Konya dan Seruling Rumi

Ketika di Turki, setelah semalam numpang beristirahat di flat yang password wifi-nya demikian nyentrik sehingga tidak mungkin saya lupakan, sekira pukul 09.00 saya diantar berkeliling kota oleh Ghalib dan Haka. Mula-mula, tentu saja ke Mevlana Museum dan Mausoleum, yang berkubah mungil menuding langit sewarna hijau toska, kontras di antara gradasi warna gading di kompleks yang dulunya kebun bunga milik Sultan Alaedin Kaiqubad. 

Selain Rumi dan ayahnya, juga museum tempat beraneka peninggalan Sufi Mevlevi Order, berjajar pula di sana makam murid-murid Rumi. Kami berjalan pelan, mengantre, sibuk bertakziah, melewati satu demi satu makam-makam kecil menuju pusara yang berada di tengah, ditutup kain beludru hijau yang berhias kaligrafi emas.

Setiap tahunnya, Konya menjadi tuan rumah bagi pagelaran festival tarian darwis yang digelar selama dua minggu dalam setahun. Walau demikian, pentas-pentas kecil kerap diadakan seminggu sekali. Sayangnya, kunjungan saya tidak pada hari yang tepat. Akan tetapi, tidak masalah. Ia tidak menghalangi Konya untuk meluluhkan hati saya. Walau hanya sehari menjelajah Konya—dari kompleks pemakaman Rumi ke Masjid dan pemakaman Syams al-Tibrizi (Syams al-Din al-Tabriziy), memotret Masjid di sepanjang perjalanan baik yang bergaya Seljuk tanpa kubah maupun yang bergaya Ottoman dengan kubah, dipotong hujan deras tempat kami terjebak di suatu restoran berpemandangan Mevlana Museum dan Mausoleum, berlanjut ke bukit Alaedin dan Masjid besarnya yang sedang direnovasi itu. Kami menutup rangkaian perjalanan dengan mengunjungi gereja dan museum peninggalan Kerajaan Seljuk yang terlupakan, tempat gua-gua model Capadoccia juga ditemukan.  

Perkenalan pertama saya pada Rumi dimulai dari novel Kimya karya Mauriel Maufroy yang saya baca saat SMA. Berlanjut pada potongan-potongan puisi yang ia tulis, yang kerap disadur di mana-mana. Di London, uniknya, saya dipertemukan dengan Sarah, kawan diskusi yang juga mengagumi Rumi. Melalui dia saya dipertemukan dengan para pencinta Rumi dalam suatu nuansa pengajian yang lain daripada yang lain. Ia melibatkan proses meditasi-zikir yang senyap, lantunan nasyid yang memerindingkan bulu kuduk, ceramah yang berfokus pada upaya penyucian hati terus-menerus, dan dialog yang bahkan terbuka untuk kalangan non-Muslim. Madrasah pengajian ini berada di Rumi’s Cave di bilangan Willesden Lane London dan ia tidak menjadi ajang pengafiran orang-orang tertentu. Ia menjadi tempat untuk saling merangkul kelemahpapaan kami, kebodohan kami, nasib kami sebagai makhluk-makhluk yang faan, sebagai pencinta amatiran, sebagai perindu yang selalu merasa tidak cukup mampu berbuat apa pun untuk memuaskan hasrat spiritualitasnya. 

Di antara pemikiran Rumi yang memengaruhi cara berpikir saya adalah analoginya tentang seruling. Baginya, manusia ibarat seruling yang tercerabut dari Muasalnya, yaitu bambu di tepi sungai (Topbas, 2015, p. 30). 

 

Aku (seruling) berasal dari bambu di tepi sungai. Akar dan jantungku terhubung dengan air dan tanah. Di sana, aku melambai bahagia bersama angin. Namun, tiba suatu masa ketika mereka memisahkanku dari rumpun di tepi sungai. Mereka mengeringkan ragaku dengan api cinta dan membuat lubang-lubang di dalamnya. Mereka menorehkan luka-luka di ragaku. Lalu, mereka menyerahkanku kepada seorang peniup yang napasnya diberkati. Napas hangatnya mengalir menyapu diriku dan akhirnya terbakarlah segalanya kecuali cinta. Dia meluruhkan aku di dalam dirinya. Aku mulai menangis dan menyingkap seluruh rahasia. 

 

Bagi saya, analogi di atas menangkap dan menjelaskan; Pertama, makna klausa ‘innalillahi’: bahwa kita berasal dari-Nya. Dialah Muara dan kita riak air pada anak-anak sungai bernama semesta makhluk. Sebagaimana si seruling, kita dicerabut dan dipisahkan dari-Nya seruas jarak penciptaan; Kedua, sebagai yang tercerabut, dalam diri kita terinstal kerinduan untuk mengembali, menyatu, dan melebur kembali kepada Sang Muasal. Dari sanalah nada-nada sendu itu seruling senandungkan kepada angin, kepada air, dan kepada tanah. Dari kerinduan itulah, kata Sabrang Mowo Damar Panuluh (PK 40 LPDP, 2015), lahir cinta yang berjenis-jenis. Dia berkata, “Orang berpikir rindu itu datangnya dari  cinta. Padahal, cinta itu lahir dari kerinduan kepada Yang Maha.... Cinta itu hanya anak dari rindu. Maka jangan sampai mati rindumu.”

Itu kenapa kemudian, klausa ‘innalillahi’, dengan pendekatan analogi seruling Rumi, bagi saya dapat ditafsiri sebagai ‘dari-Mu-lah Rindu’. Akan tetapi, selalu, klausa ‘innalillahi’ akan digenapkan oleh klausa ‘inna ilaihi raajiun’—kepada-Nya kita akan berkembali. Dengan demikian, saya melengkapi frasa ‘dari-Mu-lah Rindu’ itu dengan frasa ‘kepada-Mu-lah kemenujuanku’. Dalam dua klausa itulah kita beperjalanan di antara tangan-tangan waktu: dari satu ke lain situasi. Perjalanan yang tidak selalu mudah. 

Alas, walau katakanlah setiap dari kita telah terinstal kerinduan, dan bahwa kita senantiasa ada dalam kemenujuan, tidak setiap dari kita mau dan atau tahu caranya mengekspresikan kerinduan itu—menyenandungkannya kepada angin, kepada air, dan kepada tanah. Ketidaktahuan dan atau ketidakmauan itu, saya kira, boleh jadi disebabkan beberapa faktor; (1) Tidak semua bambu yang dicerabut bernasib diubah menjadi seruling—sebagian didesain untuk hanya jadi serpih kayu, misalnya; (2) Atau, katakanlah setiap dari kita memang diubah menjadi seruling namun tidak semua dari kita, ‘menyadarinya’; (3) Atau, bahkan jikapun kita menyadari kedirian kita sebagai seruling, kita mungkin saja tidak menemukan peniup ulung ‘yang napasnya diberkati’ yang memungkinkan kita menyenandungkan kerinduan kita kepada angin, kepada air, dan kepada tanah. 

 

Irfan L. SarhindiPengasuh Salamul Falah, Lulusan University College London