Menyembah Agama

Agama adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan (Yang Disembah) serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia serta lingkungannya. Dengan demikian, agama merupakan seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta (Khaliq) dan yang diciptakan (makhluq).

Dari pengertian tersebut, kita bisa menggarisbawahi bahwa agama itu merupakan ajaran, sistem, atau seperangkat aturan. Namun demikian, agama juga merupakan identitas bagi para pemeluknya. Agama merupakan hal yang membedakan antara seseorang dengan seseorang lainnya yang berkeyakinan tidak sama. Karena agama juga menjadi identitas bagi seseorang, terkadang agama berubah menjadi penyulut konflik lantaran para pemeluknya yang justru mengabaikan agama sebagai ajaran, sistem, atau seperangkat aturan.

Setiap agama pada dasarnya mengajarkan welas asih. Di antara sekian agama yang ada di dunia ini, saya kira tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kebrutalan dan kejahatan. Jika ada, ia bukan agama, melainkan aliran sesat. Yang membedakan antara agama yang satu dengan yang lain ialah terutama dalam hal teologi atau akidah.

Hanya saja, pesan agama yang berupa welas asih tersebut diabaikan lantaran adanya berahi kebencian atau konflik antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya. Hal ini bisa kita lihat dalam sejarah (seperti Perang Salib) dan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi baru-baru ini (pengusiran penduduk Rohingya, pengeboman gereja di Sri Lanka, terorisme di berbagai negara, radikalisme di Selandia Baru, fenomena ISIS, dan lain-lain).

Dari berbagai gesekan yang kemudian menimbulkan konflik panjang antarumat beragama tersebut kemudian melahirkan sikap antipati terhadap pemeluk agama lain. Setelah itu, terjadilah pertikaian yang justru mengabaikan pesan agama yang berupa welas asih. 

Dengan dalih membela agama, banyak dari mereka yang kemudian membabi buta dan gelap mata. Mereka pun tak lagi mengindahkan kemanusiaan. Asal beda agama, tanpa ba-bi-bu langsung menjadi musuh. Berbeda agama berarti musuh. Padahal, ajaran agama tidaklah demikian. Agama itu mengajarkan persaudaraan, bukan permusuhan.

Pada gilirannya, muncullah aksi bela agama. Agama sendiri dibela hingga tidak mengindahkan ajaran-ajaran welas asihnya. Agama yang lain dihujat mati-matian dan pemeluknya dibenci hingga tak berkesudahan. Perilaku seperti itu justru tak mencerminkan agama yang dibelanya, tetapi justru memperburuk agama yang dibelanya sendiri itu.

Mengapa demikian?

Sebagaimana yang telah kita bahas di awal bahwa agama itu mengajarkan welas asih, bukan membenci mereka yang tidak seagama. Jika nilai-nilai ini terkikis lantaran membela agama sendiri, maka itu sama saja dengan merendahkan agama sendiri, lantaran mengabaikan ajaran yang diajarkan oleh agama sendiri. 

Perilaku membela dan mengagung-agungkan agama sendiri namun lupa terhadap ajaran agama sendiri tersebut seolah mengubah akidah. Hal itu dikarenakan yang dibela adalah agama, bukan ajaran-ajarannya. Padahal, agama itu ajaran, sistem, atau seperangkat aturan, bukan suatu benda yang patut dipertuhankan. Akidah pun menyimpang lantaran ajaran agama disimpangkan dan justru disembah sedemikian rupa dengan cara membela dan mengagungkannya. Agama dikultuskan dengan pembelaan yang justru mengabaikan ajaran agama itu sendiri.

Kita bisa melihat realitas seperti ini di sekitar kita. Agama dibela secara mati-matian namun dengan cara mencederai nilai-nilai ajarannya. Agama diagung-agungkan namun dengan cara yang berlebihan sehingga melebihi nilai-nilai teologinya. Dengan demikian, agama hanya dipertontonkan secara identitas, bukan ajaran, sistem, atau seperangkat aturan yang indah.

Sejatinya, agama tidak sekadar identitas. Ia merupakan pegangan hidup dalam berkehidupan dan berkeimanan. Ia menjadi prinsip untuk mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan makhluk lainnya serta mengatur manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Jika agama dikembalikan pada makna sejatinya tersebut, maka agama tidak akan dipertuhankan sedemikian rupa. 

Ibarat cahaya, agama itu cahaya sedangkan Tuhan yang menciptakan agama merupakan sumber cahaya. Terkadang manusia itu tersesat lantaran sekadar mencari cahaya, bukan sumber cahaya. Ketika ada cahaya, manusia mengira bahwa itu merupakan sumber cahaya, padahal sekadar cahaya yang dipancarkan dari sumbernya.

Manusia terkadang malah mempertuhankan cahaya itu sementara melupakan bahwa cahaya tersebut merupakan pancaran dari sumber cahaya. Sebagaimana di siang hari, kita sekadar merasakan terangnya sinar matahari sementara kita enggan memikirkan matahari sebagai sumber cahaya tersebut. Sebagaimana lilin ketika listrik padam di malam hari, kita merasa senang ketika sekitar kita terang sementara kita tidak mengindahkan lilin tersebut.

Begitulah cara beragama yang menyimpang. Manusia hanya sekadar beragama, namun lupa dengan Tuhan yang menjadi sumber dari agama tersebut. Manusia justru menyembah agama dan mengabaikan Tuhan yang merupakan sumber dari ajaran welas asih dalam agama. Dengan kata lain, agama justru sekadar identitas, bukan persoalan keimanan.

Jika agama menjadi sesembahan atau dipertuhankan, bagaimana konsep ketuhanan dalam agama itu sendiri? Jika yang disembah ialah agama, lantas apa bedanya agama itu dengan kepercayaan dinamisme yang dalam ajarannya menyembah benda-benda?

Ada pula fenomena lain yang senada, banyak manusia yang berperang dengan mengatasnamakan agama karena dilegalisasi oleh dalil. Padahal, dalil lain yang lebih sesuai justru mendakwahkan perdamaian. Dengan demikian, agama menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, padahal esensinya ialah ajaran welas asih. Pada gilirannya, lagi-lagi agama disembah sementara ajarannya diabaikan. 

Bukankah yang demikian ini merupakan perilaku kesyirikan? Dalam teologi Islam, syirik merupakan sesuatu yang tidak bisa diampuni lantaran telah menyimpangkan ajaran sejati agama yang berupa tauhid. Tentu saja hal itu mencederai makna lafal suci la ilaha illa Allah (Tiada tuhan selain Allah).

Jika demikian halnya, bagaimana dengan kita sendiri? Bagaimana cara kita beragama? Mana yang kita sembah; agama atau Tuhan?

 

Supriyadi, penulis biasa