Zaman Aksial; Era Peradaban Religius

Setiap generasi lintas zaman pasti meyakini bahwa mereka telah mencapai titik balik yang amat penting dalam sejarah kehidupannya, namun masalah-masalah yang kita hadapi saat ini tampak lebih tak terpecahkan dan masa depan kita makin tak pasti. Banyak dari kesulitan kita menopengi krisis spiritual lintas iman yang begitu dalam. 

Selama abad kedua puluh dan permulaan abad kedua puluh satu, kita begitu banyak menyaksikan ledakan kekerasan dalam skala yang belum pernah tertandingi sebelumnya. Sedihnya, kemampuan kita untuk saling menyakiti dan merusak ikut meningkat seiring kemajuan ekonomi dan pengetahuan ilmiah kita yang luar biasa menjanjikkan.

Dalam situasi kita yang sulit sekarang ini, saya sangat yakin kita bisa mencari sekaligus menemukan ilham dari periode sejarah tertentu yang oleh filsuf Karl Jaspers, sebagaimana dikutip oleh Karen Armstrong dalam “The Great Transformation”, disebut sebagai Zaman Aksial (Axial Age), karena zaman itu merupakan titik penting perkembangan spiritual dan keimanan umat manusia.

Dari sekitar tahun 900 SM hingga 200 SM, di empat wilayah yang berbeda, telah lahir tradisi-tradisi besar dunia yang terus memelihara manusia hingga saat ini: Konfusianisme dan Taoisme di China, Hinduisme dan Buddhisme di India, monoteisme di Israel, dan rasionalisme di Yunani. Ini merupakan periode Buddha, Sokrates, Konfusius, dan seterusnya. 

Selama periode kreativitas yang kental ini, para jenius spiritual dan filsuf memelopori jenis pengalaman manusia yang sama sekali baru. Banyak di antara mereka yang bekerja secara anonim, namun sebagian lainnya menjadi orang-orang masyhur yang masih memengaruhi hidup kita dengan segenap emosi karena mereka memperlihatkan kepada kita tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia. 

Zaman Aksial boleh dianggap sebagai salah satu periode perubahan intelektual, psikologis, filosofis, dan religius yang paling berpengaruh dalam sejarah yang tercatat. Tak ada zaman yang menyamainya hingga masa Transformasi Akbar Barat, yang menciptakan modernitas ilmiah dan teknologi kita sekarang ini.

Dalam catatan Armstrong (2006), manusia pertama yang mengupayakan spiritualitas Zaman Aksial adalah kaum penggembala yang hidup di padang stepa Rusia Selatan, yang menyebut diri mereka bangsa Aria. Bangsa Aria bukan merupakan kelompok etnis yang jelas. Jadi nama ini bukan istilah yang menyangkut ras, melainkan penegasan kebanggaan dan bermakna sesuatu yang mendekati “mulia” atau “terhormat”. 

Bangsa Aria merupakan jaringan longgar suku-suku yang memiliki kebudayaan yang sama, karena mereka menggunakan bahasa yang nantinya akan membentuk basis bagi beberapa bahasa asli Asia dan Eropa. Sampai sekitar tahun 1500 SM, mereka terus hidup berdampingan dengan damai, saling berbagi budaya dan tradisi religius yang sama.

Karl Jaspers membuat kita semua tertarik pada suatu Zaman Aksial beberapa abad sebelum Kristus, saat beberapa agama besar mulai muncul di dalam berbagai kondisi geografis dan kultural. Esensi dari gagasan Zaman Aksial ini adalah adanya perubahan yang berlangsung dengan jelas pada bentuk peradaban dan kandungan kesadaran manusia, sehingga hal ini menjadikan suatu reorientasi sebuah pandangan normatif dan nilai-nilai baru bagi tatanan peradaban umat manusia yang hingga kini masih bertahan dan begitu hidup dalam kondisi masyarakat yang terus berubah.

Zaman Aksial merupakan periode transformasi kesadaran, agama, dan kebudayaan yang terjadi di berbagai tempat dalam kurun waktu sekitar tujuh abad lamanya. Periode ini bisa disebut sebagai garis pemisah yang fundamental dalam sejarah manusia. Sebelumnya, kesadaran manusia lebih bersifat kesukuan, kolektif, ritual, mistis, dan primitif. Setelah itu baru muncul apa yang kita kenal sekarang sebagai kebudayaan atau peradaban manusia yang hingga kini masih eksis dan menjadi bagian penting bagaimana umat manusia menghayati kebenaran Ilahi. 

Jaspers berpendapat bahwa semua perkembangan peradaban di kemudian hari terjadi di dalam cakrawala yang telah dibentuk oleh Zaman Aksial, “Hal yang baru terjadi di berbagai belahan dunia pada zaman ini (Aksial), adalah bahwa manusia menjadi sadar akan yang Ada (Being) sebagai keseluruhan, sadar akan dirinya dan keterbatasannya…manusia mengalami adanya Yang Mutlak di dalam kedalaman dirinya dan di dalam kejelasan transendental…langkah menuju universalitas telah diambil dalam setiap pengertiannya, Karl Jaspers”.

Tradisi-tradisi Zaman Aksial memberi tekanan penting yang baru pada individu serta menuntut agar setiap orang “mengenal dirinya”. Ada perasaan baru dalam setiap individu untuk memiliki individu yang sesungguhnya sebagai langkah menuju transendensi diri. Jaspers melihat kesadaran Zaman Aksial sekarang ini sebagai tantangan bagi komunikasi lintas batas-batas tradisional dan sebagai celaan terhadap klaim eksklusif suatu komunitas, yang menganggap dirinya sebagai pemilik kebenaran. Dengan menggunakan terminologi Barat, Jaspers melihat bahwa Allah telah menyatakan diri dalam berbagai cara dan memberikan berbagai jalan yang berbeda bagi manusia untuk menemukan Dia.

Namun demikian, dialog di antara agama-agama Zaman Aksial terjadi selama beberapa waktu, dan beberapa orang berpikir bahwa perjumpaan agama-agama dunia pada waktu-waktu tersebut, dipadukan dengan jaringan kesadaran dan kehidupan global yang demikian cepat, akan mengantarkan kita ke dalam Zaman Aksial yang baru. Bagaimanapun, tradisi religius yang berbeda-beda telah lewat, dan masa depan kita makin terjalin satu sama lain.

Bila kita menerapkan standar gerakan ganda, dengan melihat era emas Zaman Aksial dan kondisi-kondisi kita hari ini, apa kiranya yang membedakan dari kedua periodesasi ini? Bukankah zaman ini dan seluruh nilai yang menopangnya adalah warisan masa lalu yang kita sebut Zaman Aksial? Namun, benarkah kita mewarisi nilai-nilai agung itu atau justru makin menjauh?

Banyak peristiwa genting yang telah kita hadapi dalam beberapa dekade terakhir, tampaknya justru menggambarkan betapa kita—sebagai pewaris nilai-nilai agung Zaman Aksial—begitu payah dalam mengemban amanah besar ini. 

Misalnya, ledakan kekerasan yang terjadi hampir di semua lini kehidupan kita, mulai dari kekerasan atas nama agama, politik, militer, ekonomi, lingkungan, ilmu pengetahuan, dan seterusnya, telah menandakan bahwa kita tampak lebih agresif ketimbang orang-orang dulu. Kita pun seakan memiliki kemampuan tak terbatas untuk saling menyakiti dan merusak, dengan begitu mudahnya mencampakkan nilai-nilai religius dan berikutnya menjadi subjek immoral.

Dengan kata lain, agama, yang harusnya menjadi jalan damai dan instrumen penting dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang teramat sulit, malah justru mencerminkan kekerasan dan menjadi alat pembenar bagi berbagai tindakan tak bermoral. Kebenaran, dengan demikian, dimonopoli oleh kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kepentingan terselubung dan akhirnya, agama diperalat untuk tujuan yang tidak benar. Betapa menyedihkannya bila berbagai praktik intoleransi, seperti terorisme dan kebencian begitu banyak yang dimotivasi oleh agama.

Kiranya, kita perlu menengok kembali nilai-nilai yang ditorehkan di Zaman Aksial, untuk diaktifkan kembali sebagai jawaban berbagai problem dan kondisi zaman sekarang. Kita perlu mencari pertolongan melalui zaman itu, betapapun orang-orang bijak dulu hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan sekarang. 

Pendek kata, kita harus lebih mampu menciptakan inovasi iman agar benar-benar mencerminkan realitas dunia saat ini. Kearifan di Zaman Aksial, agaknya dapat dijadikan pendorong munculnya inovasi baru itu, yakni tentang bagaimana kita bersikap terhadap kebenaran, perbedaan keyakinan, dan seluruh pandangan hidup umat manusia yang beragam. 

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari Zaman Aksial adalah bahwa mereka tidak begitu memusingkan masalah doktrin agama yang begitu normatif dan klaim metafisik. Di titik ini, yang terpenting bukanlah apa yang dipercayai, melainkan bagaimana berperilaku. Dengan begitu, agama adalah soal melakukan hal-hal yang mengubah hidup pada tingkatan yang sangat mendasar, yakni pada sisi kemanusiaan.

Cara bersikap ini sangat menohok bagi orang-orang yang merasa dan memandang dirinya lebih religius dari yang lain, merasa imannya benar dan yang lain salah, atau hanya sekadar ingin mengatakan bahwa dirinyalah yang paling benar. Oleh karenanya, para guru bijak di Zaman Aksial memiliki pesan yang begitu penting untuk zaman kita sekarang, bahwa dalam hal memastikan jenis kepastian mutlak dalam agama melalui jalan kekerasan dan pemaksaan kepada “yang lain”, merupakan tindakan yang tidak dewasa, arogan, tidak realistis, dan tentunya menyesatkan.

 

Rohmatul Izad, alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta.