Sir Syed Ahmad Khan; Rekonstruksi dan Pembaruan Teologi

Sir Syed Ahmad Khan adalah seorang pembaru teologi Islam dari India. Di masa kehidupannya, Ahmad Khan melihat begitu banyak kekurangan yang dialami oleh umat Islam. Dia menganggap bahwa kekurangan itulah yang menyebabkan umat Islam di India menjadi terbelakang dan kurang mendapat perhatian.

Ahmad Khan melihat lebih jauh lagi problematikan yang melatarbelakangi mundurnya umat Islam pada masa itu. Dia melihat bahwa kuatnya taklid yang ada menyebabkan umat Islam tidak bisa berkembang seperti Inggris. Di samping kuatnya taklid, Ahmad Khan juga melihat adanya pengaruh kolonialisme yang membuat umat Muslim sulit untuk berkembang.

Problematika tersebut mengantarkan Ahmad Khan untuk merumuskan sebuah gagasan dan konsep tentang bagaimana memperjuangkan nasib umat Muslim India yang terbelakang. Ahmad Khan sampai berkesimpulan bahwa harus ada pembaruan secara teologi dari umat Islam, sehingga perubahan ke arah yang lebih baik akan bisa dicapai.

Rekonstruksi teologi merupakan garapan Ahmad Khan untuk memperjuangkan nasib umat Muslim India. Ahmad Khan memandang bahwa sudah waktunya umat Muslim India untuk merekonstruksi teologinya supaya tidak terjadi taklid yang berkepanjangan. Selama ini umat Muslim India sudah cukup banyak didominasi oleh budaya taklid. Terlalu tinggi sikap taklid seorang Muslim akan menjauhkan ia dari kebebasan berpikirnya. Oleh karena itu, Ahmad Khan berkeinginan untuk mengubah struktur nalar umat Muslim India untuk lebih baik.

Kepercayaan kepada para ulama dan tokoh agama yang begitu besar menjadi bukti kuatnya sikap taklid umat Muslim India. Kepercayaan tersebut menurut Ahmad Khan harus direkonstruksi dengan kembali ke Alquran dan Hadis. Dengan landasan seperti ini, Ahmad Khan percaya bahwa Islam bisa menyesuaikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa adanya rekonstruksi semacam ini umat Muslim India akan sulit untuk berkembang.

Rekonstruksi tersebut membutuhkan rasionalitas yang tinggi. Ahmad Khan dikenal sebagai tokoh yang dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Selama di Inggris, Ahmad Khan banyak belajar tentang rasionalisme Inggris. Tingginya rasionalitas manusia akan mengantarkan pada peradaban yang semakin maju. 

Ahmad Khan percaya bahwa manusia mampu mempelajari segala ilmu dengan batas kemampuan tertentu. Ahmad Khan menganggap bahwa manusia memiliki kemampuan dan kekuatan untuk belajar ilmu pengetahuan dengan akalnya, serta mampu menentukan dan melakukan perbuatan. Dengan kata lain, rasionalisme yang dikembangkan oleh Ahmad Khan bisa dikategorikan dalam aliran Qadariyah (free will and free act). Manusia diberi Tuhan dengan segala daya dan kemampuan fisik untuk mewujudkan kehendaknya. Manusia mempunyai kebebasan untuk mempergunakan daya-daya yang telah diberi oleh Tuhan kepadanya.

Meskipun demikian, Ahmad Khan percaya bahwa setiap makhluk hidup telah ditetapkan tabiat atau nature-nya. Nature yang telah ditetapkan Tuhan inilah yang dalam Alquran disebut sunnatullah. Islam mengajarkan agar manusia tunduk kepada hukum alam yang telah dibuat Tuhan.

Antara hukum alam, sebagai ciptaan Tuhan dan Alquran sebagai firman Tuhan tidak ada pertentangan di antara keduanya. Oleh karena itu, keduanya harus sejalan. Dengan pandangan seperti ini, Ahmad Khan ingin mengatakan bahwa perubahan zaman itu sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan sebagai sunnatullah, sehingga antara ilmu pengetahuan dengan Islam itu tidak bertentangan satu sama lain. 

Untuk mengembangkan serta menyebarluaskan gagasannya tersebut Ahmad Khan membuat sekolah di tengah kondisi sosial politik India yang tidak kunjung membaik. Ahmad Khan berpikir bahwa jika keadaan rakyat tidak menerima pendidikan modern, maka kondisi akan semakin parah. Oleh karenanya, untuk membakar semangat kaum Muslim, Ahmad Khan membuat moto hidup yang berbunyi ‘Didiklah! Didiklah! Didiklah!’. 

Ahmad Khan mulai mendirikan sekolah kali pertama pada tahun 1859 M di Muradabad, dan selanjutnya pada tahun 1863 mendirikan sekolah di Ghazipur. Kedua sekolah ini banyak mendapat dukungan dari umat Hindu dan Islam. Bahkan rakyat lebih bersimpati dengan dua sekolah ini daripada sekolah-sekolah yang dibukan oleh misionaris Kristen. 

Pengembangan pendidikan yang bisa membantu umat Islam dari keterbelakangan ialah dengan menggabungkan dua sistem pendidikan, yaitu pendidikan Barat dan Islam. Ahmad Khan menekankan bahwa di antara sistem pendidikan Barat itu tidak bertentangan dengan Islam. 

Melihat bahwa wacana pembangunan sekolah tinggi yang akan didirikan oleh Ahmad Khan dan teman-temannya menuai kontroversi, Ahmad Khan kemudian meyakinkan umat Muslim bahwa tidak ada pertentangan antara pendidikan Barat dengan dasar-dasar Islam. Setelah dirasa umat Islam yakin, maka pada tahun 1878, Ahmad Khan pun meresmikan sekolah Mohammaden Anglo Oriental Collage (M.O.A.C.). 

Sekolah M.O.A.C merupakan sistem pendidikan yang mempertemukan antara pendidikan modern Barat dengan ajaran-ajaran Islam, seperti bahasa Inggris, ekonomi, kebudayaan, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Bahasa pengantar yang digunakan ialah bahasa Inggris. Pengajaran ilmu pengetahuan modern merupakan bagian besar dari mata pelajaran yang diberikan. Di saat bersamaan para siswa diperkenankan untuk melepaskan ortodoksi keagamaan, serta melakukan reformasi sosial. 

Akan tetapi, pendidikan agama bukan tidak diperhatikan. Di sekolah ini pelajar Muslim dituntut taat untuk menjalankan agama. Sekolah ini kemudian berganti nama menjadi Universitas Islam Aligarh pada tahun 1920 dan menjadi salah satu universitas pusat dengan budaya Islam terbesar di Asia.

 

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta