafarat yang dikenakan itu berupa membebaskan budak, salah satunya ialah bagi orang yang melakukan hubungan badan suami-istri di siang bulan Ramadan. Walhasil, Islam turut dalam penghapusan perbudakan yang ketika itu paling tidak sudah mampu mengurangi praktik perbudakan hingga angka yang lumayan drastis. Kini, diketahui bersama bahwa dunia ini tidak ada satu negara pun yang menyetujui perbudakan.

Sementara itu, para musyrik Quraisy, terutama para pembesar dan elite Mekkah, merasa terusik dan terancam dengan adanya ajaran keadilan sosial yang diserukan oleh Rasulullah Saw. Mereka menikmati kedudukannya sehingga jika ada kesetaraan, maka mereka akan kehilangan kedudukan yang nyaman tersebut. Mereka pun melawan. Selain menyiksa para budak mereka yang masuk Islam, mereka juga memperlakukan umat Islam yang masih sedikit itu secara sewenang-wenang. Bahkan, Rasulullah Saw sendiri kerap kali mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dan kasar.

Para elite memang mempertahankan posisi mereka yang nyaman dalam masyarakat. Mereka gemar diistimewakan sehingga ketika datang ajaran yang menerapkan keadilan sosial, maka hal itu menjadi ancaman utama. Oleh karenanya, dakwah Rasulullah Saw itu bukan sekadar perkara tauhid, melainkan juga menyentuh setiap sendi kehidupan masyarakat untuk memperbaiki kesenjangan sosial.

Di lain pihak, para elite Mekkah masih tetap merasa nyaman dengan status quo. Lihatlah perlakuan mereka terhadap Wahsyi, mantan budak yang dimerdekakan oleh Hindun bin ‘Utbah setelah berhasil membunuh Hamzah, paman Rasulullah Saw, dalam perang Uhud yang tengah berkecamuk. Meskipun Wahsyi sudah merdeka, tetap saja dia mendapatkan perlakuan yang berbeda dari para elite Mekkah. 

Suatu ketika, Wahsyi yang sudah merdeka itu mendatangi forum para elite Mekkah. Ketika dia datang di forum tersebut, dia justru malah diusir. Mereka memandang bahwa Wahsyi itu tidak pantas duduk bersanding dengan para elite lantara dia merupakan mantan budak. Dengan demikian, betapa para elite tersebut membuat sekat-sekat tebal antara mereka yang bangsawan dan mereka yang jelata.

Ada sebuah kisah menarik yang mengilustrasikan betapa Islam itu mengajarkan keadilan sosial berupa kesetaraan sesama manusia. Ketika itu, Rasulullah Saw tengah mendakwahkan Islam kepada para elite Mekkah seperti Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal, Walid bin Mughirah, dan lainnya. Tiba-tiba, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang yang buta, yang meminta pengajaran dan nasihat dari Rasulullah Saw tentang Islam.

Rasulullah Saw sejatinya merasa tidak nyaman hingga beliau bermuka masam karena Abdullah bin Ummi Maktum dirasa mengganggu dakwahnya kepada para elite Mekkah. Tidak hanya itu, bahkan Rasulullah Saw juga sempat merasa tidak suka karena yang didakwahi ialah para elite Mekkah, sementara Abdullah bin Ummi Maktum dari kalangan masyarakat bawah. Tentu saja kedudukan sosial tersebut menjadi salah satu persoalan lain sehingga Rasulullah mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta tersebut.

Allah lantas menegur Rasulullah Saw dengan surah ‘Abasa. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun Abdullah bin Ummi Maktum itu bukan merupakan elite Mekkah, tetap saja dia tidak boleh diabaikan. Antara para elite dengan Abdullah bin Ummi Maktum pun tidak ada perbedaan dalam Islam secara sosial. 

Demikian itulah contoh prinsip keadilan sosial yang dikampanyekan Islam. Para elite Mekkah yang tengah nyaman berada di kemapanan secara sosial, mereka sangat terusik. Rasulullah Saw mengotak-atik keadilan sosial tersebut sehingga seperti menyiram lubang semut dengan air, maka berhamburlah dan marah para semut yang ada.

Selain mengotak-atik keadilan sosial, Rasulullah Saw juga mengampanyekan keadilan ekonomi. Ini juga tidak kalah mengusiknya dari keadilan sosial. Mereka yang enggan mengeluarkan hartanya pun memalingkan muka. Mereka yang gemar menimbun kekayaan dan bahkan memonopolinya secara egois, dengan adanya kampanye keadilan ekonomi yang digaungkan oleh Rasulullah Saw tersebut, mereka merasa begitu resah dan terganggu.

Lihatlah bagaimana Islam menerapkan prinsip keadilan ekonomi. Orang-orang kaya diwajibkan untuk mengeluarkan sebagian harta mereka untuk orang-orang yang layak menerimanya. Zakat mal dan zakat fitrah diwajibkan, orang-orang yang bersedekah diiming-imingi dengan kemuliaan, teologi kemakmuran mendapatkan dalil dari nas, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, beberapa kafarat pun dialokasikan dengan mengeluarkan sebagian harta untuk kaum papa. Orang yang tidak mampu menunaikan puasa Ramadan, jika tidak mampu meng-qadla-nya, maka ia diwajibkan untuk membayar fidiah kepada orang-orang yang kurang mampu. Orang yang ingin mencabut zhihar pun diwajibkan mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang kurang mampu dengan kadar tertentu. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Hal itu tak lain dan tak bukan bahwa Islam menggaungkan semangat keadilan secara ekonomi. Hal ini kemudian dilaksanakan secara ketat oleh Abu Bakr Al-Shiddiq dan Umar bin Khatthab sepeninggalan Rasulullah Saw. Lihatlah bagaimana geramnya Abu Bakr saat menjumpai orang-orang yang enggan membayar zakat. Abu Bakr, yang kemudian didukung oleh Umar, memerangi orang-orang tersebut. 

Lihat pula bagaimana Umar mewajibkan orang-orang kaya menyumbangkan sebagian harta mereka demi menyeimbangkan kondisi masyarakat secara ekonomi. Umar pun berhasil membangun dan mengatur baitul mal dengan ketat.

Itulah ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah Saw. Keadilan secara sosial dan ekonomi tersebut sama-sama membuat tidak nyaman masyarakat Mekkah ketika itu sehingga dakwah Islam mendapatkan penolakan yang sangat keras. Sebagaimana yang telah disebutkan, keadilan sosial dan ekonomi inilah faktor kuat yang ditentang oleh masyarakat Mekkah. Sebaliknya, ketidakadilan secara sosial dan ekonomi inilah yang ditentang oleh agama Islam.

 

Supriyadi, penulis biasa