Hassan Hanafi; Hermeneutika dan Kritik Fundamentalisme

Kita berada pada kenyataan, ada sekelompok umat Islam atau yang dikatakan oleh Farid Esac (2017) adalah para pemikir reformis. Pemikiran reformis sering menyatakan, krisis yang terjadi di dunia Islam karena tidak mampu untuk memberikan kontribusi yang disebabkan tradisi. Mereka menawarkan jalan keluar yaitu dengan meninggalkan tradisi dan “kembali kepada Alquran”. Jalan yang diambil oleh para reformis tersebut menentang fakta bahwa penafsiran tidak bisa sepenuhnya mandiri berdasarkan teks, tetapi memuat historisnya, baik historis saat teks itu muncul maupun saat teks itu ditafsirkan.

Kelompok reformis memang sangat banyak, namun salah satu kelompok semacam itu yang mempunyai ciri kekakuan, bagi Ernest Gelner, disebut sebagai pandangan fundamentalisme. Bagi Ernest, gagasan yang mendasari kelompok fundamentalis adalah bahwa iman harus dipegang teguh secara penuh dan harfiah, tanpa mengenal kompromi, keluwesan, interpretasi, atau pengurangan. Pandangan semacam itu menganggap doktrin sebagai inti agama ketimbang ritual, dan menganggap bahwa doktrin dapat ditetapkan secara persis dan paripurna.

Kelompok reformis yang memiliki pandangan fundamentalisme tersebut dalam memaknai agama sering kali bertentangan dengan budaya sekitar. Bahkan ia berusaha untuk menerapkan teks budaya generasi Islam awal agar diterapkan pada masyarakat saat ini. Usaha yang dilakukan ini banyak menuai pertentangan di masyarakat; menolak praktik keagamaan yang sudah mengalami transformasi sosial puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun. Salah satu yang diupayakan oleh kelompok ini adalah menerapkan teks agama tanpa memandang realitas yang ada di masyarakat. 

Salah satu yang menarik dari tulisannya Hassan Hanafi adalah term “kembali kepada sumber atau kembali kepada Alam?”. Baginya, gejala salafiyah, yang menyeru kepada autentisitas berciri mengajak kembali kepada yang lama di bawah slogan, “kembali kepada sumber”. Hassan Hanafi mengartikan kembali kepada kitab suci. Sebagaimana Hassan Hanafi menyatakan bahwa Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim adalah mewacanakan kembali kepada Alquran sesuai dengan yang masyhur, yaitu “Akhir umat ini tidak akan baik kecuali jika kembali kepada yang dulu menyebabkan generasi awal mereka menjadi baik”. 

Hassan Hanafi menganggap bahwa dakwah tersebut baik, baik secara sadar maupun tidak sadar. Selalu melihat penyelesaian masa kini terletak pada sikap kembali kepada masa lalu dalam empat generasi pertama dari yang paling hingga kurang utama, yaitu Rasulullah, Shahabah, Tabi’in, dan Atba’ Tabi’in. Namun demikian, baginya dakwah ini sebenarnya juga berbahaya bagi masa kini dan sarat dengan kesulitan dalam mendialogkannya dengan masa lalu.

Bahaya yang ditimbulkan pada masa kini, menurut Hassan Hanafi, tecermin dalam isolasi total dari masa kini. Lari daripadanya dan menolak orientasinya untuk memahaminya dengan cara berhubungan langsung, berperilaku di dalamnya, dan mengedepankannya dengan beramal. Setelah itu, menggantikan kelemahan itu dengan beromantisme ke masa lalu yang gemilang; mengambil salah satu fase sejarah dan memutuskan dari alurnya, bahkan menjadikannya sebagai model bagi angan-angan, kekaguman, dan perlindungan dari bencana internal zaman dan badai eksternal yang mengamuk.

Pandangan semacam ini merupakan pandangan fundamentalisme yang terjadi dalam Islam. Fundamentalisme agama mempunyai ciri kekakuan, tidak menerima keluwesan dalam beragama, dan mendewakan teks. Apabila pandangan ini terus digencarkan dan disemai, maka agama tidak akan mengubah masa kini sesuai dengan model masa lalu. 

Kalau mengambil kacamata Hassan Hanafi, pandangan semacam itu akan menemui dua kesulitan. Pertama, benturan dengan linguistik, karena sumbernya ialah kitab suci, yang tidak dapat diajak berkomunikasi kecuali dengan perantaraan bahasa. Benturan juga di dalam dunia tafsir, antara tafsir bahasa dan tafsir makna serta tafsir batini, karena bahasa Arab mengandung pasangan majas dan hakikat, lahir dan batin, muhkamat dan mutasyabihat, juga lain sebagainya.

Kesulitan kedua, terjebak dalam tafsir yang bertentangan dengan gerakan realitas dan menjadikan kembali kepada sumber sebagai sarana untuk menumpas perubahan realitas alamiah, khususnya jika memungkinkan. Sebenarnya masih banyak kesulitan apabila pandangan tersebut digunakan. 

Cara beragama yang kaku tersebut tidak melihat realitas yang ada yang memang akan menuai banyak pertentangan. Agama akan bertentangan dengan budaya, bertentangan dengan negara, dan agama bertentangan dengan lainnya. Berbeda ketika agama dijadikan sebagai etika sosial atau tuntunan moral, maka agama menjadi fondasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada era kini, menurut Ahmad Solahuddin dalam jurnalnya “Epistemologi Hassan Hanafi,” memang kita dihadapkan pada keadaan era yang sulit. Kita, menurutnya, harus berpegang pada Alquran yang diturunkan empat abad silam, di sisi lain kita dihadapkan dengan modernisasi yang meminta perubahan. Muncullah paradoksal, Alquran yang statis diturunkan empat abad silam menjawab kehidupan kita sekarang. Ahmad Solahudin memiliki anggapan bahwa pertentangan tersebut memunculkan para pemikir kontemporer yang mengelaborasi paradoks tersebut. Pemikir kontemporer tersebut salah satunya ialah Hassan Hanafi. 

Hassan Hanafi memiliki asumsi bahwa paradoks tersebut sebenarnya bisa diselesaikan melalui pendekatan ‘hermeneutis terhadap Alquran’. Ia mengambil pendekatan hermeneutika, menurut Ahmad Solahudin, mengingat kita tidak bisa melepaskan teks, tetapi juga harus memperhatikan realitas. Bagi Hassan Hanafi, harus ada gerak dialektis antara teks dan konteks dalam penafsiran yang kemudian disebut sebagai pembacaan hermeneutis.

Penafsiran saat ini dikatakan oleh Hassan Hanafi telah krisis orientasi karena penafsiran hanya untuk alat justifikasi terhadap suatu hal yang sudah mapan. Baginya, tafsir banyak yang berbicara tema teologis, fikih, dan lain-lain. Bagi Ilham B. Saenong (2018), ada yang mengatakan bahwa saat ini krisis epistemologis lantaran penafsiran yang sesungguhnya terhadap Alquran tidak pernah benar-benar terjadi, sebab yang sebenarnya terjadi adalah pengulangan tafsir-tafsir terdahulu. Di sini, baginya, penafsiran ketika dilihat dari sudut pandang epistemologis benar-benar mati. Sebaliknya, yang ada hanyalah justifikasi kebenaran secara sepihak.

Hassan Hanafi resah terhadap krisis orientasi dan krisis epistemologi tafsir. Baginya, umat Islam memiliki orientasi yang jelas dalam menafsirkan. Orientasi yang jelas menurutnya merupakan penggalian makna secara objektif dari Alquran, bukan serta-merta menggunakan Alquran untuk menjustifikasi kebenaran tertentu. Dengan orientasi yang jelas, seharusnya umat Islam memiliki kesadaran epistemologi tafsir, bukan hanya mengulang-ulang tafsir yang sudah ada.

tafsir harus menjawab realitas masyarakat. Seperti yang dipaparkan sebelumnya, bahwa teori tafsir adalah teori yang menghubungkan antara wahyu dan realitas. Teks agama seharusnya dijadikan sebagai solusi atas permasalahan masyarakat.

Dalam bahasa Hassan Hanafi, dogma sebagai sebuah ide atau motivasi tidak muncul dengan sendirinya tetapi untuk dipraktikkan, karena dogma itu untuk diamalkan. Tidak ada kebenaran teoretis dalam dogma yang dapat dicapai dengan mudah oleh pikiran manusia kecuali kemampuannya untuk menjadi pendorong dalam berbuat dan bertindak. 

Menurut Hassan Hanafi sebagai pernyataan total dalam kehidupan, tidak menganut paham dualisme yang membedakan antara kehidupan agama dan kehidupan sekuler. Hidup baginya hanyalah satu. Tidak ada perbedaan antara pendeta dan orang biasa serta antara spiritual maupun temporal karena hanya ada satu wahyu, satu dunia, dan satu umat.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa agama sebagai etika sosial memang sudah selayaknya diterapkan, bukan sebagai entitas formal sebagaimana yang dicita-citakan oleh kelompok Salafi yang memiliki pandangan fundamentalisme. Apabila agama diterapkan sesuai dengan teks tanpa mengenal realitas, maka akan mengalami pertentangan banyak hal. Termasuk pula, esensi Islam sendiri tidak dijalankan di dalam kehidupan sosial.

 

Nur Solikhin, mahasiswa Pascasarjana Psikologi Pendidikan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta