Yang Tak Ingin Berdamai

Pada dasarnya, manusia itu ingin hidup dalam kondisi perdamaian. Akan tetapi, karena egoisme yang lebih dikedepankan, tidak jarang perdamaian justru menjadi sesuatu yang diabaikan demi keselamatan pribadi. Jiwa yang tak mau berkorban itu justru memakan korban sehingga timbullah korban yang lebih besar dari sekadar dirinya dan golongannya.

Kita bisa menengok hal itu dalam sejarah peradaban Islam. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa pertumpahan darah antara sesama umat Islam itu terjadi pada peristiwa fitnah kubra (fitnah yang besar). Fitnah kubra adalah peristiwa ketika Utsman bin Affan yang menjabat sebagai khalifah itu dibunuh oleh beberapa orang ‘demonstran’ yang berhasil menyusup ke dalam kediamannya dalam suatu pengepungan.

Ketika diangkat menjadi seorang pemimpin, pengganti (khalifah) dari Umar bin Khatthab, Utsman membuat berbagai kebijakan strategis yang luar biasa. Kemajuan yang dialami umat Islam begitu tampak prestisius. Utsman juga lebih dicintai masyarakat daripada Umar. Hal itu dikarenakan bahwa Utsman itu bersikap lembut sementara Umar bersikap kasar. 

Hanya saja, kebijakan Utsman memberhentikan para gubernur di berbagai wilayah dan mengganti mereka dengan kerabat sendiri dari Bani Umayyah menyebabkan Utsman mendapatkan rasa tak suka dari masyarakat—sebagaimana kita ketahui bahwa Utsman tersebut dari Bani Umayyah. Hal itu kemudian menjadi bahan bakar utama bagi seorang provokator bernama Abdullah bin Saba’ (Ibn Sauda’) untuk membuat keonaran sehingga melahirkan huru-hara. 

Di sisi lain, para sahabat juga menyayangkan kebijakan Utsman yang demikian. Mereka mengusulkan agar Utsman memberhentikan kerabatnya agar tidak terjadi huru-hara di masyarakat. Utsman pun memanggil para gubernur di berbagai daerah untuk mendiskusikan hal tersebut. Dari hasil diskusi, Utsman tetap mempertahankan para gubernur dari kalangan kerabat sendiri itu. Namun demikian, hal itu justru semakin menyulut ketidaksukaan masyarakat terhadap Utsman.

Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman perihal itu dan menasihatinya agar bertobat. Utsman yang ketika itu sudah berusia ‘sepuh’ pun mengiyakan. Dia berpidato di depan khalayak, menuruti nasihat Ali, dan hendak memperbaiki keadaan yang kian memburuk. 

Setelah itu, Marwan bin Hakam, salah satu keluarga di Bani Umayyah, pun melabrak Utsman atas pidatonya tersebut. Marwan bahkan sampai membenci Utsman. Marwan juga memperingatkan bahwa di luar kediamannya itu tengah ada masyarakat yang berkumpul. Utsman pun mempersilakan Marwan untuk mengorasikan sesuatu hal sekehendak hati Marwan. Hanya saja, di depan khalayak, Marwan justru mengorasikan bahwa dia akan mempertahankan kepemimpinan di tangan Bani Umayyah. Dia enggan untuk menyerahkan kepemimpinan di tangan klan lain.

Mendengar hal itu, Ali kembali menghampiri Utsman di kediamannya. Ali memarahi Utsman lantaran tak mendengar nasihatnya dan justru membiarkan Marwan yang kembali merusak suasana. Setelah itu, Ali enggan untuk menemui Utsman lagi. Setelah itu, datanglah Na’ilah (salah seorang istri Utsman) ketika Ali sudah pergi meninggalkan Utsman. Na’ilah menyarankan agar Utsman mendengarkan nasihat dari Ali, bukan dari Marwan, karena Marwan justru akan membawa kerusakan. Utsman pun mengiyakan nasihat Na’ilah tersebut dan berusaha memanggil Ali. Akan tetapi, Ali sudah telanjur berniat untuk tidak menemui Utsman lagi guna memberinya nasihat. Hal ini kemudian menjadi salah satu hal yang semakin menyulut bara api setelah ‘digoreng’ oleh Abdullah bin Saba’.

Sampai sini, kita telah mendapati dua tokoh yang sebenarnya tidak ingin berada dalam kondisi damai; Marwan bin Hakam dan Abdullah bin Saba’. Marwan bin Hakam adalah sepupu dari Utsman dan merupakan sekretaris sekaligus tangan kanan Utsman ketika menjabat sebagai khalifah. Dialah yang bertanggung jawab atas huru-hara di masa-masa akhir kepemerintahan Utsman. Kelak, Marwan ini menjadi seorang khalifah di era Dinasti Umayyah, menggantikan Muawiyah bin Yazid (Muawiyah II).

Pada suatu ketika, masyarakat Mesir hendak mengadukan perlakuan Ibn Abi Sarah. Utsman pun menulis surat kepadanya agar dia diberhentikan dari jabatannya sebagai gubernur Mesir. Ketika beberapa orang yang diutus Utsman untuk mengantarkan surat ke Mesir berada di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang hamba sahaya yang membawa surat. Surat itu berstempel kekhalifahan Utsman yang berisi agar Ibn Abi Sarah tak mengindahkan surat yang dikirim oleh para pengantar surat yang secara resmi diperintah oleh Utsman. Usut punya usut, surat itu dibuat oleh Marwan, bukan oleh Utsman, namun berstempelkan resmi Utsman.

Ketika para sahabat, termasuk Ali, mengadukan peristiwa ini kepada Utsman, Utsman bersumpah bahwa surat itu bukan ditulis oleh Utsman dan Utsman tidak pernah mengirim seorang hamba sahaya ke Mesir. Para sahabat pun lantas mengetahui bahwa itu merupakan ulah dari Marwan yang ketika itu berada di rumah Utsman. Mereka pun meminta kepada Utsman agar menyerahkan Marwan, namun Utsman menolaknya. Dengan demikian, rasa tak suka masyarakat terhadap Utsman pun bertambah.

Sementara itu, Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi Madinah yang memprovokasi masyarakat untuk membenci Utsman. Dialah yang menyulut bara api untuk membunuh Utsman. Dia pula yang bertanggung jawab atas hasutan terhadap masyarakat Mesir untuk memberontak Utsman. Dia pula yang memprovokasi masyarakat untuk mengepung rumah Utsman.

Pada awalnya, masyarakat yang mengepung rumah Utsman itu mengaku hendak membunuh Marwan. Akan tetapi, secara terselubung sebagian dari mereka yang telah termakan fitnah dari Abdullah bin Saba’ itu hendak membunuh Utsman. 

Melihat kondisi yang semakin runyam sehingga rumah Utsman dikepung, Ali menyuruh kedua putranya yang juga merupakan cucu Rasulullah Muhammad Saw, yakni Hasan bin Ali dan Husein bin Ali, untuk turut mengawal dan menjaga rumah Utsman dari para demonstran tersebut. Rupanya, apa yang dilakukan oleh Ali tersebut juga dilakukan oleh para sahabat senior lainnya, mereka memerintahkan anak-anak mereka untuk menjaga rumah Utsman beserta Hasan dan Husein.

Hanya saja, sebagian penyusup berhasil masuk rumah Utsman sehingga berhasil membunuhnya. Mengetahui Utsman berhasi dibunuh, Ali pun datang dengan marah dan berkata kepada kedua putranya, “Bagaimana bisa Amir Al-Mu’minin terbunuh padahal kalian berada di depan pintu rumahnya?” Ali lantas memukul Hasan dan Husein serta memarahi beberapa putra sahabat lainnya yang turut berjaga.

Setelah terbunuhnya Utsman, Ali diangkat sebagai pemimpin pengganti (khalifah) Utsman. Ali mempunyai tugas berat dalam mengemban kepemimpinan pasca-Utsman. Selain itu, dia dituntut oleh sebagian sahabat untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan Utsman. Mereka yang mengusut itu antara lain ialah Aisyah binti Abi Bakr (istri Rasulullah Saw sekaligus putri dari Abu Bakar), Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. 

Sebagai seorang pemimpin, Ali sebenarnya sangat antusias untuk mengusut kasus pembunuh Utsman. Akan tetapi, politik sedang gaduh sehingga stabilitas politik lebih didahulukan oleh Ali. Hal itu pada gilirannya menjadi suatu kesalahpahaman. Ali dianggap sebagai pihak yang tidak cepat dalam mengusut pembunuh Utsman. Padahal, Ali telah mengagendakan kasus pembunuhan tersebut.

Bahkan, ada yang menyatakan bahwa Ali tidak ingin mengusut kasus tersebut. Ini merupakan tuduhan yang salah. Ali adalah seorang yang mencintai Utsman. Ketika Utsman di boikot oleh masyarakat sehingga tidak ada air untuknya, Ali itulah yang membawakan air untuk Utsman sebanyak tiga gayung penuh. Ketika Utsman wafat dan hendak dimakamkan, Ali itulah yang mengusahakan pemakamannya mengingat masyarakat yang telah terhasut itu tidak menerima jenazah Utsman. Walaupun upaya Ali gagal, namun jenazah Utsman berhasil dimakamkan pada malam hari di suatu tempat yang dirahasiakan.

Singkat cerita, umat Islam terbelah menjadi dua; pengikut Ali dan pengikut Aisyah yang didukung oleh Thalhah dan Zubair. Mereka yang berijtihad untuk menyegerakan pengusutan kasus pembunuhan Utsman berkumpul di Basrah setelah melalui drama (karena ada konflik antara mereka dengan gubernur Basrah). Mereka itu adalah Aisyah yang didukung oleh Thalhah dan Zubair. Sementara itu, Ali yang berada di Kufah—kota ini telah menjadi pusat pemerintahan setelah dipindahkan dari Madinah oleh Ali—lantas pergi ke Basrah dan kemudian mengutus Qa’qa’ bin Amr untuk menyelidiki Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Qa’qa’ pun bertanya kepada mereka perihal perkara apa yang tengah mereka urus. Mereka menjawab bahwa mereka meginginkan suatu perdamaian. Maka, Qa’qa’ pun merasa lega atas jawaban mereka. Qa’qa’ beserta kubu Basrah pun berdiskusi sehingga memunculkan kesepakatan untuk mengusut kasus pembunuhan Utsman dengan syarat agar pihak pemerintah (Ali) tidak menunda-nundanya lagi. Kesepakatan pun telah tercapai sehingga masyarakat pun bergembira akan keputusan yang hendak melahirkan kedamaian itu setelah berbagai rumor yang meresahkan umat Islam.

Hanya saja, mereka yang merasa terancam karena adanya kesepakatan tersebut pun tidak tinggal diam. Mereka inilah yang kemudian membuat fitnah dan huru-hara. Di antara mereka ialah Asytar Al-Nakha’I, Syuraih bin Awfa, Salim bin Tsa’labah, Ghulam bin Haitsam, dan satu nama yang lagi-lagi sudah tenar dalam urusan huru-hara, yakni Abdullah bin Saba’. Pada suatu waktu, mereka berkumpul dan membicarakan nasib mereka jika kubu Ali (Kufah) dan kubu Aisyah (Basrah) menemui kata damai. Terang saja, mereka terancam jika perdamaian itu benar-benar terjadi dan kesepakatan untuk mengusut pembunuhan Utsman itu segera dilakukan mengingat mereka itulah yang ada di balik huru-hara fitnah kubra.

Perkumpulan para pembuat onar ini pun menghasilkan suatu rencana adu domba. Sebagian dari mereka pergi ke kubu Ali dan sebagian yang lain ke kubu Aisyah. Rencana mereka adalah mengadu domba agar kedua kubu tidak jadi menjalin perdamaian. Benarlah, ketika para pembuat onar ini melancarkan aksinya di malam hari, hal itu membuat kedua kubu salah paham. Di malam hari, mereka membuat onar di masing-masing kubu sehingga kubu Basrah menyangka bahwa yang membuat onar adalah kubu Kufah, sebaliknya, kubu Kufah menyangka bahwa yang membuat onar itu kubu Basrah. Setelah itu, jadilah kedua kubu itu saling bermusuhan. Padahal, kesepakatan damai baru saja tercapai.

Pada gilirannya, meletuslah Perang Jamal. Disebut Perang Jamal karena Aisyah ketika itu mengendarai unta. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kata jamal yang merupakan kata berbahasa Arab itu berarti unta.

Sampai di sini, kita melihat adanya orang-orang egois yang, untuk menyelamatkan diri dari hukum, mereka itu justru memilih untuk menumpahkan darah umat Islam. Demi keselamatan golongan, mereka membuat huru-hara dan tidak ingin kedamaian terjadi pada umat Islam yang memang tengah dirundung keresahan. Lagi-lagi nama Abdullah bin Saba’ muncul dalam kasus ini. Dia beserta kroni-kroninya memilih selamat dan mengorbankan darah umat Islam tumpah menjadi ladang darah.

Mereka itulah yang tak ingin berdamai.

 

 

Supriyadi, penulis biasa