Membela Al-Ghazali

Siapa Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi Al-Syafi'i atau yang lebih sering dikenal Al-Ghazali itu? Kalau pertanyaan ini dilontarkan pada kalangan Muslim di Indonesia, maka jawaban yang muncul kurang lebih sebagai berikut.

Pertama, kalangan Muslim pesantren akan segera menyebut Al-Ghazali sebagai sang hujjah al-islam. Bagi kalangan pesantren, Al-Ghazali akan dianggap sebagai tokoh tasawuf yang sukses menghidupkan ilmu-ilmu keislaman melalui bukunya yang fenomenal, Ihya’ Ulum Al-Din. Kedua, kalangan Muslim dari dunia akademik (PTKIN/PTKIS) akan segera menyebut Al-Ghazali sebagai dalang hancurnya tradisi pemikiran filsafat dalam dunia Islam. Kalangan akademisi Muslim pada umumnya mengatakan bahwa Al-Ghazali itu memiliki andil yang cukup besar atas matinya filsafat dalam dunia Islam klasik (abad ke-12), terutama lantaran bukunya yang berjudul Tahafut Al-Falasifah.

Dari dua pembacaan terhadap Al-Ghazali di atas, tampaknya pembacaan dari kelompok yang kedua ini menarik untuk ditelaah lebih jauh. Memang benar, sejauh ini hasil bacaan yang sangat populer tentang Al-Ghazali di abad modern, baik di Barat, Timur Tengah, ataupun Indonesia, adalah bahwa dia merupakan seorang pemikir yang antifilsafat (rasionalitas). Akan tetapi, apakah Al-Ghazali memang benar-benar demikian? Apakah Al-Ghazali itu benar-benar menolak, bahkan membunuh filsafat, sehingga dia tak layak disebut filsuf? 

Mari kita lihat dulu bagaimana para ilmuwan Muslim klasik membaca pemikiran Al-Ghazali. Para ilmuwan klasik Islam memiliki pandangan yang terbelah terhadap Al-Ghazali, yaitu ada yang mengatakan bahwa pemikiran Al-Ghazali sangat filosofis dan ada juga yang menganggap pemikiran Al-Ghazali sangat bertolak belakang dengan filsafat. Kelompok pertama ini di antaranya adalah Abu Bakr Al-Turtushi (w. 1126), Abu Abdullah Al-Mazari (w.1141), Ibn Al-Arif (W. 1141), dan Ibn Taymiyah (w. 1328). Bagi para ilmuwan kelompok pertama ini, pemikiran Al-Ghazali, terutama yang tertuang dalam Ihya’ Ulum Al-Din, betapapun karyanya ini ditujukan untuk menghidupkan keilmuan agama, namun bagi mereka substansi dan gaya penulisan buku Al-Ghazali ini masih sarat dengan muatan pemikiran filosofis. Ajaran tasawuf yang dituangkan oleh Al-Ghazali dalam buku itu, menurut mereka, telah dikemas dalam nuansa filosofis. Sementara itu, kelompok kedua adalah Ibn Rusyd (w. 1198). Menurut filsuf asal Andalusia ini, sosok Al-Ghazali adalah representasi dari pemikir yang menolak filsafat, terutama dilihat dari bukunya yang berjudul Tahafut Al-Falasifah. Bahkan untuk menangkal argumen Al-Ghazali ini, Ibn Rusyd telah menulis buku tandingan yang berjudul Tahafut Al-Tahafut. Dalam buku itu, dia berujar bahwa Al-Ghazali itu hanya filsuf amatir yang memanfaatkan argumen-argumen dialektis dan demonstratif.

Keterbelahan pendapat tentang kefilsufan Al-Ghazali di masa Islam klasik tersebut tampaknya tidak berlanjut di era modern. Pembacaan terhadap Al-Ghazali di era modern lebih didominasi oleh para pendukung pendapat kelompok kedua daripada pertama. Mari kita simak bagaimana uraian para ilmuwan modern atas Al-Ghazali. 

Salomon Munk adalah salah satu penulis sejarah komprehensif tentang Arab dan Filsafat Islam pertama di dunia Barat modern. Dia menulis buku tentang sejarah Arab dan Filsafat Islam pada tahun 1844. Dalam kajiannya atas sejarah Arab dan Filsafat Islam tersebut, dia sempat berjumpa dengan pemikiran Al-Ghazali dan mengatakan bahwa dia adalah pemikir yang paling bertanggung jawab atas matinya filsafat dalam Islam, karena telah menulis buku Tahafut Al-Falasifah. Menurutnya, buku Al-Ghazali tersebut telah secara sistematis mendaratkan hantaman telak pada filsafat dan membuatnya sekarat tak berkesudahan di dunia Islam.

Apa yang dikatakan Munk tentang Al-Ghazali ini di kemudian hari ternyata terus dipegang teguh. Selang delapan tahun kemudian, Ernes Renan juga menulis buku yang berjudul Averroes et l’averroismeof. Dalam buku itu, dia juga mengulas Al-Ghazali sebagai salah satu lawan pemikiran Ibn Rusyd. Seolah terpengaruh Ibn Rusyd, Renan kemudian berkesimpulan bahwa Al-Ghazali adalah seorang pemikir yang menentang pemikiran rasional dalam Islam dan merupakan dalang utama di balik penolakan Islam atas filsafat yang dimulai sejak abad ke-12. Lebih jauh lagi, menurut Renan, al-Ghazālī hanyalah “salah seorang pemikir nyeleneh yang memeluk agama hanya untuk menantang nalar”.

Pada tahun 1883, Ignaz Goldziher, pemikir yang sangat berpengaruh dalam bidang studi Islam di Barat bahkan bisa dibilang salah satu guru utamanya, menguraikan pendapat yang senada dengan dua pendahulunya tentang Al-Ghazali. Dengan nada yang sedikit berbeda, dia menyatakan bahwa kritik Al-Ghazali dalam Tahafut Al-Falasifah hanyalah membantu membunuh dan mengakhiri penderitaan filsafat yang sudah lemah, karena realitasnya praktik pemikiran filsafat di dunia Islam sudah sekarat pada masa Al-Ghazali.

Berikutnya, T.J. de Boer (1866–1942), penulis buku History of Philosophy in Islam, juga menguraikan pendapat yang tidak jauh berbeda. Dalam buku tersebut dia menyatakan bahwa Al-Ghazali adalah seorang yang membuang berbagai usaha pengetahuan tentang dunia (sains) dan mengabdikan dirinya pada problem-problem religius.

Pada perkembangan berikutnya, tepatnya tahun 1962, William M. Watt, diam-diam masih melontarkan gagasan yang serupa tentang Al-Ghazali. Memang, Watt sempat menyatakan bahwa Al-Ghazali telah membawa secara bersamaan filsafat dan teologi. Namun demikian, Watt masih sebatas mengatakan bahwa Al-Ghazali hanya mengenalkan tentang logika silogisme ke dalam diskursus teologi Islam. Selain itu, dalam memandang Tahafut Al-Falasifah, Watt masih menganggap bahwa Al-Ghazali menentang keras para filsuf dan pasca penentangannya itu tidak lagi dijumpai filsuf dalam dunia Islam. Jadi, pada prinsipnya Watt masih sama dengan para pendahulunya yang menganggap Al-Ghazali sebagai orang yang bertanggung jawab atas matinya filsafat dalam dunia Islam.

Pandangan ilmuwan-ilmuwan Barat yang memandang sebelah mata kefilsufan Al-Ghazali tersebut diam-diam ternyata diadopsi oleh beberapa pemikir Islam modern. Yang pertama adalah Muhammad ‘Abed Al-Jabiri melalui proyek besarnya, Kritik Nalar Arab, menyatakan bahwa pemikiran Al-Ghazali telah meninggalkan luka yang akut dalam nalar Arab yang tetap menganga bahkan hingga sekarang. Dengan perkataan lain, Al-Jabiri meyakini bahwa Al-Ghazali merupakan orang yang bertanggung jawab atas matinya nalar rasional dalam tradisi nalar Arab.

Yang kedua adalah Madjid Fakhry. Melalui bukunya yang banyak dijadikan rujukan mahasiswa filsafat Islam, A History of Islamic Philosophy, dia mengatakan bahwa Al-Ghazali itu merupakan seorang penentang filsafat yang berhasil melumpuhkan filsafat dalam dunia Islam. Menurutnya, reaksi yang menekan dan hampir instingtif terhadap rasionalisme pada umumnya dan filsafat Yunani pada khususnya meledak dalam serangan Al-Ghazali terhadap neo-Platonisme Muslim, khususnya Al-Farabi dan Ibn Sina.

Pemikir yang ketiga adalah Harun Nasution. Dia mengatakan bahwa filsafat Islam itu terbagi menjadi dua aliran, yakni aliran filsafat rasional (mengakui besarnya kemampuan akal) seperti Al-Farabi dan Ibn Sina, serta filsafat tradisional (memberikan kedudukan lemah pada akal) seperti Al-Ghazali. Jadi, meskipun dia menempatkan Al-Ghazali sebagai filsuf, namun sejatinya dia tetap memosisikan Al-Ghazali sebagai tokoh yang melawan rasionalitas.

Yang keempat adalah Amin Abdullah. Dengan nada yang sedikit berbeda dengan Harun Nasution, pendahulunya, bapak integrasi-interkoneksi (paradigma keilmuan UIN Sunan Kalijaga) ini mengatakan bahwa Al-Ghazali itu menolak rasio secara total, mistikus ortodoks, dan penolak kausalitas. Melalui desertasinya yang berjudul "Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam", dia mengatakan bahwa melalui Tahafut Al-Falasifah, Al-Ghazali telah menolak hampir seluruh doktrin Aristoteles dan Plotinus serta filsuf-filsuf Muslim pendukung mereka, seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. 

Pandangan yang menyatakan bahwa Al-Ghazali menolak filsafat ini terus dilestarikan sejak abad modern hingga kini sehingga menenggelamkan pandangan klasik bahwa Al-Ghazali juga seorang filsuf. Di sini tampaknya menjadi penting untuk kembali menghidupkan polemik klasik tentang Al-Ghazali dan filsafat, sebagai upaya menciptakan dinamika kajian baru tentang Al-Ghazali. 

Pandangan yang menyatakan bahwa Al-Ghazali menolak filsafat itu sebenarnya merupakan pandangan yang cukup lemah. Kelemahan tersebut didasarkan pada beberapa alasan; Pertama, karena jika dilihat lebih saksama, Tahafut Al-Falasifah itu sebenarnya bukanlah kritik Al-Ghazali terhadap filsafat, melainkan, meminjam bahasanya I Sabra, upaya naturalisasi filsafat Yunani dalam tradisi pemikiran Islam. Meskipun dia menyebut kafir atas tiga ajaran filsafat dalam kitab tersebut, hal ini juga sebenarnya merupakan bagian dari proses naturalisasi filsafat Aristoteles ke dalam teologi Islam. Melalui pengafiran ini, Tahafut Al-Falasifah mengidentifikasikan elemen-elemen Aristotelian tersebut, yang menurut Al-Ghazali, tidak tepat untuk diintegrasikan. Dengan menyoroti tiga ajaran tersebut, Sang Hujjah Al-Islam ini kemudian membuka diskursus kajian Islam ke arah posisi-posisi penting filsafat yang lain.

Kedua, pandangan yang mengatakan Al-Ghazali menolak filsafat itu secara nyata telah mengabaikan adanya penggunaan bahasa-bahasa filosofis dalam karya-karya Al-Ghazali. Dalam beberapa karyanya, seperti Misykat Al-Anwar, Al-Ghazali memilih bahasa yang merefleksikan dan menyiratkan prinsip-prinsip kosmologi yang dikembangkan oleh para filsuf. Hal ini tidak muncul dalam karya-karya teolog Sunni yang lebih awal. Ajaran-ajaran dalam Misykat Al-Anwar tampaknya juga bertentangan dengan karya-karyanya yang lain, terutama dengan bukunya yang berjudul Al-Iqtishad fı Al-I’tiqad. Namun demikian, ketika Misykat Al-Anwar ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1904, para pengkaji Al-Ghazali di Barat, lebih banyak yang memilih untuk mengabaikannya. Lazarus-Yafeh membuktikan bahwa karya-karya tersebut, yang secara terang-terangan menggunakan bahasa filsafat itu palsu dan seharusnya tidak dikaitkan dengan sang teolong Muslim terbesar. Lazarus-Yafeh melihat bahwa terma-terma filosofis itu tidak hadir dalam karya-karya yang diterima kalayak umum sebagai tulisan Al-Ghazali. Berpijak dari itu, dia kemudian mengasumsikan bahwa segala penggunaan bahasa filosofis itu sesuatu yang tidak penting dan merupakan tambahan yang tidak autentik pada korpus Ghazalian. 

William M. Watt juga berpendapat sama dengan Lazarus-Yafeh tentang bab tertentu di dalam Misykat Al-Anwar yang menggunakan bahasa filosofis. Ini jelas sesuatu yang patut diragukan karena tidak dapat dimungkiri bahwa ilmuwan Muslim klasik sangat menghormati tradisi tekstual dari seorang penulis; manuskrip-manuskrip dicek demi ketepatannya dengan mengomparasikan dengan salinan-salinan lain dari karya yang sama. Jadi, tidak mungkin terma-terma filosofis dalam karya Al-Ghazali itu hanya merupakan sisipan yang tidak autentik.

Ketiga, beberapa ilmuwan yang memandang Al-Ghazali menolak filsafat itu umumnya hanya dibentuk oleh laporan Al-Ghazali sendiri dalam autobiografinya, Al-Munqidz min Al-Dlalal dan tidak memberikan peran yang memadai pada sumber-sumber tambahan utama tentang kehidupan dan kinerja Al-Ghazali, seperti beberapa catatan dari murid-muridnya dan koleksi surat-suratnya yang berbahasa Persia. Padahal, sumber-sumber tambahan itu berisi tentang banyak informasi yang mengatasi banyak ketidaktentuan yang tersisa tentang kronologi tindakan-tindakan dan keberadaan Al-Ghazali. 

Secara khusus, koleksi surat-suratnya yang berbahasa Persia menjelaskan detail yang kaya tentang keadaan di sekitarnya pada 15 tahun terakhir dari masa hidupnya. Di dalam karya-karya itu juga dijelaskan tentang beberapa kecenderungan filosofis dalam kehidupan Al-Ghazali yang tidak dijelaskan dalam autobiografinya. Alhasil, kekurangkomprehensifan sumber ini pada gilirannya menjadi rintangan terbesar bagi para ilmuwan pengkaji Al-Ghazali untuk menempatkan Sang Hujjah Al-Islam sebagai seorang yang berkontribusi dalam proses naturalisasi falsafah ke dalam diskursus teologi Islam.

Keempat, para ilmuwan yang mengatakan bahwa Al-Ghazali menolak tradisi filsafat itu umumnya dipengaruhi oleh pra-asumsi bahwa sosok Al-Ghazali antifilsafat. Di sadari atau tidak, para pengkaji Al-Ghazali itu pasti melakukan proses perujukan kepada karya-karya yang telah ada sebelumnya ketika melakukan kajian tentang Al-Ghazali. Sementara itu, hasil kajian tentang Al-Ghazali yang telah ada kebanyakan cenderung mengatakan Al-Ghazali adalah musuh filsafat dan bertanggung jawab atas matinya filsafat dalam dunia Islam. Oleh karena itu, sedikit-banyak, pasti bacaan umum tentang Al-Ghazali itu banyak memberi pengaruh dan membentuk alam bawah sadar kebanyakan peneliti Al-Ghazali.

Akhirnya, keempat hal di atas kiranya cukup menjelaskan bahwa kajian-kajian yang menyimpulkan Al-Ghazali itu menolak filsafat pada prinsipnya masih sangat problematis. Seturut dengan itu, ungkapan bahwa Al-Ghazali adalah musuh filsafat dan bukan seorang filsuf agaknya sangat patut untuk ditinjau ulang.

 

Muhammad Arif, dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga dan Peneliti The al-Falah Institute