Tuhan: Kekasih Macam Apa?

Sufisme ‘memosisikan’ Tuhan sebagai Kekasih. Akan tetapi sebagai Mahagaib, sebagai Tuhan yang, dalam kata-kata Nietzsche, Tak Dikenal, selalu ada alasan—yang tak pernah terpuaskan ribuan jawaban—untuk bertanya, jika dan hanya jika Tuhan memang adalah Kekasih, lalu Kekasih macam apakah Dia ini? Di Istanbul ini, saya disuguhi glimpse of consciousness bahwa pertanyaan ini lebih kompleks daripada yang disuguhi Syeikh Ibrahim dalam kitab Tijan al-Durari. Mungkin nanti saya akan meminta tolong pada Karen Armstrong. 

Hanya saja, saya akan mengunjungi beberapa spot wisata lain di Istanbul. Saya ke Dolmabache Museum, walau tidak bisa masuk. Makan siang di pinggir lantai setelahnya dan dilanjutkan blusukan ke Grand Bazaar. Melanjutkan perjalanan wisata ke Miniaturk yang ditutup dengan belanja es krim. Dari sana, saya menuju Panorama. Museum yang mengabadikan prestasi luar biasa seorang sultan yang disebut Rasul sebagai sultan dengan pasukan terbaik, sultan yang berhasil menaklukkan Konstantinopel: Sultan Mehmet II “al-Fatih”.

Dengan justifikasi hadis dan epiknya perjuangan menaklukkan kota yang konon tak tertembus itu, yang diwarnai adegan penemuan makam Ayyub al-Anshari yang rumahnya menjadi rumah pertama yang disinggahi Rasulullah kala berhijrah ke Madinah, kisah penaklukkan 1453 ini sering dianggap sebagai satu di antara kesuksesan dalam catatan emas sejarah Islam. Tak heran jika kemudian penaklukkan ini dijadikan media untuk memompa patriotisme anak muda Muslim oleh para pengusung ide khilafah semisal HTI. 

Sebagai penyuka museum, panorama menawarkan pengalaman yang mengesankan. Sambil berjalan dari satu sisi ke sisi yang lain saya diberi penjelasan ihwal penaklukan Konstantinopel tersebut, yang dengan segera mengingatkan saya pada film semi-dokumenter tentang ini. 

Ketika akhirnya saya masuk ke bagian atas museum, persis di bawah kubah terdapat lukisan langit dan bala tentara Sultan, diorama yang membangkitkan kenangan akan heroisme peperangan dan perjuangan hingga engkau akan tiba-tiba ingin ikut memegang senjata dan berteriak takbir, berteriak nama Tuhan, berharap menjadi martir. 

Ketika malam harinya saya naik fery menyeberangi Selat Gibraltar, dingin dan sendirian, saya merenungi kembali hari-hari di Turki ini, mengingat kembali pengalaman merasai diorama Penaklukan Konstantinopel. Dan, saya tidak bisa mencegah diri saya untuk bertanya: apakah memang benar, Tuhan kita, Kekasih kita ini, adalah Tuhan yang menyenangi peperangan? Apakah Dia ini, Kekasih yang gemar melihat para pencintanya bertarung atas nama-Nya? Masing-masing membawa-serta keyakinan akan Siapa Sebetulnya Dia ini, lalu berjuang sampai titik darah penghabisan? Mengakibatkan selain kematian juga keruntuhan dan kehancuran? Atau, semua ini semata adalah konsekuensi tak terelakkan dari ketidakmampuan kita secara utuh-penuh memahami-Nya? 

Saya tidak ingin memberi gambaran hitam-putih atas perang, sebetulnya. Yang ingin saya garisbawahi adalah pencarian kita, manusia, akan Sang Muasal. Dan, hal tersebut secara apik dan epik dijelaskan oleh Karen Armstrong dalam bukunya, Sejarah Tuhan. Menurut Armstrong, walau kehadiran Tuhan kepada para Nabi Bani Israel tersebut terasa sama-beratnya—hingga Musa pingsan di Tursina dan Yesaya dipenuhi teror—citra Tuhan yang ditangkap oleh kaum-kaum Bani Israel melalui nabi-nabi mereka ternyata berbeda-beda. Tuhannya Musa dianggap Tuhan Penakluk, Tuhannya Yesaya penuh kesedihan, Tuhannya Yesus menawarkan kasih sayang tanpa syarat. Di sisi lain, Sidharta Gautama mengalami momen kehadiran Tuhan di dalam dirinya melalui suatu inspirasi yang menggetarkan dan menenteramkan batin. Jika dalam Islam, Allah Sang Kekasih menyadari betul bahwa Dia Menciptakan, Socrates membangun idea bahwa Tuhan, “tidak menaruh perhatian terhadap kejadian-kejadian duniawi, tidak mewahyukan dirinya di dalam sejarah, tidak pernah menciptakan alam, dan tidak akan mengadili di Hari Kiamat”. 

Namun begitu, idea tentang Kekuatan Luar Biasa yang melatarbelakangi semua hal, sama sejalannya. Hanya mengenai (si)apa Kekuatan Luar Biasa itu, kita kemudian tidak pernah bisa sepakat. Ketidaksepakatan yang, dalam catatan Armstrong, kadang berakhir di medan perang. Hal yang kemudian membawa saya pada asumsi bahwa ‘kesempurnaan agama’ tidak selalu bisa ‘secara sempurna’ manusia manifestasikan sehingga catatan panjang sejarah ‘kehidupan agama’ memang tidak bisa selalu ‘sempurna’—bersih tanpa noda dan catat dan ‘kelemahan’. Belum lagi fakta bahwa sejak dulu hingga sekarang, ada sebagian orang yang menggunakan agama sebagai justifikasi untuk merebut kekuasaan, melancarkan kudeta, dan perang. 

Itu sebabnya saya percaya bahwa jihad akbar bersifat introspektif dan tidak menyerang-keluar apalagi destruktif. Ia adalah jihad melawan diri sendiri. Sebuah upaya tanpa terakhir untuk menyucikan hati dan jiwa: tazkiyatun nafs. Jihad itulah yang ditawarkan sufisme, poin itu pulalah kiranya yang membuat saya lebih merasa terkoneksi dengan Konya ketimbang Istanbul. 

Dalam sufisme, seorang individu didorong lebih memerhatikan kekurangan dan kesesatannya sendiri-sendiri, untuk memanifestasikan wajah-Nya dalam perilaku kesehariannya sendiri-sendiri, sehingga mampu menjadi  satu percik citra-Nya di muka Bumi. Tirakat ketasawufan tidak menawarkan pedang dan pertumpahan darah, ia menawarkan jalan damai menghidupi dan memberjalani kehidupan, yang di situ perbedaan pemahaman akan-Nya dikomunikasikan secara arif dan penuh tenggang rasa, bukan dengan kedut-saraf dan angkara murka. Karena sepertinya Armstrong benar ketika bilang, “Setiap individu akan mengalami realitas ‘Tuhan’ dalam cara berbeda demi memenuhi kebutuhan temperamental khas individu tersebut”. 

 

Irfan L. Sarhindi, Pengasuh Salamul Falah, Lulusan University College London