Falosentris: Gambaran Ketidakadilan Gender Era Pascamodern

Di saat pola hubungan antara laki-laki dan perempuan sangatlah tidak berimbang, yang di situ laki-laki terlalu dominan dari sisi sosial, ekonomi, hingga politik, perjuangan melawan eksploitasi atas perempuan adalah perjuangan yang tak akan pernah usai. Hal itu dikarenakan bahwa dalam pola hubungan yang tak seimbang tersebut, perempuan sangat rentan mengalami eksploitasi walau tidak semua laki-laki atau tidak semua perempuan diuntungkan atau dirugikan.

Representasi perempuan dalam budaya massa, seperti film dan iklan, memang harus dilihat secara saksama. Mari kita merujuk pada apa yang dikutip oleh Dominic Strinati pada tesis Mulvey di Visual Pleasure and Narrative Cinema, “kenikmatan visual dalam film mainstream Hollywood berasal dari ….(di situ penonton diajak menonton dengan pandangan laki-laki terhadap perempuan yang diobjektivikasi laki-laki).

Dalam tesis Mulvey tersebut kita bisa melihat dalam budaya massa, seperti film, pola hubungan yang sangat patriarki masih terjadi bahkan bisa tidak disadari telah terjadi eksploitasi. Hal itu dikarenakan bahwa perempuan ditawarkan untuk menonton posisi laki-laki yang “protagonis” untuk melegitimasi posisi dominasinya. 

Proses penegasan dominasi laki-laki pun terjadi di iklan-iklan yang menampilkan perempuan. Kebanyakan iklan tersebut bukan tidak sedikit menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak berdaya dan menempatkan laki-laki dalam posisi yang lebih utama dan dilayani. Ketidakberdayaan perempuan ini seakan-akan terus dipertahankan untuk kepentingan kekuasaan laki-laki.

Dalam kajian feminisme pascamodern, ada sebuah teori yang dikenal dengan “falosentris”. Teori ini diperkenalkan untuk menyebutkan sifat psikoanalisis yang sangat lelaki, yang di situ perempuan akan secara “alami” menganggap alat kelamin mereka inferior atau bahwa seksualitas yang “benar” adalah heteroseksualitas genital yang menekankan pada kekuatan laki-laki dan kepasifan perempuan. 

Teori ini merupakan perkembangan dari pemikiran Simone De Beauvoir yang dikenal dengan pemikirannya, bahwa perbedaan gender bukan berakar pada dari biologi, melainkan diciptakan untuk melanggengkan penindasan terhadap perempuan. Egosentrisme yang dibangun oleh laki-laki yang menganggap perempuan adalah warga kelas dua adalah bentukan sosial kultural. 

Perjuangan pembongkaran pembagian kelas yang menindas ini berharap tidak ada lagi yang menjadi the others (sang liyan). Hal itu dikarenakan konsep sang liyan menampilkan kondisi pihak yang inferior dan tertindas. Penolakan ini dikarenakan penolakan mereka pada apa yang disebut “falogosentrisme”; ide-ide yang dikuasai oleh logos absolut yang di situ logos dipersepsikan laki-laki.

Perempuan dipersepsikan oleh laki-laki itulah yang terjadi saat perempuan ditampilkan dalam sebuah iklan. Posisi subjek yang dimiliki oleh laki-laki untuk menempatkan perempuan di sana sebagai bagian dari kekuasaan yang dimilikinya. Laki-laki yang mengambil posisi subjek untuk menginterpretasikan posisi perempuan adalah bagian dari konstruksi politik sosial budaya yang selama ini bertahan.

Posisi subjek adalah perspektif, atau kumpulan makna diskursif yang teregulasi dan meregulasi, yang digunakan untuk bisa memahami teks atau wacana. Chris Barker mengutip bahwa ‘iklan menawarkan kepada kita, sebagai perempuan… bagaimana kita seharusnya menjadi perempuan feminim, perempuan yang atribut hubungannya dengan lelaki dan keluarga berasal dari komoditas tersebut… seorang perempuan tak lebih dari komoditas yang ia pakai’, dalam persoalan ini iklan mengonstruksi posisi-posisi subjek bagi perempuan yang menempatkan mereka di dalam pekerjaan patriarkis dunia domestik. 

Peran perempuan biasanya dikonstruksi menjadi seorang ibu, istri, menarik secara seksual, dan lain-lain. Namun demikian, persoalannya sebenarnya bukan dalam pencitraan ini, melainkan orang macam apa yang ingin dikonstruksi dan apa konsekuensi daripadanya. Setiap konstruksi yang dilakukan oleh subjek selalu menuntut syarat pada objeknya. Oleh karena itu, saat laki-laki menjadi subjek maka perempuan harus taat pada konseksuensi syarat yang dilekatkan kepadanya.

Dalam sebuah masyarakat yang budaya patriarkinya sangat dominan, yang di dalamnya suatu hubungan sosial didominasi oleh kaum laki-laki sementara kaum perempuan dieksploitasi dan ditindas, iklan hanyalah bagian dari sebuah proyek mengeksploitasi perempuan dari segi ekonomi hingga sosial. Saat perempuan ditampilkan sebagai bagian dari iklan, tidak hanya eksploitasi secara ekonomi, politik, dan budaya tetapi juga bagian dari pemuas imajinasi kekuasaan lelaki atas perempuan yang ideal seperti apa.

Falogosentris sebenarnya tidak sekadar nenyasar pada penindasan secara fisik, seperti iklan, film, dan televisi. Perempuan juga dipersepsikan dalam posisi inferior dalam beberapa wacana agama. Persepsi agama diperlukan untuk melegitimasi kedudukan perempuan di bawah posisi laki-laki. Peran dari otoritas keagamaan sangat vital dalam membangun wacana ini. Posisi otoritas sebagai medium untuk menyuarakan dan mengaktualisasikan pengetahuan, secara langsung atau tidak langsung menghasilkan kekuasaan laki-laki. 

Wacana apa pun yang dibangun tentang kekuasaan laki-laki tidak mungkin akan berhasil tanpa reproduksi ketertundukan, otoritas keagamaan menjadi aparatus dalam persoalan falosentrisme ini untuk memastikan kepatuhan kepada wacana tersebut. Dengan menggunakan ajaran agama, wacana ini memiliki daya kepatuhan yang kuat. Hal itu dikarenakan agama memiliki sesuatu yang tidak dimiliki dari ideologi lain, yaitu kemampuan memberikan harapan yang berumur panjang dan membius dalam porsi yang tepat. 

 

Supriansyah, Aktivis Jaringan GUSDURian Kota Banjarmasin