Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi

Islam merupakan sebuah ajaran agama yang bersifat universal. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam tidak hanya diperuntukkkan bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat manusia secara keseluruhan. Meskipun demikian, Islam tetap saja menjadi sebuah agama yang memiliki sistem peribadatan tersendiri, sehingga hal itu yang membedakan peribadatan Islam dengan agama lainnya. Hal ini bisa kita lihat dengan adanya sistem salat, puasa, zakat, haji, dan syahadat. Kesemuanya ini merupakan tuntunan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Cara pendekatan diri yang dilakukan oleh umat Islam semenjak kepergian Nabi Muhammad Saw telah mengalami perkembangan. Umat Islam menemukan sebuah cara alternatif untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, yaitu dengan mengembangkan aspek spirualitas namun dengan tetap menjalankan syariat Islam sesuai tuntunan agama. Dalam tradisi Islam, aspek spiritualitas ini dikatakan sebagai tasawuf. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, memang istilah tasawuf ini tidak digunakan ketika Nabi masih hidup. Kata tasawuf berasal dari sebuah komunitas pada abad ke-2 Hijriah yang gemar menggunakan kain wol, dalam bahasa Arab disebut shauf. Kain sejenis itu sangat digemari oleh para zahid sehingga menjadi simbol kesederhanaan pada masa itu.

Akan tetapi, penjelasan secara lebih konstruktif terhadap tasawuf sendiri rupanya sulit untuk dicarikan kesepahaman di kalangan para cendekiawan. Kesulitan ini, menurut Rivay Siregar, berpangkal pada esensi tasawuf sebagai pengalaman rohaniah yang hampir tidak mungkin dijelaskan secara tepat melalui bahasa lisan. Masing-masing orang yang mengalaminya mempunyai penghayatan yang berbeda dari orang lain sehingga ungkapannya juga melalui cara yang berbeda. 

Meskipun demikian, Abu Al-Wafa Al-Taftazani mencoba mengajukan definisi yang hampir mencakup seluruh unsur substansi dalam tasawuf. Ia mengatakan bahwa tasawuf merupakan sebuah pandangan filosofis yang bertujuan mengembangkan moralitas jiwa manusia, yang dapat direalisasikan melalui latihan-latihan praktis tertentu yang membuahkan larutnya perasaan dalam hakikat transendental. Pendekatan yang dilakukan dengan cara dzauq (cita rasa) yang menghasilkan kebahagiaan spiritual. Pengalaman seperti ini tak kuasa diekspresikan melalui bahasa biasa karena bersifat emosional dan personal (Abu Al-Wafa’ Al-Taftazani, 1976).

Pada tahap pertama tasawuf memiliki ajaran khas yaitu zuhd dalam pengertian yang masih sangat sederhana. Ketika abad ke-1 H dan ke-2 H, sekelompok kaum muslim memusatkan perhatian dan memprioritaskan hidupnya hanya pada pelaksanaan ibadah untuk mengejar keuntungan akhirat. Pada abad ini diwakili oleh Al-Hasan Al-Bashri (w. 110 H) dan Rabi’ah Al-Adawiyah (w. 185 H). 

Kehidupan model zuhd kemudian berkembang pada abad ke-3 H ketika kaum sufi mulai memperhatikan aspek-aspek teoretis psikologis dalam rangka pembentukan perilaku hingga tasawuf menjadi sebuah ilmu akhlak keagamaan. Dengan demikian, telah berkembang ilmu khusus di kalangan kaum sufi, yang berbeda dengan ilmu fikih, baik dari segi objek, metodologi, tujuan, maupun istilah-istilah yang digunakan.

Pada abad ke-3 H dan ke-4 H muncul tokoh tasawuf seperti Al-Junaidi dan Sari Al-Saqathi serta Al-Kharraz. Al-Junaidi mendasarkan tasawufnya dengan Alquran dan Hadis Nabi dengan ketat. Pada periode ini juga muncul aliran baru tasawuf yang diperkenalkan Al-Husain bin Manshur Al-Hallaj dengan ajaran hulul-nya pada 309 H. Tokoh lain yang mewakili abad ke-3 H dan ke-4 H adalah Abu Yazid al-Busthami dengan mengenalkan konsep ajaran fana’.

Pada abad ke-5 H, Al-Ghazali muncul untuk mengkritisi ajaran tasawuf yang diajarkan oleh Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Busthami karena dirasa terlalu susah untuk diterima di masyarakat umum. Akhirnya, Al-Ghazali mencoba membangun konsep tasawuf sendiri sebagaimana yang termuat dalam kitabnya Al-Munqidz min Al-Dlalal.   

Untuk melihat perbedaan dari tokoh-tokoh spiritual Islam klasik di atas bisa dikaji melalui ajaran atau konsep yang telah dibangun. Secara umum, menurut Al-Taftazani, konsep-konsep tasawuf yang diajarkan oleh tokoh-tokoh tersebut bisa dilihat dari dua sisi; tasawuf falsafi dan tasawuf sunni. 

Konsep tasawuf falsafi dibangun atas dua fondasi, yaitu dari Alquran dan Hadis Nabi serta dengan pemikiran-pemikiran filsafat, khususnya filsafat Neo-Platonis. Ciri umum dari aliran filosofis antara lain banyak ungkapan dan istilah yang digunakan samar-samar, yang terkadang hanya dipahami oleh kalangan tertentu, terutama yang memahami dan mendalami ajaran tasawuf jenis ini, sehingga tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metode didasarkan pada rasa (dzauq). Ibn Khaldun kemudian menyimpulkan dalam kitabnya, Muqaddimah, bahwa ada beberapa objek utama yang menjadi perhatian utama tasawuf falsafi, di antaranya: 

  • Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri. 
  • Iluminasi atau hakikat yang terungkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat ketuhanan, wahyu, kenabian, hakikat realitas segala wujud yang gaib maupun yang tampak dari susunan kosmos terutama tentang penciptaan dan ciptaannya.
  • Peristiwa-peristiwa dalam alam yang berpengaruh terhadap berbagai kekeramatan dan keluarbiasaan. 

 

Tokoh-tokoh yang mewakili tasawuf falsafi yaitu  Abu Yazid Al-Busthami yang dikenal dengan konsep ittihad (persatuan), Al-Hallaj dengan konsep hulul (pengalaman persatuan dengan Tuhan), Ibn Arabi dengan konsep wahdatul wujud. Sementara itu, di Indonesia ada Hamzah Fansuri dengan konsep filsafat wujudiyah dan Syaikh Siti Jenar dengan konsep Manunggaling Kawula-Gusti.

Di sisi lain, tasawuf sunni dikenal dengan hanya mendasarkan pada  Alquran dan Hadis Nabi saja dan tidak meminjam terminilogi dalam filsafat. Dalam kesejarahannya, sebagaimana telah disinggung di atas bahwa asketisme atau zuhd merupakan cikal-bakal tumbuhnya tasawuf, dan sumber dari asketisme itu berasal dari ajaran Islam itu sendiri. Gerakan asketisme dalam Islam dapat dibedakan kepada empat aliran utama, yaitu aliran Bashrah, aliran Madinah, aliran Kufah, dan aliran Mesir.  Adapun ciri aliran Madinah adalah kekuatan dan kekhusyukan beribadah kepada Allah, dzikrullah, dan konsekuen serta konsisten dalam sikap walaupun datang berbagai godaan dari kehidupan duniawi.

Secara umum terdapat beberapa ciri khas dari tasawuf sunni yang kemudian menjadi pembeda dari tasawuf falsafi (Rosihan Anwar dan Mukhtar Solihin: 2004). Ciri tersebut di antaranya adalah: 

  • Tidak menggunakan terminologi-terminologi filsafat sebagaimana terdapat dalam tasawuf falsafi. Terminologi-terminologi yang dikembangakan tasawuf sunni lebih transparan.
  • Lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Tuhan dan manusia. 
  • Adanya kesinambungan antara hakikat dengan syariat.
  • Lebih terkonsentrasi pada soal pembinaan moral, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan riyadlah (latihan mental) dan langkah takhalli, tahalli, serta tajalli.

 

Tokoh-tokoh yang masuk dalam kategori ini ada Al-Hasan Al-Bashri dengan konsep zuhd, khauf, dan raja’; Rabi’ah Al-Adawiyah dengan konsepnya, mahabbah; Al-Ghazali; serta Junaidi Al-Bahdadi. Sementara itu, pengaruh tasawuf sunni di Indonesia memiliki pengaruh yang besar karena peranan dari ulama terdahulu yang kebanyakan menganut paham tasawuf sunni.

Pembedaan kedua jenis tasawuf tersebut sebenarnya ingin memudahkan orang memahami ilmu tasawuf. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada kesalahpamahan yang berimbas kepada saling menuduh satu sama lain. Kematian Al-Hallaj yang dibunuh, tuduhan sesat dan kafir yang diterima oleh Hamzah Fansuri, dan sesatnya ajaran Syekh Siti Jenar harus kita jadikan pelajarn bahwa memang itu semua termasuk dalam kategori tasawuf. Kesemua ajaran yang dikembangkan oleh orang-orang terdahulu tidak lain hanya upaya merumuskan bagaimana umat Islam mendekatkan diri kepada Tuhan melalui tasawuf.

 

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta