Gelar Ulama

Dalam kamus KBBI, kata ‘ulama’ diartikan sebagai orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Jalaluddin Rumi, seorang sufi kenamaan, memberikan perumpamaan menarik terkait ulama. Menurutnya, “Ia bagaikan pohon yang ditanam di tanah yang subur. Tanah itu menjadikan pohon tersebut berdiri kukuh dan kuat dengan daun-daun yang menghijau dan merimbun. Lalu ia mengeluarkan bunga dan menghasilkan buah yang lebat. Meski ia itulah yang menghasilkan bunga dan buah itu, namun ia sendiri tak mengambil buah itu. Buah itu untuk orang lain atau diambil mereka.”

Dulu di Indonesia, Jawa khususnya, jarang orang mengenal kata ulama. Di masa kerajaan, misalnya, ahli agama disebut modin. Seorang modin diberi tempat oleh kerajaan untuk mengajarkan agama Islam di sekitar keraton. Tempat tersebut kemudian dikenal dengan istilah kauman.

Di sisi lain, ada istilah lainnya untuk menyebut seorang yang ahli agama, yaitu kiai. Gelar kiai diberikan kepada tokoh agama yang menjadi cultural broker di masyarakat. Peran dan fungsinya tidak hanya mengajarkan agama Islam di pesantren, tetapi juga menentukan karakter keberagamaan suatu masyarakat. Jadi, perbedaan antara kiai dan modin terletak pada tempat pengajarannya. Jika modin memiliki tempat pengajaran di wilayah keraton, sementara kiai bertempat di lingkungan masyarakat.

Pada masa ini, menurut Kuntowijoyo, bisa dikategorikan dalam fase praindustri. Fase ini ditandai dengan sistem pengajaran yang bersifat oral atau dilakukan secara lisan. Dalam fase ini hubungannya diidentikkan dengan santri-kiai. Adapun dalalm solidaritas sosialnya disebut, meminjam istilah Emile Durkheim, solidaritas mekanik. Solidaritas mekanik ditandai dengan masih kuatnya tradisi paguyuban dan masih homogen. Jadi, apa pun yang hendak dikatakan kiai atau keputusan bersama seperti apa yang disepakati akan diikuti oleh seluruh masyarakat.

Keadaan semakin berkembang ketika budaya tulis dan sistem madrasah sudah banyak dikenal. Dalam tradisi ini dikenal hubungan guru dan murid. Alat komunikasinya menggunakan tulisan, baik yang berupa buku, pamflet, majalah, atau media tulisan lainnya. Hubungan sosialnya dikenal dengan solidaritas organik, dari sinilah kemudian dikenal organisasi-organisasi, perkumpulan-perkumpulan, dan sebagainya. 

Pada era industri, Kuntowijoyo mengatakan bahwa ulama akan kita temukan di mana-mana. Ulama tidak lagi diproduksi dari pesantren, tetapi ia akan datang dari sana-sini. Kedatangan ulama akan menjadi sporadis. Jadi, ulama bukan lagi kategori sosial, melainkan kategori intelektual. Keberadaannya abstrak. Kita dapat mengetahuinya namun belum tentu mengenalnya.

Sementara itu, terkait dengan komunikasi, ulama saat ini lebih condong ke model elektronik. Menurut Kuntowijoyo terdapat empat sifat dan solidaritas antara cendekiawan-masyarakat, yaitu;

Pertama, terbuka. Sifat keterbukaan ini bisa dilihat dari akses visual seorang ulama. Apalagi saat ini media sosial semakin canggih, ia akan berdakwah di akun media sosialnya seperti youtube, facebook, dan media sejenisnya. Dari sinilah kemudian muncul prinsip do it yourself, jadi orang dapat menjadi sufi tanpa harus berguru secara tatap muka. Orang hanya duduk menghadap laptop atau smartphone-nya kemudian mendengarkan isi ceramahnya. Dari sinilah pada gilirannya muncul istilah tasawuf modern. Sementara itu, keberislaman orang-orang seperti itu diistilahkan oleh Kuntiwijoyo sebagai muslim tanpa masjid. 

Kedua, kelompok kecil. Bagi Kuntowijoyo, terdapat kelompok kecil yang ingin mengembalikan masa kini ke masa dulu. Saat ini memang banyak kelompok kecil yang bermunculan untuk mengembalikan ke zaman Nabi Saw, seperti ingin mendirikan negara Islam yang diwakili oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), atau ingin kembali ke Sunah dan Alquran sebagaimana yang diinginkan oleh kalangan fundamentalis.

Ketiga, proliferasi. Ulama sekarang ada di mana-mana. Saat ini ulama bukan kepemilikan ormas mainstream atau pesantren. Setiap lembaga diberbagai elemen memiliki ulama masing-masing. Di pabrik, media televisi, kanal-kanal youtube, sekolah, kantor, perguruan tinggi, semua memiliki ulama masing-masing. 

Keempat, mobile. Seorang ulama pada zaman dulu menetap di sebuah tempat untuk mengajarkan agama Islam. Akan tetapi di era industri, ulama bisa ke mana-mana. Mengisi ceramah dengan berpindah-pindah kota setiap hari sudah menjadi pandangan umum di era ini. Bahkan tidak sedikit dari ulama sekarang yang berpindah-pindah televisi untuk mengisi ceramah. 

Itulah gambaran tentang ulama dulu dan kini. Meskipun telah mengalami perubahan zaman, namun ulama sebagai cultural broker hingga hari ini masih ada. Perkembangan zaman justru melahirkan beberapa fungsi, peran, dan sifat ulama semakin beragam. Di satu sisi ini menjadi tanda positif karena semakin banyak orang yang sadar akan agama, namun hal ini juga menjadi ancaman tersendiri karena dari cara beragama semacam ini banyak melahirlkan sosok muslim tanpa masjid.

 

M. Mujibuddin SM, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta