Paradigma Islam Profetik Kuntowijoyo

Kuntowijoyo merupakan ahli dalam bidang sejarah. Sudah banyak karyanya yang terkait dengan sejarah, baik yang berupa tulisan-tulisan artikel maupun buku-buku. Dengan kemampuannya ini, Kuntowijoyo menggunakan metodologi dalam sejarah untuk melihat sosial-politik Islam di Indonesia. Dalam buku yang berjudul Sejarah Umat Islam Indonesia, dia melihat adanya gerak sejarah yang panjang dalam umat Islam di Indonesia. 

Dalam bukunya tersebut, Kuntowijoyo menjelaskan bahwa umat Islam Indonesia di era sebelum dan sesudah abad ke-20 terlihat adanya perbedaan dalam struktur sosial keagamaan. Menurutnya, umat Islam Indonesia sebelum abad ke-20 ditandai dengan dominasi magis dalam masyarakat. Kesadaran ini semakin berubah ketika umat Islam sadar tentang kelas, organisasi, dan kelompok. Hal ini terbukti dengan adanya organisasi massa yang lahir di awal abad ke-20, seperti Syarikat Islam (SI), Syarikat Dagang Islam (SDI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU). 

Setelah umat Islam sadar tentang kelompok, mereka akan memiliki kesadaran tentang ilmu. Dalam konteks inilah Kuntowijoyo menginginkan dijadikannya Alquran sebagai paradigma. Paradigma Alquran berarti suatu kontruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana Alquran memahaminya. Kontruksi ini bertujuan agar kita bisa mendapatkan hikmah dan, atas dasar itu, dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif Alquran, baik pada level moral maupun pada level sosial. Jadi, dalam Alquran memberikan gambaran tentang aksiologis, dan juga dapat berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis. (Kuntowijoyo: 2006; 11).

Kuntowijoyo menawarkan pendekatan sintetik-analitik guna menafsirkan konsep-konsep yang ada dalam Alquran. Pertama, pendekatan sintetik. Pendekatan ini berpandangan bahwa pada dasarnya kandungan Alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama di dalam Alquran terdapat konsep abstrak dan konkret. Konsep-konsep tentang Allah, malaikat, akhirat, tentang ma’ruf, dan munkar itu merupakan konsep-konsep abstrak. Ada juga konsep yang merujuk pada fenomena konkret dan dapat diamati, seperti konsep fuqara’ (orang-orang fakir), dlu'afa’ (golongan lemah), mustadl’afin (orang yang dilemahkan atau kelas tertindas,) dan sebagainya. (Kuntowijoyo: 2006; 12)

Sementara itu, bagian kedua berisi konsep-konsep yang bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai ajaran Islam seperti kisah-kisah historis dan amtsal (perumpamaan). Umat Islam diajak untuk merenungkan kisah-kisah yang dijelaskan dalam Alquran untuk dapat ditarik pelajaran moral dari peristiwa-peristiwa tersebut, bahwa peristiwa-peristiwa sejarah tersebut sesungguhnya bersifat universal dan abadi. (Kuntowijoyo: 2006;13-14) Maksudnya, adanya pengulangan sejarah dalam kehidupan manusia. Meskipun hidup manusia dibedakan oleh negara-bangsa, namun ada pola yang sama di dalamnya dan itu yang menjadi potensi adanya pengulangan sejarah dari masa lalu ke era saat ini. Maka dari itu, pelajaran moral penting untuk dipelajari supaya manusia bisa meminimalisasi atau menghindari peristiwa-peristiwa yang membawa manusia ke arah keburukan.

Kedua, pendekatan analitik. Pendekatan ini digunakan untuk mengoperasionalkan konsep-konsep normatif menjadi objektif dan empiris. Mula-mula pendekatan ini lebih memperlakukan Alquran sebagai data, sebagai suatu dokumen mengenai pedoman kehidupan yang berasal dari Tuhan. Oleh karenanya, Alquran harus dirumuskan dalam bentuk konstruk-konstruk teoretis. Dari situlah akan lahir sebuah konsep Qur’anic theory building, yaitu perumusan teori-teori Alquran yang dari situ juga akan lahir paradigma Alquran. (Kuntowijoyo: 2006; 16).

Tujuan dijadikannya Alquran sebagai paradigma oleh Kuntowijoyo adalah islamisasi pengetahuan dan demistifikasi Islam. Apa yang dimaksud dengan islamisasi pengetahuan adalah upaya umat Islam untuk tidak hanya berpedoman pada metode-metode dari luar saja tetapi juga dikembalikan pada roh agama, yakni tauhid. Sementara itu, demistifikasi adalah upaya menghubungan teks dengan konteks. Jadi nantinya agama tidak kehilangan kontak dengan kenyataan, realitas, atau kehidupan manusia, atau dengan kata lain adanya kesinambungan antara teks dan konteks. (Kuntowijoyo: 2006; 10).

Di sisi lain, keinginan Kuntowijoyo untuk menjadikan Islam sebagai ilmu atau digunakannya Alquran sebagai paradigma yang disandingkan dengan ilmu sosial-humaniora dari Barat adalah untuk melahirkan sebuah ilmu baru yaitu ilmu sosial profetik. Kata profetik diambil dari kata prophet yang artinya nabi. Ilmu sosial profetik adalah ilmu sosial yang berkaitan dengan risalah-risalah Nabi Muhammad. Karena Nabi pada dasarnya tidak hanya diutus sebagai penyempurna akhlak tetapi juga memiliki misi-misi sosial, seperti liberasi, emansipasi, transendensi yang diambil dari surah Ali ‘Imran ayat 10, yang berbunyi: Engkau adalah adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan keabaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah. 

Kuntowijoyo melihat ada tiga muatan nilai dalam ayat tersebut. Pertama, menyuruh kepada yang ma’ruf. Menyuruh kepada yang ma’ruf berarti ada misi humanisasi dalam budaya, mobilitas kehidupan sosial. Kedua, mencegah yang munkar. Nilai ini menunjukkan adanya usaha untuk memberantas kejahatan, misalnya pelarangan penjualan narkotika dan pemberantasan korupsi dan kolusi. Akan tetapi, dalam nilai yang kedua ini juga dapat diartikan sebagai misi liberasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, seperti pembebasan kemiskinan dan kebodohan. Ketiga, beriman kepada Allah. Nilai ini berarti adanya transendensi. Kedudukan transendensi makin penting dalam dunia yang menuju materialisme dan sekularisme. Oleh karena itu, umat Islam mempunyai kepentingan untuk memasukkan kesadaran spiritual akan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. (Kuntowijoyo: 1997; 38)

Gagasan ini diilhami oleh Muhammad Iqbal ketika Nabi melakukan perjalanan isra’ mi’raj. Iqbal mengatakan bahwa seandainya Nabi itu seorang mistikus atau sufi, tentu Nabi tidak ingin kembali ke bumi, karena telah merasa tenteram bertemu Tuhan dan berada di sisi-Nya. Akan tetapi, Nabi kembali ke bumi untuk menggerakkan perubahan sosial, untuk mengubah jalannya sejarah. Dari situlah Nabi memulai suatu transformasi sosial budaya berdasarkan cita-cita profetik. (Kuntowijoyo: 2006; 87).

Dengan adanya gagasan Islam profetik tersebut, Kuntowijoyo berharap bahwa Islam tidak hanya dipahami sebagai doktrin ajaran, tetapi juga harus dipahami sebagai kumpulan nilai dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bisa dilihat dari Alquran yang tidak hanya berisikan hal-hal konkret dan abstrak, tetapi juga kisah-kisah yang di dalamnya umat Islam bisa menarik hikmah untuk kehidupan sehari-hari. Muatan nilai yang terkandung dalam Alquran tersebut kemudian ditafsirkan dengan metode sintetik analitik yang akan menghasilkan sebuah paradigma ilmu baru, yaitu ilmu sosial profetik, yang disejajarkan dengan paradigma-paradigma ilmu sosial humaniora lainnya.

 

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta