Comoedia Religiosus

Agama sering tampil dalam dua sisi: keramahan dan kemarahan. Dua sisi ini selalu muncul sehingga sebagian merasa agama sebagai sumber kasih sayang, namun di sisi lain agama juga dianggap sebagai ancaman bagi lian. Keramahan agama ditampilkan oleh mereka yang memiliki kesadaran batin yang diwujudkan dalam tindakan nyata dengan memberi rasa aman, kenyamanan, dan kesejahteraan bagi manusia dan alam di sekitarnya. Sebaliknya, kemarahan agama ditampilkan oleh mereka yang memahami agama dengan cara kaku, tertutup, mendaku sebagai pemilik kebenaran tunggal, dan menganggap lian sebagai musuh yang harus diperangi dan dibinasakan. 

Kondisi ini semakin diperparah lantaran sebagian kelompok menggunakan agama sebagai alat untuk menyerang kelompok lain. Agama yang seharusnya netral dan bebas dari kepentingan politik seakan diseret dan dipaksa untuk menjadi legitimasi bagi sikap sinis yang bersumber dari nafsu kuasa. Terjadi perselingkuhan agama dan politik di tangan orang-orang yang tak lagi memegang etika berpolitik. Agama yang seharusnya menjadi penuntun yang bebas kepentingan, justru diperkosa untuk mendukung politik yang sarat kepentingan.

Salah satu penyebab dari tampilnya agama sebagai “sumber kemarahan dan kebencian” yang melampaui batas ialah karena hilangnya sense of humor dan sense of human dari umat beragama. Humor seolah menjadi barang langka yang sulit didapatkan, bahkan di dunia maya humor seakan lenyap dimangsa oleh ujaran kebencian. Humor sejatinya merupakan bagian tak terpisahkan dari agama. Agama dan humor sama-sama memiliki kecenderungan holistik. Cita-cita agama ialah memberi pengaruh positif tehadap seluruh aspek kehidupan manusia, utamanya kehidupan yang bermakna bagi jiwa dan spiritualitas pemeluknya. Humor cenderung bermain dengan seluruh wilayah aktivitas dan kehidupan manusia pada umumnya. Humor pun akan semakin kuat saat ia bermain dengan beragam bentuk keprihatinan manusia yang mendalam. 

Sayangnya, banyak pemikiran teologis dan filosofis kontemporer dalam agama-agama justru mencurigai humor dan kelakar. Umberto Eco mengungkapkan pandangan agama yang mempertentangkan keimanan dengan humor. Tawa tidak berpadanan dengan kesungguhan iman dan kesempurnaan manusia. Iman dan tawa tidak dapat dihubungkan. Siapa tertawa, ia merupakan seorang agnostik, orang yang tidak suci. Dan, siapa percaya akan kebenaran menyeluruh, ia pasti orang yang serius dan tidak suka akan tawa, bukan seorang humoris dan murah tawa. Humor dan tawa dipahami sebagai lawan dari agama dan kesalehan di Abad Pertengahan. 

Dengan demikian, tidak heran jika pemikiran dari Abad Pertengahan tersebut kemudian memengaruhi sebagian besar kaum agamawan hingga saat ini. Agama yang seharusnya tampil sebagai kekuatan pembebas yang membahagiakan, justru tampil sebagai sosok yang penuh ancaman dan kengerian. Apalagi jika agama dimanfaatkan sebagai tunggangan politik untuk meraih kekuasaan. Yang muncul tidak lagi agama sebagai kasih sayang dan kepedulian, tetapi justru ajaran yang dipelintir menjadi ancaman terhadap kelompok yang berbeda pilihan politiknya, meskipun identitas keagamaan mereka sama. Jika humor dianggap sebagai ancaman bagi kesucian agama, maka hilanglah sisi kemanusiaan kita yang paling hakiki. 

