Intuisi, Diri, dan Tuhan dalam Metafisika Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab, India pada 9 November 1877 dan meninggal di Lahore pada 21 April 1938 di usianya yang ke-60 tahun. Ia dikenal juga sebagai Allama Iqbal, yang merupakan seorang penyair besar, politikus, dan filsuf Muslim paling cemerlang di masanya.

Pada awal abad ke-20, Iqbal adalah satu-satunya filsuf muslim yang paling konsisten dalam mendamaikan agama dan filsafat dalam tradisi pemikiran Islam. Sumbangan besarnya adalah membangun kembali pemikiran keagamaan dalam Islam dan mengemban tugas sebagaimana yang pada abad lampau diemban oleh sarjana besar, yang menempatkan dirinya berhadapan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani.

Dalam kaitannya dengan problem metafisika, Iqbal berangkat dari pemahaman yang rekonstruktif terhadap agama. Menurutnya, agama dalam bentuknya yang sudah lebih maju, tumbuh lebih tinggi dari karya sastra. Agama bergerak dari individu ke masyarakat. Dalam sikapnya terhadap kebenaran tertinggi berlawanan dengan batas-batas manusia; ia menambah hak-haknya dan tak ada gambaran yang dipertahankannya selain sesuatu pandangan langsung tentang kebenaran itu. Di sini Iqbal beranjak dari satu pemahaman bahwa cara filsafat rasional yang murni untuk masuk ke wilayah agama tidaklah cukup, ada dimensi lain yang ia sebut metafisika (Iqbal, 2008).

Terkait dengan masalah metafisika, Iqbal melakukan penegasan terhadap eksistensi Tuhan, realitas diri, kebebasan, dan keabadian. Filsafat Iqbal secara esensial bersifat religius, walaupun, Iqbal tidak pernah membicarakan filsafat sebagai pelayan agama. Kebenaran agama baginya bersifat mutlak, agama itu sangat penting. Sementara itu, Iqbal hendak menegaskan kebenaran itu. Hanya saja, teori dan pengalaman indrawi belaka tidak akan dapat menegaskan kebenaran tersebut.

Tidak seperti Kant, Iqbal enggan membatasi pengetahuan hanya pada realitas empiris. Dia bergerak lebih jauh. Dengan kekuatan sebagai seorang filsuf-penyair, Iqbal menggedor pintu mistik Islam atas pewahyuan Tuhan secara langsung, rahasia-rahasia diri, kebebasan, dan keabadian. Jadi, realitas dan eksistensi yang mutlak serta kepastian sifat dasarnya dapat dibuktikan hanya melalui pengalaman luar biasa, yang oleh Iqbal disebut intuisi. Intuisi ini bertujuan untuk memahami keseluruhan realitas.

Bertolak dari latar belakang pehaman di atas, Iqbal ingin beranjak lebih jauh untuk menelusuri tahap-tahap eksistensi yang di sana manusia dapat sampai kepada dimensi ketuhanan melalui metode intuisi. Intuisi dalam metafisika Iqbal adalah gerbang utama untuk masuk ke wilayah dimensi metafisika yang paling intim dan transenden yang ia sebut sebagai wilayah ketuhanan.

Tulisan ini secara khusus ingin menjelaskan konsep pemikiran Iqbal tentang metafisika ketuhanan melalui argumentasi filosofis berbasis pada intuisi. Bertolak dari pandangan Kant dalam wilayah epistemologi, Iqbal percaya bahwa manusia dapat menembus pengetahuan absolut melalui pengetahuan fenomena yang bersifat riil dan nyata.

Dalam bukunya, Prolegomena, Kant mengajukan pertanyaan: Apakah metafisika itu mungkin? Jawaban Kant atas pertanyaan ini negatif tidak mungkin. Alasan-alasannya didasarkan pada ciri yang agak ganjil bagi pengetahuan manusia. Pengetahuan itu ditentukan oleh ruang dan waktu. Hal itu dikarenakan bahwa dunia ini terdiri atas dua faktor, yakni benda-benda dan perubahannya. 

Bagi manusia, benda-benda tanpa ruang adalah tak dapat dipahami. Kita melihat semua benda berada dalam ruang. Apakah mereka berada dalam dirinya sendiri, kita tidak dapat mengatakan, karena jawaban atas pertanyaan tersebut kita harus naik ke level pengetahuan yang lebih tinggi dan melepaskan benda-benda dari selubung ruang.

Sampai pada batas ini, Kant berkesimpulan bahwa terhadap hal-hal yang di luar batas pengetahuan indrawi, adalah tidak mungkin, di sini Kant menempatkannya pada wilayah noumena. Dalam hal ini, Iqbal berbeda dengan Kant. Iqbal mempertahakan, ada suatu level pengalaman selain level normal, dan level pengalaman itu adalah pengalaman intuisi. Pengalaman ini adalah pengalaman yang unik, sebuah pengalaman yang mempunyai jenis tersendiri, dan secara esensial berbeda dengan jenis pengalaman lainnya. Pengalaman ini berbeda dengan persepsi dan pikiran. Dengan intuisi manusia dapat melampui keduanya. 

Terhadap ruang lingkup wilayah metafisika, Iqbal membaginya melalui tiga hal atau wilayah. Ketiganya adalah intuisi, diri, dan Tuhan. Intuisi dalam konteks ini lebih merupakan suatu metode atau cara untuk sampai pada wilayah metafisika diri dan Tuhan. Dengan demikian, intuisi sebagai mediasi bagi kemungkinan metafisika adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Poin-poin spesifik dari detail penjelasannya dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, intuisi; Menurut Iqbal, adalah suatu pengalaman singkat tentang yang nyata. Realitas yang masuk melalui diri dalam pengalaman ini. Pengalaman singkat ini bentuknya menyerupai persepsi. Realitas mutlak, dengan pengalaman melalui intuisi, dapat dipahami secara langsung. Tuhan dipahami sebagaimana kita mengetahui objek-objek lainnya. Pengetahuan adalah langsung. Jadi, intuisi itu berbeda dengan pikiran. Pengetahuan yang diperoleh melalui pikiran selalu berjangka dan tidak langsung (Iqbal, 2008).

Kedua, diri; Titik tekan filsafat Iqbal adalah filsafat diri. Diri merupakan awal sekaligus masalah dasar pemikiran Iqbal. Dirilah yang memberi Iqbal jalan menuju metafisika, karena menurut Iqbal intuisi diri yang membuat metafisika mungkin. Iqbal menegaskan bahwa dirinya telah mempunyai intuisi. Diri adalah suatu realitas yang benar-benar nyata. Diri ada dan keberadaannya terletak dalam hakikatnya sendiri. Dengan intuisi itu kita mengetahui bahwa diri benar-benar nyata. Kita dapat mengetahui hakikatnya secara langsung. 

Ketiga, Tuhan; Alam semesta adalah bagian dari sifat sebuah kehendak kreatif yang bebas. Kehendak merupakan dasar dari semua realitas. Ia pecah dan menggelembung dalam fenomena. Ia mewujudkan dirinya dalam segala realitas. Tak ada kekuatan atau dorongan dari belakang kehendak. Ia tidak tunduk pada hukum kekuatan apa pun, karena kalau demikian ia menjadi tidak kreatif sama sekali. 

Iqbal memahami Tuhan sebagai pribadi atau ego. Iqbal menuturkan bahwa kita telah menyaksikan pertimbangan yang didasarkan pada pengalaman religius sepenuhnya memuaskan pembuktian secara intelek. Bagian-bagian yang lebih penting dari pengalaman, apabila ditinjau dalam suatu pandangan sintesis, menunjukkan bahwa satu iradah kreatif yang terarah secara rasional, yang telah digambarkan sebagai suatu ego, adalah dasar sebenarnya dari pengalaman. Untuk menekankan individualitas dari ego yang mutlak, Alquran menyebutkan-Nya dengan nama “Allah”.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa metafisika Iqbal pertama-tama berpusat pada tingkatan pertama yakni intuisi. Intuisi ini sebagai gerbang awal untuk menyelami realitas diri dan Tuhan. Hal ini penting karena secara epistemologis, intuisi inilah yang memungkinan terbukanya cakrawala pengetahuan batin untuk masuk ke wilayah metafisika yang di luar kenyataan. Selain sebagai metode metafisika, intuisi juga merupakan tolok ukur bagi tercapainya suatu pengetahuan langsung tentang metafisika.

Lalu, pengalaman atas intuisi mengejawantah dalam pengetahuan akan diri. Di sini diri merupakan realitas yang ditemukan secara langsung dalam pengalaman intuisi, yakni suatu jenis pengalaman akan kedirian secara intens yang masuk pada kedalaman penghayatan metafisika diri secara individual. Selanjutnya, pengalaman metafisika dalam taraf puncaknya adalah tentang dimensi ketuhanan. Iqbal berbeda dengan kaum panteis dengan mengatakan bahwa Tuhan itu adalah sebuah pribadi, ego, atau realitas ego tertinggi yang berbeda dengan ego terbatas sebagaimana yang dimiliki makhluk.

 

Rohmatul Izad, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta