The Whirling Dervish dan Hagia Sophia

Pagi sekali saya tiba di  Istanbul setelah hampir delapan jam perjalanan darat. Sejak tiba di Istanbul sebelumnya, telah enam kali saya harus menempuh perjalanan darat antarkota (kadang juga antarprovinsi), menempuh jarak lebih kurang 1.775,9 kilometer in total, setara dengan lebih kurang dua puluh satu jam. Belum termasuk menunggu bus, perjalanan bus dalam kota, dan ketidaktepatan waktu-tempuh. Setelah numpang mandi dan numpang menaruh barang di salah satu flat mahasiswa Indonesia, Haka, teman saya, menemani saya sarapan dan mengantar saya ke Blue Mosque di bilangan Sultanahmet Square.

Selepas shalat Jumat di Blue Mosque, dipanggang terik matahari, kami menuju Hagia Sophia. Museum ini dulunya adalah gereja Kristen Ortodox, dibangun tahun 532 M. Istanbul kala itu masih bernama Konstantinopel. Hagia Sophia merupakan hasil karya arsitektural Byzantium. Ketika Konstantinopel takluk di tangan Sultan Mehmet II, Hagia Sophia dialihfungsikan sebagai masjid, walau tetap dengan nama yang sama. Ornamen Kristen di dalamnya  tidak dirusak, hanya ditutup plester dan diberi kaligrafi dan relief Islam. Penambahannya, barangkali, hanya minaret yang dibangun di samping Hagia Sophia.

Setelah Dinasti Ottoman berakhir dan Turki modern dimulai, Hagia Sophia beralihfungsi menjadi museum. Di antara yang menarik dari Hagia Sophia adalah lukisan Yesus yang diapit oleh ornamen kaligrafi bertulisan Allah dan Muhammad; kesetimbangan antara ornamen Kristen Ortodox dan ornamen Islam. Hagia Sophia adalah produk budaya bercitarasa agama yang merepresentasikan semangat toleransi. Kami naik ke lantai dua dan dari satu sudut jendela, menara Blue Mosque mencuat menuding langit. 

Perjalanan dilanjutkan ke Topkapi Palace Museum yang luas dengan taman dan bangunan-bangunan bersejarah, relief kaligrafi, porselen China dan Eropa, warna biru menyala, bagian dapur dengan dinding batu alami, hareem berlatar belakang taman, kolam-kolam, tower of justice, koleksi peninggalan Nabi, senjata dan mahkota, Mosque of the Agas, Perpustakaan Enderun, toko cenderamata yang menjual satu box Turkish Air, serta paviliun-paviliun berlatar Laut Marmara. Topkapi Palace Museum menjadi tempat tinggal keluarga Kerajaan nyaris selama 4 abad, yakni dari 1478 sampai dengan 1853. Setelah itu, ia dialihfungsikan menjadi tempat tinggal bagi pejabat teras hingga 1924, sebelum kemudian Topkapi Palace Museum dijadikan sebagai Museum (Terzioglu, 2015). 

Di Paviliun Baghdad, kami berhenti sejenak. Sembari memandangi laut Marmara yang memisahkan Istanbul rasa Eropa dengan Istanbul rasa Asia, saya mulai mengingat kembali potongan-potongan puisi yang menyerbu benak saya ketika di Konya. Badan saya letih, kepala sedikit pening, mata perih dan mengantuk. Terbiasa berbulan-bulan dipeluki udara dingin London yang gloomy bikin daya tahan tubuh menjadi rendah ketika dipanggang berjam-jam oleh matahari Musim Panas Turki. Istanbul punya segalanya, baru ke Hagia Sophia, Blue Mosque, dan Topkapi Palace Museum saja saya sudah dibikin terkagum-kagum, “kekenyangan” oleh keberlimpahan perayaan kemanusiaan, kultur, dan agama. Namun anehnya, berbeda dengan dugaan Intan dan Haka, dua teman saya, saya justru merasa ada jarak dengan Istanbul. Saya justru merasa tidak jatuh cinta sama sekali. Atau—belum?

Ketika keesokan harinya saya menikmati brunch dalam wujud secangkir kohfie dan semangkuk asure, saya menulis puisi di selembar kertas tisu; sebuah puisi untuk Rumi. Puisi yang menyenandung dalam benak saya sejak di Konya namun baru sempat saya coba terjemahkan ke dalam kata-kata dan tulisan, waktu itu. Puisi yang boleh jadi menjadi ‘penghalang’ ke-tune in-an saya dengan Istanbul. Atau, di sisi lain: menjelaskan kenapa saya tidak (akan pernah) bisa (sepenuhnya) tune in dengan Istanbul. 

 

Dari manakah muara Rindu, Kekasih, jika tiada 

tempat untukku memuarakan arus tangis seluas 

ingatan? 

 

Pada bayang nyala di balik lilin ketika Kimya mengintip-dengar, menaruh

kuping: akulah larva menjelma mawar, ujarmu, ujar kalian, tarianku merangkum tawa-tangis—nyanyi semesta di ingar-bingar sunyinya sujud. 

 

Dalam proses penulisan itu benak saya dipenuhi ingatan tentang gambar di sebuah papan reklame di jalanan Konya yang berisi sketsa the whirling dervish yang entah bagaimana seperti membentuk kupu-kupu (ataukah mawar?) sehingga saya bertanya dalam hati: apakah tarian itu, selain mempertontonkan proses tawaf kita terhadap-Nya, juga menunjukkan proses metamorfosis manusia? 

 

Kueja lakas kematian: kuairi tandus imanku dengan

oase terpanggang matari Tibriz—menjadi genangan, o, aku ini,

memantul tanya seluas langit: menjadi tidurkah aku atau lebur pada keterjagaan? 

 

Lihatlah, tasbih kurapal kini kutelan: kuselubungi fana ragaku dalam 

keterlelapan—karena akulah larva menjelma mawar, tarianku merangkum tawa-tangis, 

nyanyi semesta di ingar-bingar sunyinya sujud

 

pada penghambaan sedalam

zuhud: menjadi tawanan kebijaksanaan, didentam rindu digodam kesepian,

 dan, o, pelukanmu, Mevlana, 

hati diuapkan kepedihan, arus thawaf di diri darwis yang di rimba waktu ia lekang.

 

Bahwa ia adalah cara kita mengekspresikan kerinduan kita akan peleburan dan pemersatuan: seperti tawafnya laron terhadap cahaya di malam penghujan, sebagaimana para jemaah haji memutari Rumah-Nya. Bahwa ia adalah metode pengheningan dan pendekatan puitik antara aku yang fana dan Engkau yang Sejati demi menjadi Kita yang Satu? 

 

O, Mevlana! Kuziarahkan raga raguku pada cawan anggur di altar penantian; 

Kulemparkan tubuhku kepada nyala api bagai Ibrahim, 

Kuumpankan raba-getir kesedihan 

Kunyanyikan: leburlah engkau pada tiada, mengada pada kun satu-satunya; karena 

akulah larva menjelma mawar, menjadi kupu-kupu

terbanglah terbang, putarlah putar

senantiasa aku membersamaimu. 

 

Irfan L. SarhindiPengasuh Salamul Falah, Lulusan University College London