Bergembira dalam "Kenakalan"

Sebelum pergi belanja, seorang ibu berpesan kepada anaknya yang masih balita, “Kamu tinggal di rumah saja ya. Kalau lapar, kamu boleh ambil makanan apa pun yang ada di dapur, kecuali roti yang ada di lemari.” Anaknya hanya diam. Sedikit tersenyum. Tidak mengangguk. Tidak pula berkata “ya, Bunda” atau “baik, Bunda”. Karena terburu-buru, si ibu tidak memperhatikan respons anaknya.

Tiga jam ditinggal sendirian di rumah, balita tersebut merasa lapar. Dia ke dapur. Dia pun ingin makan roti. Entah lupa atau sengaja tidak menghiraukan pesan ibunya, dia mengambil roti dan memakannya. Bahkan dia menyantap dua potong roti.

Setengah jam kemudian, ibunya pulang. Sang ibu segera ke dapur untuk menyimpan sayur, buah, dan belanjaan lainnya di lemari. Ketika lemari dibuka, dia terkejut. Jumlah potongan roti berkurang. Dia pun memanggil anaknya untuk ditanya. Sebenarnya untuk dinasihati.

“Apa kamu tadi mengambil roti?”

Anaknya mengangguk, dengan wajah tak takut.

“Ketika mengambil roti, apa kamu tidak tahu bahwa Tuhan melihatmu?”

“Tahu, Bunda.”

“Lho, kenapa kamu masih mengambilnya?”

“Tuhan bilang, ‘Ambil saja. Ambilkan juga sepotong buat-Ku’.”

Mendengar jawaban tersebut, si ibu barangkali marah kepada anaknya. Akan tetapi, sikap marah itu saya kira tak arif. Dia harus menilai perilaku anaknya dari sudut pandang anaknya, bukan dari sudut pandang dirinya yang sudah dewasa.

Akal balita belum sempurna. Hidupnya penuh dengan keluguan dan ketulusan. Bagi balita, dunia bukan tempat yang serius, apalagi mengerikan dan mencemaskan. Dunia adalah taman bermain. Tangis balita bukan tangis putus asa, melainkan tangis dalam bermain. Karena itu, kesedihan balita tidak bertahan lama. Baru saja menangis karena terjatuh, dia sudah bangun dan berlari-larian lagi dengan gembira. 

Selain itu, imajinasi balita belum dibatasi hukum “akal sehat”. Imajinasi kanak-kanak biasanya hiperbolis, absurd, dan paradoksal. Dalam imajinasinya, terjadilah hal-hal yang mustahil bagi orang dewasa. Misalnya, tentara yang gagah berani bekerja sebagai juru rias di salon kecantikan, belalang mengangkat mobil kontainer, nenek-nenek menjadi buruh bangunan, atau ular kobra berteman karib dengan elang.

Berkat imajinasi yang melampui “akal sehat” ini, ditunjang kesucian hati, balita mudah memaafkan temannya yang nakal. Tadi dua balita berpukulan. Sekarang mereka main masak-masakan. Sementara itu, ibu mereka bertengkar sejak setahun lalu dan hingga sekarang belum berdamai. Orang dewasa mencari kedamaian karena jauh dari kedamaian. Anak-anak tidak pernah mencari kedamaian, juga kebahagian, karena mereka sudah memilikinya.

Kalau Anda mencari kebahagiaan, tengoklah kehidupan anak-anak dan masuklah ke dalam dunia mereka. Mereka bahagia karena di mata mereka, siapa pun yang mereka temui adalah orang baik. Mereka tidak membenci dan dibenci siapa pun. Dengan pikiran yang lugu, mereka pun mengenal Tuhan sebagai sosok yang baik. Tuhan bukan pemarah. Amarah-Nya insidental belaka dan merupakan bagian dari kebaikan-Nya.

Karena itu, berbeda dengan orang dewasa yang telanjur memahami Tuhan berdasarkan doktrin agama yang dibuat kaku dan menakutkan, anak-anak terbiasa bercanda dan bermain dengan Tuhan. Tuhan kanak-kanak adalah Tuhan yang membahagiakan dan menyenangkan. Bagi mereka, Tuhan itu seperti ibu yang sangat menyayanginya. Sebesar dan sebanyak apa pun kesalahan yang dia lakukan, ibunya pasti memaafkan. Senakal-nakalnya anak, kasih ibu—ibu yang bermental waras—tidak terputus. Cinta ibu adalah mata air yang tak ada keringnya.

Bila mengenal Tuhan sebagai mata air cinta yang tak kering-kering, agama yang kita peluk akan mengalirkan air kebahagiaan yang menyejukkan dan menyegarkan hati. Harapan kita melebar seluas bumi dan berlapis-lapis langit. Hati tersucikan dari berbagai najis rohani dan tersembuhkan dari berbagai penyakit hati. Anda tidak lagi membenci, mendengki, mendendam, dan marah kepada orang lain secara tak berkesudahan. Sebab, pada akhirnya Anda mengerti, orang itu adalah utusan cinta Tuhan yang dikirim-Nya khusus untuk Anda. Dia adalah cara Tuhan mencintai Anda. 

Tidak perlu frustrasi karena kegagalan. Kegagalan adalah bahasa cinta-Nya. Bencana, kemiskinan, dan penyakit adalah bahasa cinta-Nya sebagaimana kemakmuran, kesehatan, dan kemasyhuran juga adalah bahasa cinta-Nya. Seluruh takdir kehidupan, tanpa pengecualian satu pun, baik yang tampak baik maupun yang kelihatan buruk, merupakan ungkapan cinta Ilahi. Perguliran malam-siang, gelap-terang, gagal-sukses, kalah-menang, tangis-senyum, semuanya bersumber dari cinta-Nya.

Setelah mengenal Tuhan sebagai Sang Mahacinta, secara gradual Anda mengalami transformasi kejiwaan sehingga pangkat rohani Anda akan terangkat. Mulanya Anda menjadi cermin asma Al-Rahman. Lama-lama, setelah melewati serangkaian cobaan, Anda akan dilantik menjadi cermin asma Al-Rahim. Anda menjadi anggota minoritas manusia terpilih yang disayangi-Nya secara istimewa. 

Apa makna asma Al-Rahman dan Al-Rahim yang terdapat dalam lafal basmalah itu? Sebagai Al-Rahman, Tuhan mencintai semua makhluk dan semua manusia. Universalitas kasih Tuhan yang tidak berbatas dan terbatas melimpah kepada Anda. Ada manusia yang secara sadar merasakan kasih Tuhan ini. Hanya saja, karena hati yang tertutup, ada pula manusia yang tidak merasakannya. 

Dia yang menyadari cinta Ilahi akan hidup dengan hati yang penuh rasa penerimaan dan syukur. Tuhan sudah cukup baginya. Dia tidak memerlukan apa-apa dan siapa-siapa lagi. Nafsunya sudah disucikan dan ditenangkan oleh hatinya yang menerima dan bersyukur. Tidak lagi membakar, api nafsu kini menghangatkan. Batin terasa damai. Dunia terlihat indah. 

Menurutnya, orang lain selalu punya kebaikan walaupun kebaikan itu boleh jadi amat halus, serenik atom. Setiap orang pun pada fitrahnya berjalan dari kebaikan menuju kebaikan. Karena itu, mudah baginya untuk memaklumi dan memaafkan orang lain. Dengan ringan, dia membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan. Dia tidak punya musuh. Semua manusia adalah sahabat dan saudaranya. Inilah karakter mulia manusia terpilih yang menjadi cermin asma Al-Rahim

Dia menyalurkan cinta Tuhan kepada semua makhluk tanpa pandang bulu dan kepada semua manusia tanpa diskriminasi. Agama yang dihayatinya adalah agama cinta yang membahagiakan. Bagaikan balita dalam cerita di atas, dia bergaul akrab dengan Tuhan. Tuhan adalah sahabat baik, kawan bermain, dan teman bercanda.

Namun demikian, manusia yang telah mencapai etape cermin Al-Rahim tidak bergaul seenaknya dengan Sang Sahabat. Pergaulan antarsahabat ada adabnya. Dia tidak berlaku "semau gue" karena mentang-mentang dicintai Tuhan. Dia berinteraksi secara eling lan waspada. Tuhan pasti mencintainya. Hanya saja, cinta Tuhan terejawantah dengan beraneka cara. Kadangkala, Tuhan mengekspresikan cinta-Nya dengan kelembutan dan perhatian yang menyenangkan. Kala lain, Dia mengekspresikan cinta-Nya dengan ketegasan, keadilan, dan amarah. 

Ibaratnya: ibu yang pintar tidak mengasuh anak dengan memanjakan. Pola asuh yang memanjakan akan melumpuhkan dan membinasakan anak saat dewasa. Ibu yang pintar juga mengasuh anaknya dengan didikan keras. Itu dilakukannya justru karena dia mencintai anaknya. Begitu pula cinta Tuhan kepada kita, terutama kepada manusia yang menjadi cermin asma Al-Rahim. Maka, manusia terpilih ini amat berhati-hati dalam berinteraksi dengan Sahabatnya. Dia menyelipkan ketakutan (al-khauf) dalam harapan (al-raja’), sebagaimana Tuhan meletakkan keadilan-Nya dalam cinta-Nya. 

Kalau dia mengambil sepotong roti dan Tuhan tidak menyuruhnya untuk mengambil roti sepotong lagi, dia hanya akan mengambil sepotong roti. Dalam cerita di atas, si balita mengambil potongan roti pertama karena Tuhan merestui hal itu walaupun ibunya tidak mengizinkan. Dia mengambil potongan roti kedua karena begitulah perintah Tuhan. 

 

Widodo, masyarakat biasa.