Kartini; Imajinasi Liar tentang Agama

“Duh, Tuhan,” kata seorang perempuan yang hanya tamat SD dalam munajatnya, “kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus mempersatukan semua orang sepanjang abad-abad yang telah lewat [malah] menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam.”

Mampukah lulusan SD, perempuan pula, memanjatkan munajat sedalam dan sekritis itu? Mampu. Tentu saja mampu. Sebab, perempuan itu adalah R.A. Kartini. Dia, kita tahu, termasuk perempuan Hindia Belanda (Indonesia) paling maju pada zamannya, yaitu akhir abad ke-19 hingga tahun-tahun awal abad ke-20.

Kartini adalah pribadi yang haus ilmu. Setelah lulus SD—waktu itu disebut Sekolah Rendah—Kartini banyak belajar secara autodidak di bawah bimbingan abangnya, R.M. Panji Sosrokartono, dan ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat. Karena itu, tak heran bila kualitas renungan Kartini setara dengan, bahkan dalam beberapa hal lebih matang daripada, kualitas renungan lulusan perguruan tinggi saat ini. Sedemikian matangnya sehingga buah pikirnya mampu melintasi batasan zaman. Seakan mengabadi. 

Sebagai contoh, sorotan tajam Kartini tentang agama masih terasa relevan untuk masa kini walaupun sorotan itu dilontarkan seabad lampau. “Munajat” di atas, yang mengandung kritik keras terhadap sejarah kelam interaksi agama-agama di dunia, merupakan bagian dari surat yang ditulis Kartini pada 6 November 1899. Surat ini dikirim kepada sahabat penanya, Estella “Stella” Zeehandelaar, aktivis feminis dan sosialis Belanda berdarah Yahudi—suatu racikan identitas yang disengiti kelompok muslim pemuja fanatisme buta.

Surat itu membuktikan, dalam imajinasinya tentang ketiadaan agama di dunia demi membangun persatuan dan kerukunan global, Kartini jauh mendahului John Lennon. Melalui lagu Imagine, John Lennon baru menyerukan kredo teologi “humanis”-nya pada 1970-an. Sementara itu, Kartini sudah dibuat gelisah oleh konflik antaragama semenjak lebih dari setengah abad sebelumnya.

Menariknya, imajinasi liar Kartini tersebut justru muncul dari kedalaman wawasannya tentang apa agama itu sesungguhnya dan untuk tujuan apa agama hadir di “bumi manusia” ini. “Agama,” tulis Kartini, “dimaksudkan sebagai karunia bagi umat manusia, untuk mengadakan ikatan antara makhluk-makhluk Tuhan. Kita semua adalah saudara bukan karena kita mempunyai satu leluhur, yaitu leluhur manusia, tapi karena kita semua adalah anak-anak dari satu Bapa, dari Dia, yang bertakhta di langit sana.”

Dalam suratnya yang lain, Kartini menyatakan pandangan senada: “Agama dimaksudkan sebagai karunia untuk membentuk ikatan antara semua makhluk Tuhan, cokelat dan putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apa pun. Semua kita adalah anak-anak dari satu Bapa, dari satu Tuhan.”

Kartini, santri K.H. Sholeh Darat Semarang itu, menggunakan kata anak dan Bapa bukan dalam pengertian harfiah, melainkan dalam pengertian kiasan, sebagaimana Nabi Isa, perintis agama Nasrani, menggunakan istilah-istilah tersebut dalam pengertian kiasan pula. Dalam bidang dakwah, demikian pula dalam ranah pendidikan, kiasan digunakan selalu untuk men-jelas-kan wawasan yang abstrak dengan cara yang konkret dan mudah dicerna.

Melalui kiasan anak dan Bapa, Kartini hendak menjelaskan bahwa seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk tanpa kecuali, berasal dari sumber yang tunggal: Tuhan. Maksudnya, semua manusia, semua makhluk, merupakan ciptaan Tuhan. Dari Tuhan-lah kita berasal dan kepada-Nya-lah kita pasti kembali. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Pernyataan Kartini tentang ketunggalan asal-usul spiritual manusia mengingatkan kita akan kearifan teologis yang dihayati Voltaire, sastrawan besar Prancis abad ke-18, salah seorang pemikir yang mengantar Eropa menuju gerbang Pencarahan (aufklarung). “Aku katakan,” ujar Voltaire, “kita harus mempertimbangkan seluruh manusia sebagai saudara kita. Apa? Orang Turki saudaraku? Orang Tionghoa saudaraku? Orang Thailand? Yahudi? Ya. Tanpa ada keraguan sedikit pun [kita semua adalah saudara]. Bukankah kita semua adalah anak-anak dari Bapa yang sama dan ciptaan dari Tuhan yang sama pula?”

Wawasan teologis Kartini dan Voltaire tentang persaudaraan universal seluruh umat manusia karena diciptakan oleh Tuhan yang sama ini, yang sekilas tampak mengancam eksistensi akidah dan agama (padahal sebenarnya tidak), ternyata bukan merupakan tema yang asing dalam Alquran, bukan pula pemikiran yang bertentangan dengan kitab suci umat Islam tersebut. Dengan kiasan yang indah, Alquran pun mengisyaratkan ketunggalan asal-usul makhluk. “Dan di bumi ini,” demikian firman Tuhan dalam Q.S. al-Ra’d: 4, “terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, yang disirami dengan air yang sama.”

Begitulah perumpamaan kehidupan di dunia. Dunia dihuni berbagai jenis makhluk yang berbeda-beda dan bervariasi sebagaimana kebun buah ditumbuhi beraneka rupa tanaman: anggur, kurma, pisang, manggis, rambutan, dan seterusnya. Segenap makhluk di bumi berasal dari Tuhan dan diciptakan oleh Tuhan, Yang Mahatunggal, sebagaimana halnya semua tanaman di kebun buah disirami dengan air yang sama.

Gagasan kesatuan makhluk yang berjangkar pada ketunggalan Tuhan diulang kembali oleh Alquran di surah yang lain dengan bahasa yang lebih harfiah dan terang, dilengkapi keterangan tentang hikmah keragaman yang membedakan satu makhluk dari makhluk lainnya. “Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. al-Hujurat: 13).

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim, secara tidak langsung Rasulullah Saw menjelaskan apa yang dimaksud dengan takwa. Beliau menasihati, “Jangan saling mendengki, jangan saling mencari keburukan orang lain, jangan saling membenci, dan jangan saling memunggungi (memusuhi). Janganlah membeli barang yang sudah dibeli pihak lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Seorang saudara tidak menganiaya, menelantarkan, membohongi, dan menghina saudaranya. Takwa itu di sini,” sambil berkata demikian Rasulullah Saw menunjuk dada beliau tiga kali. 

“Seorang muslim,” lanjut beliau “sudah bisa dikatakan jahat apabila dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lain haram darah, harta, dan kehormatannya.”  Seorang muslim diharamkan melukai dan membunuh muslim lain, mencuri hartanya, dan menjatuhkan atau merampas kehormatannya.

Tentu saja, manifestasi ketakwaan tidak terbatas dalam ruang lingkup komunitas muslim semata. Dalam kitab Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa seorang muslim tidak hanya harus bersikap baik terhadap tetangganya yang seagama. Dia juga perlu berlaku ramah terhadap tetangganya yang nonmuslim.

Di sini, saya harus mengutip satu hadis sahih lain, kali ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. “Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” pesan Rasulullah Saw, “hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Karena tidak merinci identitas tetangga yang harus dimuliakan, maka kata tetangga dalam hadis ini bermakna umum (‘am). Orang beriman harus memuliakan semua tetangganya tanpa pandang bulu: muslim atau kafir, kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Semua perlu dipergauli dengan akhlak yang bagus.

Persis seperti itulah wawasan keagamaan yang Kartini jalankan dan nyatakan melalui tulisan-tulisannya. Dalam suratnya kepada Nyonya van Kol, Kartini menulis: “[kita semua] adalah anak-anak dari satu Bapa. Jadi, [kita semua] adalah saudara dan saudari. Harus saling mencintai. Artinya, tunjang-menunjang, bertolong-tolongan. Tolong-menolong dan tunjang-menunjang, cinta-mencintai, itulah nada dasar segala agama”.

Maka jelaslah, agama Kartini adalah agama yang dianut dengan mesra dan teguh oleh para sufi besar yang telah menemukan hakikat kemanusiaan, yang pandangannya melampaui ilusi perbedaan makhluk. Dari segi sosial, agama Kartini adalah agama cinta, spiritualitas yang juga dihayati oleh Ibn ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, Sunan Bonang, Kahlil Gibran, dan Gus Dur. Agama yang bersumber langsung dari “ruh” ajaran para nabi, sejak Nabi Adam, Nabi Ibrahim, hingga Nabi Muhammad. Agama itu yang menyatukan, bukan yang memisahkan. Agama itu yang merukunkan, bukan yang memecah belah. Agama itu yang membebaskan manusia dari kegelapan kebodohan dengan cahaya kearifan. 

Apakah itu makna habis gelap terbitlah terang? Entahlah.

 

Widodo, masyarakat biasa