Rekonstruksi Spiritualitas Perempuan ala Asghar Ali Engineer

Beragam karya tafsir muncul beserta metode dan pendekatan serta corak yang berbeda untuk mengupas isi Alquran agar dapat diterima oleh kalangan yang membutuhkan. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad Syahrur bahwa Alquran harus selalu ditafsirkan sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan begitu, banyak tokoh pemikir Muslim kontemporer terdorong untuk melakukan dekonstruksi sekaligus rekonstruksi metodologi penafsiran Alquran supaya sesuai dengan tuntutan era kontemporer.

Tokoh pemikir muslim kontemporer tersebut di antaranya ialah Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, Abdullah Al-Na’im, Nashr Hamid Abu Zaid, Hasan Hanafi, Muhammad Syahrur, Asghar Ali Engineer, dan masih banyak tokoh lain. Dari sekian banyak tokoh mufasir kontemporer, tulisan ini mengkaji epistemologi pemikiran Asghar Ali Engineer tentang spiritualitas perempuan di era kontemporer.

Secara historis, perempuan dianggap sebagai jenis kelamin kelas dua; perempuan tersubordinasi oleh laki-laki. Sementara itu di masa modern, hak-hak perempuan sudah mulai mendapat signifikansi yang kuat di dunia Islam. Pada dasarnya masyarakat modern diwarisi budaya patriarkat oleh masyarakat tradisional. Patriarkat menjadi problem atau rintangan terbesar untuk mendapatkan keadilan gender

Realitas seperti inilah yang disoroti secara tajam oleh Asghar. Menurutnya, konsep dan praktik hukum Islam dimanfaatkan atau disebabkan oleh keadaan politik-sosial daripada sebagai ajaran agama. Untuk itu, Asghar berupaya melakukan rekonstruksi penafsiran terhadap teks kitab suci dengan menggunakan pendekatan filsafat dan metode hermeneutika.

Sumber penafsiran Asghar menggunakan akal/logika/al-ra`yu (pikiran manusia). Istilah ra`yu dekat maknanya dengan ijtihad (kebebasan pengguna akal) yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang benar, menggunakan akal yang sehat dan persyaratan yang ketat. Asghar mengatakan bahwa akal merupakan instrumen yang penting bagi kehidupan manusia, meskipun akal sendiri tidak akan sanggup untuk menjelaskan secara memuaskan tentang dunia, realitas, arti, dan makna kehidupan manusia. Akan tetapi, manusia juga membutuhkan wahyu sebagai komplemen dari akal, karena wahyu berfungsi sebagai alat untuk memahami tujuan hidup dan memperkaya aspek spiritualitas. Sementara itu, akal berfungsi sebagai alat memahami realitas fisik dari alam dan untuk memperkaya kehidupan material manusia.

Penafsiran Asghar salah satunya bertujuan pada kaum perempuan yang terdiskriminasi karena ruang lingkupnya yang berbeda jauh dengan laki-laki. Kegelisahan Asghar membangkitkan kekuatan pikirannya untuk menggagas suatu pengetahuan bahwasanya kaum perempuan itu tidak serendah yang selama ini dibayangkan oleh masyarakat. Berdasarkan metode pemikiran Asghar dengan menyebutkan beberapa tokoh perempuan terkemuka seperti Fatimah Mernisi dan Amina Wadud, mereka mengkritik rumusan fikih klasik yang dinilai diskriminatif terhadap perempuan dengan menawarkan konsep rekonstruksi fikih perempuan untuk memberikan landasan bagi umat Islam dalam mengembangkan kehidupan yang lebih adil.

Asghar Ali Engineer mengkritik para mufasir klasik yang melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran secara teologis; penafsiran-penafsiran yang tampak cenderung dogmatis—jauh dari konteks sosiologis. Pada gilirannya, Asghar menawarkan hermeneutika sebagai alat untuk memahami ayat-ayat Alquran. Suatu pendekatan yang digunakan Asghar itu bertujuan untuk memahami aturan hukum dalam ayat Alquran yang memiliki nilai normatif atau sebagai sarana yang sifatnya kontekstual demi menegakkan norma yang sifatnya esensial. Kerangka metodologis Asghar dalam upaya memahami ayat Alquran secara jelas menawarkan penegakan normativitas Alquran dalam kerangka perubahan sosial. Setelah melewati beberapa fase sebelumnya, penafsiran Alquran tiba pada masa yang reformis.

Asghar menggunakan metode ini guna mencari jawaban dari permasalahan kontekstual, terkhusus pada ketertindasan kaum minoritas. Dalam menafsirkan ayat Alquran, Asghar juga menggunakan metode penafsiran ayat normatif dan ayat konstektual. Ayat normatif adalah ayat-ayat yang mengandung nilai universal sehingga berlaku sepanjang masa. Sementara itu, ayat kontekstual adalah beragam ayat yang berkaitan dengan keadaan masyarakat. Tujuan dari pembedaan antara ayat normatif dan ayat kontekstual yaitu sebagai upaya untuk mengetahui perbedaan antara yang sebenarnya diinginkan oleh Allah dan yang dibentuk oleh realitas masyarakat.

Asghar ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran bukan sebatas ajaran tentang hubungan dengan Tuhan, atau hanya terbatas pada persoalan dosa dan pahala (antara neraka dan surga). Islam sebenarnya mengandung ajaran tentang kemanusiaan—ajaran yang akan mengangkat derajat manusia dari ketertindasan atau sistem kelas yang mendominasi. Begitu pun Islam menjadi ajaran yang akan membebaskan manusia dari eksploitasi. 

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan yang mengamalkan ajaran Islam, mereka sama-sama berjuang untuk perubahan. Laki-laki dan perempuan sebagai manusia memiliki tugas dan fungsi yang sama; membebaskan. Asghar juga ingin menunjukkan bahwa dalam membangun pemahaman tentang spiritualitas diperlukan suatu kesadaran praksis sosial dan untuk mempertahankan keutuhan dari ajaran-ajaran teologis.

Berdasarkan gagasan dari pemikiran Asghar yang menolak bahwa perempuan merupakan makhluk kelas dua setelah laki-laki itu bertujuan untuk merekonstruksi spirit kaum perempuan dan kajian kesetaraan yang mengatakan bahwa tempat perempuan tidak hanya pada ranah domestik, tetapi perempuan juga dapat berkontribusi pada ranah publik. 

Pada dasarnya, Tuhan menciptakan manusia—baik laki-laki maupun perempuan—semata-mata bertujuan untuk mendarmabaktikan diri kepada-Nya. Pandangan ini sebagai bentuk pemahaman yang diadopsi dari ajaran agama bahwa dimensi spiritualitas erat kaitannya dengan kondisi seseorang yang telah suci dan termasuk pada golongan yang telah unggul secara kesalehan. 

Rekonstruksi penafsiran Asghar tentang spiritualitas perempuan dapat dilihat dengan cara pandangnya yang mengatakan bahwa spiritualitas erat kaitannya dengan seseorang yang bertransformasi—sebelumnya manusia biasa menjadi seseorang yang bijak, sebelumnya terjebak atau mengedepankan dunia fisik, kemudian menjadi seseorang yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk berjuang dalam penghapusan penindasan dan bentuk-bentuk perbudakan lainnya, juga menghambakan diri sepenuhnya dalam memperjuangkan kesetaraan.

Antara perempuan dan laki-laki memiliki potensi spiritualitas yang sama, yakni keduanya memiliki naluri bertuhan. Fitrah ini merupakan dimensi penting dalam spiritualitas, bahkan merupakan substansi dan inti dari spiritualitas itu sendiri. Salah satu dimensi spiritualitas ialah bagaimana seseorang menjadikan nilai kebaikan sebagai spirit hidupnya. Alquran sangat apresiatif terhadap prestasi kaum perempuan, tanpa membedakan jenis kelamin (Q.S. Al-Nahl: 97). Oleh sebab itu, antara laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan berdiri sejajar, sebab titik pijak spiritualitas itu ketaatan dan kepatuhan kepada Sang Ilahi serta memainkan peranan positif dalam proses realisasi spiritual di kehidupan sehari-hari. Artinya, konsep kesetaraan dan keadilan dalam bidang spiritual dan sosial tidak semestinya dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin tertentu.

Dalam kajian epistemologi, problem dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran salah satunya berkenaan dengan standar kebenaran dari hasil sebuah penafsiran, sebab penafsiran Alquran menjadi pegangan manusia dalam beragama dan bermasyarakat. Standar validitas penafsiran Asghar Ali Engineer tentang spiritualitas perempuan di era kontemporer setidaknya dilihat menggunakan teori korespondensi dan pragmatisme. 

Berdasarkan teori korespondensi, sebuah penafsiran dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan fakta ilmiah yang ada di lapangan, karenanya penafsiran Asghar benar-benar bertujuan untuk menafsirkan Alquran agar sesuai dengan tuntutan zaman modern. Sementara itu, teori pragmatisme adalah suatu proposisi dianggap benar sepanjang ia berlaku atau memuaskan yang digambarkan secara beragam oleh perbedaan pendukung dan pendapat. Ketika teori ini ditarik dalam penafsiran Asghar, maka tolok ukur penafsirannya dapat dikatakan benar apabila secara empiris mampu memberikan solusi praksis bagi problem-problem sosial yang ada.

 

Octri Amelia Suryani, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta