Adonis; Puisi, Pemikiran, dan Sufisme

Berjumpa langsung dengan tokoh penting merupakan anugerah, semacam salah satu stasiun dari rangkaian pembukaan (futuh) batiniah. Salah satu ukurannya, ini subjektif, adalah persentuhan langsung dengan karya mereka. Adonis (nama aslinya adalah Ali Ahmad Said) adalah salah seorang penyair-pemikir-sufi terpenting di dunia Islam sekarang. Dibandingkan dengan Mohammed Al-Jabiri, Hassan Hanafi, Ali Harb, Khalil Abdul Karim, Nasr Hamid Abu Zayd, Asmawi, dan lainnya, dalam beberapa hal Adonis dan Mohamed Arkoun jauh lebih menarik dan menyita perhatian banyak orang.

Adonis menempati salah satu mata rantai sanad para penyair, pemikir, dan sufi sekaligus. Bersama para penyair lain, baik pendahulu atau mereka yang seangkatan dengannya, yang menapaki trajektori sama: nalar puitika-murni masyarakat Muslim. Embel kemusliman atau Islam bukan dalam pengertian ekslusif dan identitasnya, justru karena mereka mampu mempercakpakan tradisi puitika mereka dengan berbagai tradisi puitika dunia secara mendalam. Mereka memiliki modal kosakata yang lebih dari cukup dalam bercakap dengan berbagai tradisi puitika lainnya. Dalam golongan ini, terdapat nama-nama besar, seperti Mohammad Iqbal, Faiz Ahmad Faiz, Nazim Hikmet, Ahmad Shamlou, Mahmoud Darwish, dan Adonis sendiri. 

Terkait Adonis di Indonesia, (teman saya) Mas Edo Kusuma, alumnus Al-Azhar, Kairo, dan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pernah menulis dengan sangat baik tentang pemikiran Adonis. Tesis pascasarjananya tentang buku Surealisme dan Sufisme karya Adonis. Beberapa tulisan lepas dan pendeknya tentang Adonis memperlihatkan dua hal secara kasatmata: penguasaanya atas pemikiran Adonis yang mendalam dan dia menuliskannya secara baik, efektif, dan ketat. Sayangnya, karena tradisi rendah hati yang kuat di pesantren, Mas Edo sangat ragu bahwa Adonis bukan saja penyair cum pemikir (jargon Adonis paling terkenal), tetapi sekaligus seorang sufi. Kenapa harus ragu? Apakah karena Adonis sekuler seperti kesan yang dituliskan karib saya, Ebrahim Moosa, dalam bagian awal bukunya, The Poetic Imagination of al-Ghazali? Ataukah kesan ‘bebas’ atau ‘radikal’ atau anti-Islam karena pernyataannya, seperti dituturkan Kiai Ulil Abshar Abdalla kepada saya ketika mereka bertemu di Jerman, bahwa, “Saya muslim secara peradaban bukan secara keyakinan “?

Ketertarikan pokok, sesuatu yang subjetif tentunya, pada sosok Adonis justru pada citarasa (taste dalam Bourdieuan) keislamannya yang melampui bentuk-bentuk Islam formal. Justru pada keteguhan dan apresiasinya terhadap khazanah tasawuf-muntahi, penghargaannya tanpa keraguan dan jeda pada khazanah sufisme–akhir (muntahi) seperti Al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, dan terutama Maulana Rumi. 

Adonis secara umum menghargai tiga kelompok dalam sejarah Islam-Arab. Pertama, pembangkangan politik berdasarkan pengorganisasian rakyat revolusioner seperti pada gerakan golongan Qaramitah dan Ismailiyah. Kedua, kepada kaum urban-humanis masa lalu seperti Al-Jahiz, Abu Nawwas, dan yang lainnya. Peran mereka melahirkan kemungkinan baru bagi puisi Arab setelah beku karena tekanan Islam yang formal dan kaku. Bagi Adonis, mereka inilah para penyair Islam yang tidak terjebak pada formalitas bahasa (batasan fashahah dan balaghah) atau puisi nazhamisme: mereka bukanlah golongan penyair yang terbelenggu oleh bentuk. Ketiga, apresiasinya kepada kaum sufi seperti Al-Hallaj, Ibn Arabi, Ibn Farid, dan Rumi karena mereka adalah model berislam yang bebas, hidup, dan dinamis. Kita akan kembali ke ketiga unsur ini pada bagian selanjutnya. 

Jika merujuk pada keterangan yang ditulis secara asertif oleh Hamid Dabashi, guru besar sastra di Universitas Columbia, Amerika Serikat, bahwa pertumbuhan dan perkembangan tradisi adab (sastra) dunia Islam-Arab (termasuk Persia) disokong oleh para kaliber di bidang adab yang sangat antiotoritas agama, bukan antiagama (Islam), seperti Abu Nawas, dan kawan-kawannya. Mereka meyakini bahwa manusia harus siap sedia mengkaji ulang segala hal terkait kehidupan manusia di dunia. Mereka ini disebut sebagai kaum urban atau shu’ubiyah dengan ukuran dan pengertian pada zamannya. 

Selain keterangan Dabashi, kalau melihat jejak para penyair seperti Iqbal, Faiz, dan Hikmet, jelas sekali mereka memiliki pergulatan keruhanian dalam ukuran sufisme: pergulatan berdarah-darah dalam menemukan kemungkinan atau potensi makna sebagai manusia dalam realitas yang kompleks. Bahkan pada sosok Faiz dan Hikmet yang secara lahiriah adalah anggota partai Komunis di tanah airnya, dimensi pergulatan ruhani mereka dalam trajektori tasawuf Islam adalah sesuatu yang swabukti. Tradisi panjang kepenyairan yang beririsan dengan perjalanan kebatinan inilah yang menebalkan asumsi saya bahwa penyair seperti Adonis itu juga seorang pemikir dan sufi sekaligus. Mereka seakan mengatakan, bahwa performativitas keberislaman mereka bukan jenis keberislaman umum. Singkatnya, ada suatu tradisi kuat kepenyairan, pemikiran, dan kesufian di tengah masyarakat muslim modern. Sangat sulit memahami mereka tanpa modal pengetahuan yang cukup tentang doktrin tasawuf Islam. Dipastikan gagal menakar capaian dan posisi mereka dalam sastra tanpa menempatkan pergulatan keruhanian mereka terhadap agama mereka karena bagi mereka tidak ada masalah dengan Allah, masalah justru pada otoritas yang menempel pada kelompok, isme, lembaga, dan perorangan yang duniawiah sifatnya.

Jadi ada dua pokok asumsi dalam tulisan ini. Pertama, ada tradisi panjang di tengah masyarakat, yang di situ seorang sufi adalah juga seorang pemikir dan penyair. Adonis memiliki jargon, bahwa seorang penyair pastilah juga seorang pemikir. Aspek sufisme personalnya dia sembunyikan, dan hal ini suatu yang lumrah dalam tradisi umat Islam di mana pun: tradisi menyembunyikan pergulatan ruhani pada layar dunia. Sangat mudah, seperti telah disinggung seadanya, membuktikan pergulatan Adonis dengan tasawuf Islam.

Kedua, Adonis satu-satunya pemikir Arab Kontemporer yang sepenuhnya apresiatif dengan tasawuf, baik doktrin maupun praktiknya. Hal ini tampak biasa, padahal sebuah suspen dalam konteks pemikiran di dunia Arab Kontemporer. Dalam bukunya, Al-Tsabit wa Al-Mutahawwil, Adonis menulis luas tentang tasawuf-muntahi Islam, yang di situ dia cenderung menempatkan tasawuf sebagai salah moda pemaknaan, gerbang untuk memasuki arus kebudayaan umat Islam. Lebih menarik lagi, tasawuf yang dibayangkan Adonis adalah tasawuf Islam yang apa adanya, atau sebagaimana yang tumbuh di tengah umat Islam. Bukan tasawuf yang telah terpagari oleh sistem diskursus dominan. 

Pertemuan dengan Adonis

Pada hari Jumat Kliwon tanggal 28 November 2008 yang bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah 1439 H, bersama beberapa teman lainnya: kang Fuad, Wahyudin, dan Mas Ibad, diajak oleh Mohammad Guntur Romli (sempat menjadi calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia), penulis menemani Adonis di sebuah hotel dekat Candi Borobudur. Rencana awalnya, Guntur dan Adonis akan menginap di hotel Manohara yang terletak di dalam kawasan Candi Borobudur. Akan tetapi, rupanya proses pemesanan hotel Manohara itu tidak seperti hotel umumnya. Karena sudah terlalu malam, Adonis juga terlihat lelah dan lapar, maka kami putuskan menginap di sebuah hotel yang terdekat dari Candi Borobudur.

Setelah proses pemesanan kamar selesai, kami langsung ke restoran hotel untuk makan malam. Menu yang tersisa sangat terbatas. Adonis memilih ikan gurami besar dan beberapa makanan lainnya. Kami makan malam sambil diskusi, tidak saja soal kuliner, tetapi lebih banyak soal puisi dan kebudayan. 

Malam itu Adonis mengenakan kemeja hitam yang dibalut dengan setelan jas warna abu. “Hanya perempuan yang tergila pada puisi yang layak berpakian mewah,” bisiknya kepada penulis. Sebagai salah seorang pemikir Arab kontemporer, penampilannya terhitung bisa dimaklumi. Saya memperhatikan pulpen yang terselip di kantong jas abu-abunya. Adonis sangat luwes, tidak ada kesan jaim atau gengsi sedikit pun. Adonis cenderung sangat hangat dan terbuka. Adonis mengatakan bahwa dia hanya kurang suka dengan kaum pesolek atau impostor (orang yang berpura-pura). Singkatnya, Adonis memiliki ciri khas penulis pascakolonial: nonkompromistik, persisten, dan konsisten. Dia terlihat begitu tegar dan menggetarkan.

Dari sejak di Bandara Adi Sucipto sampai di hotel, saya masih tidak percaya sedang berhadapan dengan tokoh yang saya kagumi via terjemahan karya-karyanya dalam bahasa Indonesia. Dengan umur yang beranjak senja, tampak Adonis menolak sekadar menjadi riak, tetapi ingin selalu sebagai gelombang yang menampar bibir pantai kehidupan. Atau, kalau meminjam bahasa Syaikhul Akbar Ibn ‘Arabi dalam kitab Al-Anqa’ Al-Mughrib fi Khatm Al-Auliya wa Syams Al-Maghrib wan Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi Qorn Al-Lahiq bi Qorn Al-Musthafa: dia seperti gelombang besar yang memuntahkan intan-intan dan permata yang berkilauan. Ketika kata-kata keluar bertubi-tubi tanpa henti, dan dari pori-pori tubuhnya memancar tenaga dan cahaya yang benderang. Dan, angin besar yang datang melahirkan gelombang kata-kata yang tidak sepenuhnya mampu dia kendalikan. Yang tampak hanya gelombang kata-kata berulang-ulang, bergulung, dan bergerak begitu cepat sehingga orang lain tidak mampu melihat selain awan kegelapan tebal yang berlapis-lapis yang memuntahkan gelombang besar lainnya. Sebagai pewaris penyair, pemikir, dan sufi, Adonis ingin hidup dan mati sebagai gelombang, bukan sekadar arus dan riak sejarah. 

Malam itu, setelah makan malam, Adonis meminta saya membuka satu krat bir Bintang kalengan yang sempat dibelinya di sebuah Circle K di jalan raya Yogyakarta-Magelang. Cerita minum bir hanya hiasan saja dari perjumpaan kami pada malam itu. Kami mendengarkan dengan saksama percakapan Adonis dengan Guntur, dan sesekali saja kami menyela. Adonis mendiktekan (imla’) beberapa syair dari Imam Al-Syafi’i (salah satu imam mazhab fikih dalam Islam). Tidak berapa lama, Adonis juga mendiktekan juga syair karya Hasan bin Tsabit sebelum menjadi penulis wahyu Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Adonis selalu menegaskan frasa ‘sebelum’ ini dan itu. Maksudnya, ini repetisinya yang tidak kepalang, bagaimana ortodoksi telah merendahkan puisi. Adonis masih meratapi hal yang sama dengan para pemikir muslim lainnya: Islam yang terlalu cepat membeku sehingga kehilangan elan vitalnya sebagai gerakan perubahan sosial. Adonis memiliki ukuran lugas soal ‘kematian’ dini Islam ini: pengalaman puitika merupakan ukuran dari kematangan kebudayaan masyarakat Islam-Arab. Sebuah masyarakat yang tidak selaras perkembangan puitika, pemikiran dan kebatinannya adalah masyarakat yang sakit, beku, dan bebal. Terkesan sangat berlebihan, tetapi jika direnungi akan banyak membantu untuk memahami situasi kompleks umat Islam umumnya. Masyarakat yang tidak mencintai dan memiliki capaian puitika adalah masyarakat yang mengidap penyakit kompleks (untuk tidak mengatakan terbelakang). Bagi Adonis, Islam yang merendahkan puisi adalah jenis Islam yang jumud dan tidak bertenaga, dan semakin jauh dari teladan Kanjeng Nabi Saw. 

Dalam percakapan malam itu, ada dua hal yang diulang-ulanganya sebagai pesan, tetapi di sini hanya satu pesan saja yang akan dibahas: Adonis berpesan kepada saya, “...Bacalah Rumi. Cukuplah Rumi bagimu.” Kalimat itu berulang kali dikatakannya sebagai penegasan akan mendasarnya pesan tersebut. Seakan Adonis ingin menjelaskan, bahwa temukanlah percakapan Allah dengan keragaman dan perubahan melalui Rumi. Menurut Adonis, Rumi adalah eksemplar yang baik karena tiga hal. Pertama, gagasan Rumi memaksimalkan energinya untuk menyingkap pusparagam realitas. Kedua, gagasan Rumi yang melihat Islam bukan semata sebagai agama institusional, melainkan sebagai penagalaman indvidual yang khas dan bebas. Ketiga, gagasan Rumi, dan umumnya para sufi, tentang Allah, terutama aspek tanzih dan tasybih Allah sekaligus. Aspek batin dan lahir sebagai satu kesatuan yang utuh. Allah tidak mungkin dikerangkeng dalam aspek penyucian-mutlak-Nya. Bukankah ketauhidan tingkat tinggi itu adalah keimanan resiprokalik: keimanan yang teguh kepada Ketunggalan yang memancarkan keragaman realitas memiliki persamaan, yakni keragaman yang bermuara pada Ketunggalan? Pembicaraan tentang aspek tanzih dan tasybih sekaligus dalam konteks Adonis adalah melihat posisi mulia puisi sebagai medium bagi manifestasi (tajalli) Keindahan Gusti Allah. Penyingkapan diri Allah atas segala sesuatu harus melibatkan aspek rasa, pencecapan, atau aspek indrawiah. Keimanan yang tidak menubuh adalah persoalan yang serius bagi Adonis karena akan sama dengan puisi sebagai perayaan atas bentuk dan keelokan bahasa tanpa menimbang pengalaman dan pergolakan hidup para penyair. 

Malam itu, saya tidak sepenuhnya memahami makna pesannya, selain meraba-raba kekagumannya pada tasawuf-muntahi sebagai cara berislam yang segar karena melampui sekat formalitas dan pelembagaan keyakinan. Hal ini mengingatkan pada kaidah tasawuf-muntahi tentang potensi partikularitas setiap manusia, sebuah bentuk “keahadiyahan” (dengan “k” kecil), yang tidak sama dengan manusia lainnya. Sebuah partikularitas yang secara khusus dianugerahkan Allah kepada setiap orang tanpa perserikatannya dengan partikularitas yang dimiliki oleh orang lain. Seperti diungkapkan oleh Syaikhul Akbar Ibn ‘Arabi, bahwa Allah tidak mengulang dua kali tajalli-Nya pada (di dalam) diri seseorang dengan orang lainnya (fa inna Allaha laa yukarriru tajalliyan ‘ala syakhshin waahidin). Persis di titik inilah ada kemiripan proposisi intelektualnya dengan sahabatnya yang kebetulan sama-sama menetap di Kota Paris, (alm) Mohamed Arkoun, yang selalu mengatakan bahwa manusia dengan potensi tak-terduganya bersama Ketakterhinggaan Gusti Allah. 

Adonis masih bersikukuh dengan dua asumsi pokoknya mengenai kebudayaan Arab-Islam. Pertama, dalam kebudayaan Arab-Islam agama dan puisi itu tidak berdialektika, justru saling berlawanan dan meniadakan satu dengan lainnya. Baginya, agama telah merendahkan puisi. Agama adalah jawaban, sementara puisi adalah pertanyaan. Agama yang dimaksud Adonis adalah ortodoksi, ragam sistem yang membelenggu segala kemungkinan baru dalam pemaknaan hidup. Sementara itu, puisi baginya adalah puisi murni, yakni puisi post-nazhamisme, tidak sekadar fashahah dan balaghah, tetapi puisi sebagai pengalaman hidup yang berdarah segar, atau apa yang disebutnya sebagai watak-pengalaman-puitika. Puisi sebagai peristiwa, sebuah kekayaan puitika yang menerobos setiap hijab ketidakterucapan berbagai hal terkait pengalaman manusia sebagai bagian realitas. Dalam beberapa hal, Adonis membayangkan pengalaman-puitika seperti konsep tajjaliyah dalam sufisme. Tajalliyah sebagai medium pengetahuan, yakni pengetahuan yang spritualistik sekaligus indrawiah: sebagai pengalaman ruhani sekaligus pengalaman indrawiah. Pengetahuan sebagai khaos dalam pengertian Deluezian yang melampui kategori sublimistik dalam ranah estetika. Puitika bukan persoalan komunikasi semata, melainkan sebuah pengalaman aktual yang melibatkan jiwa sekaligus aspek ketubuhan.

Akan sangat menarik menelisik lebih dalam tentang pandangan spesifik Adonis terhadap sufisme pada bukunya, Al-Tsabit wa Al-Mutahawwil, dan sebuah tulisan pendeknya berjudul “Allah”. Akan tetapi, mungkin di lain tulisan.

 

Hasan Basri Marwah, Lurah Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, D.I. Yogyakarta