Berebut Kebenaran

Orang-orang yang beriman percaya bahwa kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan. Manusia hanya mencari-cari kebenaran itu dengan cara menafsiri beragam hal. Perbedaan sudut pandang berpengaruh pada kebenaran versi manusia. Dengan demikian, ada klaim kebenaran, namun lantaran perbedaan sudut pandang, kebenaran tersebut tidak sama menurut manusia-manusia yang memandang objek tersebut.

Banyak di antara umat manusia yang memperebutkan kebenaran tersebut. Oleh karenanya, sebagian kelompok mengkalim sesuatu itu benar, padahal kelompok lain mengklaim bahwa sesuatu itu bukanlah kebenaran dan mereka mempunyai klaim kebenaran versi mereka sendiri. Karena perbedaan klaim kebenaran, umat manusia saling berebut kebenaran.

Orang-orang beriman, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, meyakini bahwa Tuhan adalah kebenaran. Kebenaran Tuhan itu terejawantahkan dalam bentuk wahyu yang di kemudian waktu dikodifikasikan menjadi kitab suci. Dalam kitab suci tersebut, Tuhan mengajarkan kebenaran-Nya kepada manusia. Di dalamnya termaktub dalil-dalil kebenaran.

Hanya saja, dalil-dalil kebenaran itu ditafsiri secara berbeda-beda oleh para mufasir. Dengan demikian, perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang benar pun terjadi. Jika perbedaan ini dibumbui dengan hawa nafsu, maka umat manusia akan saling berebut kebenaran secara brutal. Jika demikian, kondisi itu justru semakin menjauhkan manusia dari kebenaran karena di dalam kitab suci yang merupakan ejawantah dari kebenaran Tuhan itu tidak mengajarkan kebrutalan, sementara mereka menodai kebenaran tersebut dengan perilaku brutal.

Dalam Islam, selain wahyu Tuhan, kebenaran juga terejawantah dalam sabda utusan-Nya, Rasulullah Muhammad Saw, lantaran apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw itu atas perintah-Nya dan keridaan-Nya. Hanya saja, sabda Rasulullah Saw ini juga diterima dalam beragam penafsiran. Hal itu pun menimbulkan perbedaan di antara para sahabat.

Umat Islam pernah mengalami sejarah pahit dalam perbedaan tersebut. Umat Islam berebut kebenaran atas pendapat mereka sendiri-sendiri. Sabda Rasulullah Saw yang diterima secara berbeda adalah mengenai salah seorang sahabat yang bernama Ammar bin Yasir. Ketika pembangunan masjid di Madinah, Rasulullah Saw mengomentari Ammar bahwa kelak Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.

Jauh setelah itu, meletuslah pertempuran sesama umat Islam, antara kubu Ali bin Abi Thalib dengan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan. Pertempuran tersebut disebut sebagai Perang Sifin. Dalam pertempuran tersebut, Ammar bin Yasir berada di kubu Ali. Pada pertempuran tersebut, Ammar terbunuh oleh kubu Muawiyah.

Terkait dengan sabda Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa Ammar suatu saat akan dibunuh oleh kelompok pembangkang, menjadi momok bagi Amr bin Al-‘Ash yang berada pada kubu Muawiyah. Amr menyampaikan kepada Muawiyah bahwa Ammar telah terbunuh di pertempuran Sifin oleh kubu Muawiyah. Amr pun mengingatkan kepada Muawiyah bahwa dahulu Rasulullah Saw pernah menyatakan bahwa Ammar akan dibunuh oleh pembangkang. Sementara itu, pembunuh Ammar adalah kubu Muawiyah.

Menyikapi hal itu, Muawiyah menimpali bahwa Ammar terbunuh oleh pembangkang sementara pembangkan tersebut adalah kubu yang membawa Ammar pada pertempuran. Maksud Muawiyah, kelompok pembangkang tersebut adalah kubu Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, Muawiyah menafsirkan sabda Rasulullah Saw dengan kesimpulan yang berbeda. Jika kebanyakan orang menyatakan bahwa yang disebut pembangkang adalah kubu Muawiyah, maka Muawiyah berpendapat sebaliknya, bahwa kelompok pembangkang adalah kubu Ali lantaran telah menghadapkan Ammar pada pertempuran yang di situ dia terbunuh.

Dengan demikian, mereka pun berebut kebenaran. Kebenaran versi Muawiyah berbeda dengan kebenaran versi yang lainnya. Yang pasti, masing-masing mengklaim diri sebagai pihak yang berada pada kebenaran.

Bukankah pertempuran antara kubu Ali dengan kubu Muawiyah itu juga didasari pada perebutan kebenaran? Masing-masing pihak saling berebut kebenaran sehingga kebenaran ganda yang berlawanan tersebut justru melahirkan sebuah kerunyaman. 

Rupanya, perseteruan antara kubu Ali dengan kubu Muawiyah turun ke generasi berikutnya. Muawiyah yang mendirikan Dinasti Umayyah kemudian menunjuk anaknya sendiri, Yazid bin Muawiyah, untuk menjadi pemimpin. Penunjukan ini menyulut kontroversi lagi mengingat di masa sebelumnya, Muawiyah telah berdamai dengan Hasan bin Ali yang salah satu perjanjiannya adalah menyerahkan urusan kepemimpinan kepada rakyat melalui konsensus setelah Muawiyah wafat, bukan penunjukan seseorang atau diturunkan kepada ahli waris. Dengan begitu, Muawiyah telah mengingkari nota perjanjian dengan kubu Hasan yang ketika itu didukung oleh banyak orang. 

Singkat cerita, Hasan pun wafat. Konon, penyebab wafatnya adalah karena keracunan. Seseorang telah membubuhkan racun pada makanan/minuman yang dikonsumsinya sehingga membuat fisiknya melemah dan sakit-sakitan. Akhirnya, sang cucu Rasulullah Saw itu pun wafat.

Ketika Muawiyah wafat, benarlah bahwa Yazid yang ditunjuk sebagai penerus takhta pun mengambil alih posisi Muawiyah. Perdamaian yang dulu dibangun oleh Hasan pun pecah. Konstruksi perdamaian lagi-lagi hancur. Umat Islam harus menjalani sejarah pahit lagi.

Dua tokoh kala itu, Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair, menjadi sorotan. Mereka berdua adalah tokoh yang menolak untuk membaiat Yazid. Dalam tulisan sebelumnya berjudul Karbala; Ladang Darah, kesyahidan Husein sudah dikisahkan. Oleh karenanya, kita lewati saja kisah tentang Husein dan rombongannya yang dibantai secara keji di Karbala. 

Abdullah bin Zubair, setelah kesyahidan Husein, menjadi tokoh terdepan dalam kelompok oposisi. Sementara itu ketika Yazid meninggal, dia digantikan oleh putranya, Muawiyah bin Yazid. Kepemerintahan Muawiyah tidak begitu kentara lantaran singkat periodenya. Muawiyah pun meninggal dan menyisakan kursi kosong takhta kekuasaan Dinasti Umayyah.

Marwan bin Hakam secara cekatan mengambil alih posisi Muawiyah. Perlu kita ketahui pula, Marwan bin Hakam ini di waktu kepemimpinan Utsman bin Affan membuat kontroversi sehingga Utsman bin Affan terkena fitnah dan Ali yang telah menasihatinya pun merasa sangat kecewa. Marwan ini pula yang membuat kontroversi untuk melawan kubu Abdullah.

Sementara itu, di kubu oposisi, Abdullah bin Zubair secara aklamasi didukung oleh umat Islam Hijaz untuk menjadi pemimpin. Tidak hanya Hijaz, rakyat Irak, Yaman, dan Khurasan pun turut membaiat Abdullah. Kepemimpinan Abdullah ini dianggap sebagai kepemimpinan yang sah karena dibaiat oleh mayoritas rakyat, kecuali Syam dan Mesir karena kedua wilayah itu memihak Dinasti Umayyah. Di waktu kemudian, Syam dan Mesir pun tunduk di bawah kepemimpinan Abdullah. Hanya saja, Marwan memberontak dan di waktu kemudian berhasil menguasai Syam. Dengan demikian, terdapat dua kepemimpinan dalam satu negara; Abdullah dan Dinasti Umayyah.

Di masa berikutnya, Marwan meninggal sehingga takhta diturunkan kepada anaknya, Abdul Malik bin Marwan. Di masa Abdul Malik inilah perseteruan antara Dinasti Umayyah dan Abdullah mencapai titik kulminasinya. Dinasti Umayyah yang secara turun-temurun berkuasa dan Abdullah yang secara sah dibaiat oleh rakyat mayoritas saling angkat senjata.

Pertempuran antara keduanya terjadi di Mekkah. Abdul Malik dari Dinasti Umayyah menunjuk Al-Hajjaj bin Yusuf untuk menyerang Mekkah, yang di situ kubu Abdullah berpusat. Al-Hajjaj mengepung Mekkah hingga beberapa lama. Pertempuran antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Al-Hajjaj menggunakan manjanik sebagai senjata. Lontaran manjanik itu pun mengakibatkan Ka’bah yang telah direnovasi oleh Abdullah rusak.

Manjanik itu pun mengenai pasukan Abdullah. Abdullah sendiri juga tidak luput dari lontaran manjanik tersebut sehingga membuatnya terluka. Pasukan Al-Hajjaj merangsek masuk dan berhasil mengalahkan kubu Abdullah. Abdullah sendiri dibunuh. Jenazahnya disalib secara keji oleh pasukan Al-Hajjaj. Tangis kesedihan meneteskan air mata yang membanjir di Masjid Al-Haram.

Sebenarnya, ada peristiwa “menarik” dalam pertempuran tersebut. Ketika pasukan Al-Hajjaj menyerang kubu Abdullah, petir menyambar-nyambar. Pasukan Al-Hajjaj pun tersambar petir sehingga beberapa orang harus meregang nyawa. Melihat kondisi seperti itu, pasukan Abdullah berkomentar bahwa pasukan Al-Hajjaj itu tersambar petir lantaran mereka ada pada posisi yang salah dan Allah tidak merestui mereka. Beberapa waktu kemudian, petir pun menyambar pasukan Abdullah. Dengan demikian, pasukan Al-Hajjaj ganti berpendapat bahwa pasukan Abdullah berada pada kubu yang salah dan Allah mengazab mereka.

Dalam hal ini, mereka saling menyalahkan. Mereka menuduh lawan mereka sebagai pihak yang salah. Dengan demikian, mereka saling berebut kebenaran. 

 

Supriyadi, penulis biasa.