Bukankah agama mengajarkan bahwa “senyum itu sedekah”? Bukankah membuat orang tertawa bahagia merupakan bagian dari ibadah? Bukankah humor selalu dirindukan oleh manusia sebagai katarsis dan pelepas segala penat dan resah akibat beban kehidupan yang tak lagi tertanggung dengan hal-hal yang serius belaka?

Di sinilah pentingnya memahami fungsi dan karakter comoedia religiosus (humor religius) sebagai upaya untuk menampilkan sisi keramahan agama, komedi atau humor yang berasal dari ketulusan jiwa, kedalaman spiritual yang mendambakan pembebasan yang membahagiakan. Dalam comoedia religiosus, kita akan melihat hubungan tak terpisahkan antara agama dan humor. Setidaknya ada tiga karakter atau kualitas yang menjadikan agama dan humor tak terpisahkan. 

Pertama, baik agama maupun humor merupakan jalan untuk mentransendensikan diri, mencari makna-makna alternatif, dan mempertanyakan realitas kehidupan sehari-hari yang acapkali superfisial, menipu, dan palsu. Humor dapat memberi sumbangan berupa swa-kritik, sikap reflektif, keraguan kreatif, kedewasaan intelektual dan spiritual, serta kearifan. Humor juga memiliki nilai psikologis yang menguatkan, memberi sumbangan pada kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan, yang juga merupakan nilai-nilai luhur dalam spiritualitas agama-agama. 

Kedua, meskipun kalangan agama masih sering menaruh curiga pada humor, dan mengutuk humor yang berlebihan, namun humor diakui sebagai ekspresi dari aktivitas dan kreativitas manusia. Karenanya, humor juga hadir dalam beragam pengejawantahan kreativitas keagamaan dan dalam kehidupan spiritual tokoh-tokoh penting dalam agama. Dalam Islam, kita mengenal tokoh Abu Nuwas, tokoh Sufi Nashruddin Hoja, dan di Indonesia kita mengenal sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang terkenal dengan selera humornya yang luar biasa. Dari kisah-kisah dan kehidupan para tokoh ini, setidaknya kita bisa belajar bahwa humor dan agama sesungguhnya memainkan fungsi-fungsi psikologis, sosiologis, dan antropologis yang sama dalam kehidupan individu maupun kelompok sosial pada umumnya. 

Ketiga, humor dan religiusitas merupakan “satu saudara dalam roh” (Peter L. Berger, 1998). Keduanya bagaikan satu kesatuan anatomi yang tak mungkin dipisahkan. Fenomenologi tertawa mau tak mau harus membimbing kita ke arah teologi tertawa. Tawa atau komik selalu ada dalam sejarah manusia. Tak ada budaya atau kultur yang eksis tanpa kehadiran faktor humor dan tertawa. Kemampuan untuk menangkap sesuatu secara komikal merupakan sesuatu yang bersifat universal. Karenanya, humor atau tawa bukan hanya merupakan pengalaman biasa sehari-hari, melainkan suatu elemen antropologis yang konstan dan terus-menerus ada dalam setiap masyarakat.

Mungkin sudah saatnya kita meneguhkan unsur humor ini dalam kehidupan nyata maupun di media sosial. Tawa dan humor setidaknya mampu menolong dan meringankan kita dari rasa marah, gelisah, dan tekanan. Ketegangan politik dan permusuhan atas nama apa pun sudah sepatutnya diredam dan dihilangkan, salah satunya dengan menertawakan diri kita sendiri. Menertawakan kebodohan kita yang menilai diri lebih baik dari yang lain, tanpa berbuat sesuatu pun yang bermanfaat bagi sesama.

Jika kita mendaku diri sebagai umat beragama, sudah waktunya kita menyadari bahwa agama adalah institusi yang tidak hanya menjanjikan keselamatan, tetapi juga mengandung janji kegembiraan dan kebahagiaan dalam proses penyelamatan hidup manusia. Karenanya, agama tidak mungkin dilepaskan dari humor dan tawa yang merupakan bagian hakiki dari kemanusiaan. Wallahu a’lam. 

 

Ruslani, penulis dan penerjemah