Cinta yang (Tak Lagi) Ambyar

Didampingi seniornya, seorang psikiater magang berkeliling rumah sakit jiwa untuk observasi dan orientasi. Di sebuah taman, dia melihat orang yang sedang bermain ayunan. "Lulu, Lulu, Lulu," gumamnya, sambil menatap jauh. 

"Siapa dia?" tanya psikiater muda kepada seniornya. 

"Dia lelaki yang cintanya ditolak Lulu."

Mereka berjalan lagi, melanjutkan observasi. Di salah satu kamar, psikiater muda menyaksikan lelaki lain yang berdiri memandangi dinding. Dengan batu bertepi tajam, dia mengguratkan nama Lulu berulang kali pada dinding. Dia juga bernyanyi dengan emosi dan nada yang tak menentu. Liriknya: Lulu, Lulu, Lulu....

Psikiater muda penasaran. Sekali lagi dia bertanya, "Ini siapa lagi? Kok dia menyebut-nyebut Lulu juga?"

"Oh, lelaki itu. Dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."

Anekdot yang sederhana tapi menghentak ini menjelaskan makna terdalam cinta. Kita—apalagi yang belum menikah—kerap mengira bahwa cinta sepasang insan menuntut persatuan dua jiwa, kalau bisa selamanya.

Jika makna cinta selugu dan selurus itu, kisah-kisah cinta abadi tidak akan ditulis para pujangga. Bila dicermati, semua kisah itu berbicara tentang cinta yang pahit. Tidak ada kisah cinta berfilosofi luhur yang berakhir manis. 

Kisah cinta FTV dan telenovela berujung manis. Akan tetapi, ia tak mengandung filsafat yang membantu kita menjalani hidup lebih baik. Filosofi luhur ialah harta karun yang tersimpan rapat dalam kisah-kisah cinta yang pahit: Romeo-Juliet, Laila-Majnun, Sampek-Engtay, Rara Mendut-Pranacitra, Minke-Annelis, dan sebagainya.

Setelah perjuangan luar biasa, Romeo gagal bersatu dengan Juliet. Majnun merangkak-rangkak mengejar Laila. Yang dikejar-kejar pun menjemput kekasihnya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi, bagi mereka, persatuan merupakan harapan yang tak dikehendaki kenyataan. 

Sekeras apa pun upaya Sampek  untuk hidup bersama Engtay, mereka terpaksa takluk di bawah kuasa takdir yang bertitah lain. Sementara itu, betapa remuknya hati Rara Mendut dan Pranacitra saat kenyataan menentukan bahwa mereka tak akan saling memiliki. Selamanya.

Satu lagi. Annelis, sang bunga akhir abad, bidadari Bumi Manusia itu, akhirnya meninggal merana di tanah seberang. Terpisah ribuan kilometer dari pahlawan hatinya, Minke. Terpisah oleh daratan dan lautan.

Apa makna di balik semua kisah cinta yang pahit itu? Lelaki yang cintanya ditolak Lulu, akhirnya gila. Lelaki yang berhasil mempersunting Lulu, akhirnya juga gila. Mereka, orang-orang kalah itu, gila bukan karena Lulu. Mereka gila karena tak paham makna yang sejati dari cinta.

Mereka memandang bahwa cinta itu tentang memiliki. Padahal, cinta bukan tentang memiliki. Bukan pula tentang tidak memiliki. Cinta bukan tentang persatuan. Bukan pula tentang perpisahan. Cinta bukan tentang kebersamaan. Bukan pula tentang kehilangan. Cinta melampaui dualisme tersebut.

"Cinta," ujar Kahlil Gibran, filsuf  dari Pegunungan Lebanon, "tidak memiliki atau dimiliki. Sebab, cinta telah cukup untuk cinta." Seniman melankolis yang berkali-kali patah hati itu melanjutkan, "Cinta tak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri".

Cinta tak mengharuskan persatuan sepasang jiwa sebagaimana ia juga tak menginginkan perpisahan. Cinta tak mewajibkan kebersamaan sebagaimana ia pun tak menyukai mimpi buruk kehilangan. Kehendak cinta hanya satu: mewujudkan maknanya.

Dibolak-balik bagaimana pun, mencari jawaban dari siapa pun, kita akan menemukan bahwa makna cinta ialah ikhlas, dengan seluruh dahan, cabang, dan ranting hikmahnya. Cinta datang untuk mengilhami kita sebuah kata surgawi yang tersusun dari enam huruf: i-k-h-l-a-s. Inilah kata keramat yang membebaskan kita dari derita yang konyol, dari air mata yang tumpah sia-sia, juga dari neraka batin yang apinya dinyalakan dengan tangan sendiri.

Dalam dimensi keikhlasan, baik persatuan maupun perpisahan, itu merupakan pelajaran yang sama bermakna, sama berharga. Persatuan-dalam-cinta mengajari kita untuk menerima pasangan apa adanya. Pasangan kita memang punya kelebihan. Akan tetapi pasti, dia punya kekurangan. 

Dia jiwa yang berhak memperoleh kebebasan sejauh diperlukan untuk menjalankan misi rohaninya yang khas. Setiap jiwa terlahir di alam dunia dengan membawa misi yang berbeda-beda. Misi rohani pasanganku tak sama, tak pula bisa disamakan, dengan misi rohaniku.

Mari kita dengar suara Gibran sekali lagi. Dalam novel Sang Nabi, dia bertutur lembut, "Kalian telah diciptakan berpasang-pasangan. Dan selamanya pula kalian akan berpasangan. Kalian akan tetap bersama saat maut merenggut hidup. Bersama pula dalam ingatan sunyi Ilahi. Tapi, biarkan ada ruang di antara kalian, tempat angin surgawi melintas dan memainkan tarian". Di tempat lain, suara Gibran lebih gamblang dan imajinatif, "Pohon jati dan cemara, masing-masing tak pernah tumbuh di bawah bayangan yang lain".

Maka, di antara rahasia dipersatukannya sepasang insan dalam cinta ialah ikhlas melepas konsep ideal tentang pasangan hidup. Tak ada lagi ungkapan "dia harus begini harus begitu". 

Kalau mati-matian menggenggam konsep ideal tersebut demi kemenangan ego, perguliran hari demi hari hanya akan menjadi belati yang menyayat-nyayat hati. Luka jiwa bertambah-tambah. Bertambah banyak. Bertambah perih. Jiwaku kian terluka. Jiwanya pun kian terluka. Saya ambyar.

Supaya itu tak terjadi (lagi), gerak-gerik keinginan dipantau dan dikontrol setiap hari. Dengan melakukan lelampahan ini, semoga pernikahan menjadi suluk (jalan spiritual) untuk mendekat kepada-Nya. 

Ternyata, itulah yang diajarkan leluhur Nusantara. Itu pula yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Sokrates, sesepuh filsafat Barat, juga mewasiatkan pesan yang selanggam. "Aku menyarankan Anda menikah," kata Sokrates, "Kalau dapat istri baik, Anda akan bahagia. Kalau tidak, Anda akan menjadi filsuf."

Sebagaimana persatuan-dalam-cinta mengantar menuju cahaya, perpisahan pun sesungguhnya merupakan cahaya. Akan tetapi, cahaya ini menyamar sebagai kegelapan. 

Manakala kita mengerti bahwa yang dikehendaki cinta ialah keikhlasan, topeng kegelapan yang menutupi wajah cahaya, retak lalu hancur berkeping-keping. Penyamarannya terbongkar. Kita pun merasa seperti terbangun dari mimpi.

Perpisahan terasa menyakitkan dan akan terus terasa menyakitkan apabila kita tidak ikhlas. Apa yang lepas dari genggaman harus dilarung di muara bengawan. Biarlah apa yang hilang hanyut mengalir ke pantai, kemudian menyatu dengan samudra masa lalu. 

Daripada meratapi kehilangan dan marah-marah kepada entah siapa, lebih baik kita merapal mantra ini dalam hati: "Dia adalah jiwa, dengan jalannya sendiri. Aku pun jiwa yang menyusuri jalan misteriku sendiri. Kami berasal dari Yang Satu, pasti pulang ke pangkuan Yang Satu, selamanya terhubung dalam Yang Satu".

Dalam dimensi keikhlasan, perpisahan ialah hal fana. Yang selamanya hakiki ialah persatuan yang transenden dari dimensi ruang dan waktu. Sebaliknya, dalam dimensi nafsu, persatuan sejati ialah mimpi indah yang ingin lekas-lekas diwujudkan, namun sayangnya tak kunjung terwujud. 

Sebagai penutup, perkenankan saya memberi satu saran buat Anda. Lupakan apa yang sudah saya tulis. Anggap saja sebagai igauan burung bayan yang tak paham apa yang dikatakannya, yang tak mengalami apa yang diucapkannya. Anggap saja tulisan ini sebagai bayangan narsis yang lewat sekelebat di depan mata Anda. Rahayu.

 

Widodo, penulis biasa