Schleiermacher dan Seni Tafsir

Hermeneutika merupakan sebuah metode yang digunakan untuk melakukan pembacaan ulang terhadap teks kitab suci. Di dalam metode tersebut mucul pula istilah memahami. Interpretasi teks mulai disibukkan sejak istilah ‘memahami’ menjadi tren untuk hermeneutika modern yang saat itu tidak membatasi diri pada teks-teks agama, tetapi juga menjadi metode ilmu-ilmu sosial kemanusiaan.

Salah satu tokoh yang berperan penting dalam hermeneutika sebagai suatu bidang yang umum adalah Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834). Dia dikenal sebagai “Bapak Hermeneutika Modern” yang kali pertama berusaha membakukan hermeneutika sebagai satu metode umum interpretasi yang tidak hanya terbatas pada kitab suci dan sastra.

Friedrich Schleiermacher mengenalkan hermeneutika dengan istilah “seni memahami secara benar bahasa orang lain, khususnya bahasa tulis”. Meskipun para ahli memberikan definisi yang sedikit berbeda, namun mereka sepakat bahwa hermeneutika digunakan untuk memahami ungkapan-ungkapan yang sulit dipahami karena berbagai macam faktor. Hermeneutika yang muncul bersamaan dengan ide dan aliran Humanisme pada awal abad ke-16 digunakan untuk membantu memahami teks-teks sulit dari Bibel. Para teolog Kristen saat itu berupaya membuat aturan-aturan metodis tertentu yang dapat membantu menemukan “kebenaran Bibel” dan menentukan satu penafsiran yang benar dari sekian macam penafsiran yang mungkin dilakukan. Pemahaman semacam ini merupakan reaksi terhadap pandangan para teolog Kristen abad pertengahan yang mengatakan bahwa Bibel memiliki empat macam arti atau makna, yakni literal, moral, allegoris, dan anagogis/eskatologis.

Sejak diterbitkannya tulisan-tulisan Schleiermacher pada abad ke-19, hermeneutika berkembang menjadi disiplin pokok filsafat. Melalui Schleiermacher, hermeneutika mengalami perubahan yang signifikan dan tidak lagi memandang teks-teks yang ditafsirkan sebagai wahrheitsvermittler (perantara/penyampai kebenaran), tetapi sebagai ungkapan kejiwaan, ungkapan hidup, dan epoche historis seorang penulis. Berdasarkan pandangan ini, memahami sebuah teks berarti “mengalami kembali” dan “memasuki” kesadaran kehidupan dan epoche sejarah, tempat teks tersebut berasal.

Hermeneutika yang ditawarkan oleh Schleiermacher adalah hermeneutika yang bersifat teoretis, yaitu hermeneutika sebagai kajian penuntun bagi sebuah pemahaman yang akurat dan proporsional. Dengan asumsi awal bahwa perbedaan konteks memengaruhi perbedaan pemahaman, maka hermeneutika dalam hal ini merekomendasikan pemahaman konteks sebagai salah satu aspek yang harus dipertimbangkan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif.

Bagi tokoh kelahiran Jerman ini, ada dua tugas hermeneutika yang pada dasarnya berkaitan satu sama lain, yakni interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang. Sementara itu, aspek interpretasi psikologis memungkinkan seseorang menangkap “setitik cahaya” pribadi penulis. Oleh sebab itu, untuk memahami pernyataan-pernyataan pembicara, seseorang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. Semakin lengkap pemahaman seseorang atas suatu bahasa dan psikologi pengarang, akan semakin lengkap pula interpretasinya. Akan tetapi, tulisan ini hanya membahas secara khusus mengenai hermeneutika gramatikal yang diusung oleh Schleiermacher.

Dalam hermeneutika gramatikal, seseorang sangat penting untuk memperhatikan aspek bahasa dari teks yang ingin ditafsirkan, karena hermeneutika sebagai seni pemahaman sangat terikat dengan kosakata dan tatabahasa, dan sebuah pemikiran hanya akan bisa dipahami dengan bahasa. Setiap bahasa menunjukkan situasi dan kondisi bahwa sang pengguna pernah hidup dan setiap pengguna bahasa tersebut hanya bisa dipahami melalui bahasa nasional di masa kehidupan mereka.

Bagi Schleiermacher, penguasaan bahasa wajib dimiliki seorang penafsir. Dengan demikian, dia mengusungkan hermeneutika grammatikal, yaitu penafsiran berdasar analisis bahasa. Dia menekankan beberapa poin penting; Pertama, pemahaman bahasa ketika teks itu turun adalah hal yang penting dilakukan demi tercapai objektivitas makna. Kedua, korelasi antarkalimat dan ayat dapat memengaruhi pemaknaan bahasa. Ketiga, adanya hubungan part dan whole. Sebuah karya (whole) akan dipahami dari bahasa dan sejarah (part) pengarangnya. Begitu pula sebuah kata (part) akan dapat dipahami dengan melihat keseluruhan kalimat dan konteks pembicaraannya (whole).

Metode interpretasi gramatikal menyangkut pemahaman teks-teks yang membutuhkan pemahaman dari kata-kata dan bahasa yang umum. Seseorang harus memeriksa kata dalam kaitannya dengan kalimat, dan kalimat dalam konteks paragraf, dan seterusnya, sampai pemahaman teks yang akurat dapat tercapai. Hal ini bagi Schleiermacher disebut sebagai “lingkaran hermeneutis”. Schleiermacher pun menunjukkan bahwa studi linguistik, budaya, dan manusia itu sangat penting untuk metode penafsiran gramatikal.

Schleiermacher berpendapat bahwa penafsiran gramatikal adalah metode memahami makna yang ditentukan oleh cara yang di situ bahasa tersebut digunakan. Sementara itu, interpretasi psikologis merupakan metode untuk memahami bahasa tulisan atau lisan dari hasil pemikiran orang yang sedang berbicara atau menulis. Gramatikal dan unsur psikologis selalu digabungkan dalam wacana, sedangkan wacana tidak pernah murni tatabahasa atau psikologis. Unsur-unsur wacana tidak pernah murni objektif atau subjektif. Dengan demikian, hermeneutika dan kritik prihatin dengan pemahaman persamaan dan perbedaan yang mungkin terjadi antara unsur-unsur objektif dan subjektif. Sebagaimana pernyataannya, cara kerja hermeneutika itu untuk mengetahui tujuan pengarang dan untuk menghindari kesalahpahaman. Bentuk-bentuk kesalahpahaman yang harus dihindari adalah konten teks, nuansa teks, positive (tanpa kesengajaan), dan active (kesengajaan dalam memasukkan makna).

Untuk mengatasi kesalahpahaman tersebut, Schleiermacher menawarkan beberapa analisis, di antaranya; Totalitas bahasa (objectively historical analysis), sebuah analisis yang dapat memberikan pengetahuan sejauh mana sebuah ungkapan itu berhubungan dengan totalitas bahasa dan pengetahuan yang tertuang dalam ungkapan tersebut merupakan produk bahasa; Lalu, perkembangan bahasa (ojectively divinatory), sebuah analisis yang memberikan kesadaran bahwa ungkapan itu akan menjadi satu titik perkembangan bahasa; Selain itu, ada fakta pemikiran pengarang (subjectively historical), sebuah analisis historis terkait subjektivitas pengarang untuk mengetahui ungkapan-ungkapan tertentu merupakan fakta yang terdapat dalam pikiran pengarang; Yang terakhir, efek yang timbul dari pengarang (subjectively divinatory), analisis untuk mengetahui pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam otak pengarang yang memiliki efek padanya ketika menyampaikan suatu ungkapan.

 

Octri Amelia Suryani, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta