Mohammed Arkoun dan Dekonstruksi Ortodoksi

Dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer, sosok Mohammed Arkoun mengemuka di permukaan seiring dengan berbagai karya dan pemikirannya yang progresif. Arkoun memberikan kritik terhadap berbagai pemikiran yang dianggapnya memperlambat progresivitas pemikiran Islam yang terjebak pada area konservativisme, fundamentalisme, dan tradisionalisme yang kaku sehingga tidak bisa dihadapkan dengan problematika kontemporer.

Filsuf Muslim yang lahir di Aljazair tersebut tidak jarang mengkritik ketegangan yang dia jumpai selama studi dengan mengedepankan wajah Islam yang modern dan humanis. Arkoun mendobrak kemapanan berpikir dengan gebrakan progresif dalam studi dan pemikiran Islam.

Selama ini, berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti fikih, kalam, tasawuf, dan lain sebagainya terasa kaku dan “ketinggalam zaman”. Hal itu dikarenakan bahwa ajaran-ajaran tersebut dikuduskan, disakralkan, dan tidak boleh sembarangan dikupas karena sudah taken for granted. Dengan demikian, pemikiran Islam pun mengalami stagnasi yang pada gilirannya, studi dan pemikiran Islam seolah tidak bisa mengiringi perkembangan dan perubahan zaman.

Arkoun membangun kembali dan berusaha untuk menghidupkan nalar Islam yang kritis. Hal itu demi kemajuan pemikiran Islam. Dengan pemikiran yang berani, Arkoun pun menguraikan pemikirannya dengan mengkaji ulang wahyu Tuhan yang sakral, yakni Alquran.

Kajian Arkoun yang cukup berani ialah tentang pembacaan kembali Alquran. Dari beberapa pemikiran Islam kontemporer, Arkoun merupakan salah seorang yang secara serius memberikan perhatian tentang pembacaan Alquran secara lebih “radikal”, yaitu dengan mempersoalkan kembali esensi wahyu sebagai kalam Tuhan yang bersifat transenden dan wacana wahyu sebagai formasi kalam dalam bentuk immanen.

Ketegasan Arkoun tersebut bisa dibaca dengan konsekuensi pendekatannya terhadap Alquran melalui perangkat linguistik modern. Cita-cita utama pembacaan tersebut ialah karena Arkoun melihat adanya aksi penyalahgunaan Alquran untuk berbagai kepentingan, khususnya politik dan ideologi. Arkoun mengungkapkan bahwa lahirnya ortodoksi dan dogma agama yang kaku diakibatkan oleh ketidakmampuan untuk menangkap secara jernih pesan Alquran sebagaimana diturunkan dalam sebuah situasi sosial yang hidup.

Dalam pemikirannya, sebagaimana tulisan yang disunting oleh Johan H. Meuleman, Arkoun mempersoalkan, mengapa wacana Alquran yang semula bersifat historis, terbuka, spiritual-historis, historis-spiritual, toleran, luwes, fleksibel, di kemudian hari berubah menjadi bersifat tertutup, intoleran, kaku, radikal, dan lebih menampakkan wajah ideologisnya daripara spiritualitas keberagamaannya? Arkoun setidaknya mempunyai kesan bahwa Islam begitu beragam, setelah tereduksi dan terkompartementalisasi pada aspek fikih (mazhab apa?), kalam (aliran apa?), tasawuf (tarekat apa?), dan sebagainya, belum lagi jika harus ditambah dengan campur tangan kepentingan politik tertentu yang bertindak mengayomi, membela, dan menganakemaskan aliran pemikiran Islam tertentu, dan mengetepikan aliran yang lain.

Dengan demikian, pada dasarnya Arkoun mengupayakan dekonstruksi ortodoksi dalam pemikiran Islam yang telah memberhentikan nalar kritis yang dibangun oleh para ulama terdahulu pada zaman kejayaan Islam. Para ulama zaman kejayaan Islam dulu, dengan berani mengupayakan pemikiran-pemikiran yang menghubungkan antara wahyu dan realitas serta pemikiran yang kritis. Setelah itu, jadilah fondasi beserta bangunannya yang sangat kuat yang dapat dipraktikkan oleh masyarakat Islam.

Akan tetapi, karena intervensi politik, sebagian pemikiran tersebut mendapat pembakuan dan legalisasi penguasa sehingga diterapkan secara kaku demi melancarkan aksi politiknya. Dengan demikian, muncullah pemaksaan yang berupa dogma agama sehingga masyarakat teracuni olehnya. Pada gilirannya, nalar kritis tersebut menjadi baku dan kaku ketika dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda, terlebih lagi di era kontemporer ini.

Arkoun merupakan representasi ketegangan intelektual di kalangan umat Islam yang harus mendamaikan turats dan modernitas. Arkoun berupaya agar nalar agama diposisikan sebagaimana mestinya, bukan sebagai sarana untuk mencapai kepentingan politik tertentu. Hegemoni terhadap wacana akibat simbiosis penguasa dan ulama mengakibatkan wacana agama yang membeku akibat pemaksaan wacana tunggal terhadap Islam.

Untuk itulah Arkoun mengupayakan pembaharuan pemikiran Islam sebagaimana esensi wahyu Tuhan. Dalam analisisnya, Arkoun membangun kembali kajian tentang Alquran dan menghidupkan kembali pemikiran kritis tentangnya.

Arkoun, sebagaimana suntingan oleh Johan H. Meuleman, secara sadar melampaui batas analisis semiotis karena dia menaruh perhatian bukan saja pada teks atau wacana (Alquran), melainkan pada hubungan antara wacana, kenyataan (realitas, alam), dan persepsi (dari wacana dan kenyataan itu oleh manusia) yang diperantarai oleh bahasa. Arkoun juga banyak menaruh perhatian pada hubungan antara teks, penutur (pembicara, penulis) teks, dan pembaca teks.

 

Lumillahil Afif, Manajer Indonesia Book Store