Identitas ‘Kita’ dalam Impitan Pascakolonialisme dan Islamisme

Edward Said dalam bukunya, Orientalisme, menegaskan bahwa bagi Eropa, Timur tidak hanya sekadar tempat untuk mencari sumber daya alam, tetapi juga dianggap sebagai yang liyan (the other). Pemahaman tentang the other ini kemudian memunculkan dominasi yang luar biasa dari Eropa. Oleh karena itu, menurut Said, dengan dominasi tersebut, budaya Eropa memperoleh kekuatan dan identitasnya dengan cara menyadarkan kepada dunia Timur sebagai wali atau pelindung.

Belanda sama seperti negara-negara penjajah lainnya. Ketika Belanda masuk Indonesia, mereka memiliki pra-anggapan bahwa Indonesia (Nusantara) memiliki peradaban primitif sebelum masuk wilayahnya. Pra-anggapan ini kemudian dibuktikan dengan cara mendatangi Indonesia yang kala itu terpecah-pecah semenjak kejatuhan Majapahit. Praktis sudah Belanda dengan mudah menancapkan dominasinya di tanah nusantara. Alih-alih hanya ingin merampas bumi Indonesia, Belanda juga melakukan upaya ‘pemberadaban’. 

Upaya pemberadaban Indonesia dengan cara mengenalkan budaya Barat. Belanda dalam hal ini memosisikan dirinya sebagai wakil Eropa yang memiliki peradaban ‘modern’. Peradaban modern ini kemudian menjadi tolok ukur apakah Indonesia pada masa itu sudah memiliki kehidupan modern atau masih primitif.  Edward Said menambahkan bahwa diri sebagai self dalam perbedaannya dengan liyan atau the other dikonstruksikan oleh budaya kolonialisme. Dengan begitu maka Belanda mengkonstruksikan terkait dengan identitas the other sebagai primitif, tidak beradab, tertinggal, bodoh, dan sebagainya. Sementara itu, diri sebagai self (Belanda) mengambil posisi berperadaban tinggi, cerdas, modern, dan sebagainya.

Konstruksi bisa dikatakan berhasil ketika ada orang Indonesia yang meniru budaya Barat. Hal ini bisa terjadi ketika ada interaksi antara orang Belanda dan Indoensia. Pada masa itu, yang memiliki akses untuk bisa berinteraksi dengan Belanda adalah orang-orang priyayi, atau mereka yang memiliki pangkat dalam pemerintahan pusat maupun daerah. Hubungan ini kemudian secara tidak langsung memengaruhi priyayi untuk memosisikan dirinya meniru orang Belanda, dari cara berpakaian, pemikiran, atau bahasa. Proses peniruan inilah yang dimaksud oleh Homi K. Bhabha sebagai mimikri.

Sebenarnya, menurut Bhabha, mimikri tidak hanya diartikan sebagai peniruan atau mengekor tetapi juga terkandung unsur mengejek. Ketika orang-orang Indonesia mengikuti gaya budaya Eropa atau Belanda, sesungguhnya dalam peniruan tersebut tidaklah sama persis. Orang-orang Indonesia masih tetap tidak bisa meninggalkan identitas kediriannya meskipun sudah berjuang untuk menyamakan dirinya dengan Eropa. Misalnya dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Minke sebagai tokoh utamanya ingin meniru bagaimana kehidupan Eropa yang ia ketahui. Akan tetapi dalam peniruannya, ketika Minke bertemu atau berinteraksi dengan orang-orang Belanda atau Indo, Minke tetap dipandang sebagai orang Jawa. 

Teori poskolonial ini, yakni mimikri, masih relevan untuk melihat fenomena yang akhir-akhir ini terjadi. Barat yang dulu dominan melalui bentuk kolonial sekarang berubah bentuk ke globalisasi. Banyak pengamat yang menilai bahwa globalisasi ini juga memuat bentuk kolonial baru atau yang disebut neo-kolonial. Negara-negara Barat tidak lagi menduduki negara dunia ketiga yang pernah dijajah. Di era globalisasi ini Barat hanya cukup duduk di atas kursinya dengan hanya memainkan hegemoni ilmu pengetahuan, ekonomi, dan budaya. 

Memasuki era globalisasi, kita tidak hanya mempertahankan dan menikmati budaya Barat dengan segala unsurnya, tetapi juga menerima budaya dari Timur Tengah. Masuknya budaya Timur Tengah ini sebagai dampak dari adanya globalisasi yang melanda Indonesia. Negara yang berpendudu mayoritas Islam, seperti Indonesia, menjadi ladang subur untuk dikuasai oleh wacana keislaman, baik dari segi pemikiran, budaya, atau lainnya. Untuk pertama kalinya bentuk penjajahan budaya tidak hanya terjadi satu arah tetapi tiga arah, yakni antara budaya lokal, budaya Timur Tengah, dan budaya Barat. 

Ketika dunia Barat saat ini menancapkan hegemoninya melalui dunia modern yang ia tawarkan, maka berbeda halnya dengan dunia Timur yang menawarkan keilmuan Islam dengan seperangkat budayanya. Budaya Barat menawarkan perangkat-perangkat teknologi dan ilmu pengetahuan, sedangkan dunia Timur menawarkan ‘solusi atau saran’ untuk meningkatkan kesalehan beribadah. 

Hal ini terlihat ketika busana Arab saat ini banyak penggemarnya. Penggunaan tren Arab ini menurut mereka bisa meningkatkan kesalehan dalam beragama. Apa yang dilakukan ini dengan dalil untuk mengikuti Nabi Muhammad. Padahal kalau dilihat secara saksama, antara budaya dan ajaran agama tidak ada keterkaitan satu sama lain. Sebab, jika agama hanya tereduksi ke dalam satu budaya saja maka agama akan kehilangan universalitasnya. Oleh karenanya, tidak heran ketika Gus Dur memperkenalkan konsep kontekstualisasi agama atau pribumisasi Islam. Gus Dur melihat ada perbedaan yang mendasar antara agama dan budaya, meskipun kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain. 

Jika budaya menjadi tolok ukur kesalehan seseorang dalam beragama, bukankah orang-orang yang menentang Nabi Muhammad pada masa dakwah juga memiliki budaya yang sama dengan beliau? Ketika ini dipahami dengan betul, maka sebenarnya tidak ada kesinambungan antara busana atau budaya dengan kesalehan beribadah. Dan, apakah ketika kita hidup seperti orang-orang Barat yang katanya lebih modern, membuat kita akan lebih terlihat modern dan bersikap sanksi terhadap identitas kita yang tradisional? Menurut Bhabha, sejauh apa pun kita meniru budaya orang dari luar, kita tidak pernah sampai ke situ. 

Maka, praksis sudah tantangan identitas kita di era ini semakin kompleks. Eropa tidak bisa kita lepaskan dari kebudayaan kita sebagai bentuk kebudayaan modern, sementara budaya Arab juga tidak bisa kita lepaskan sebagai bentuk peningkatan kesalehan beragama. Lantas, siapakah kita sebenarnya? 

 

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta