Karbala; Ladang Darah

Dalam sejarah umat manusia, peristiwa berdarah banyak mengambil bagian dari porsi sejarah perjalanan umat manusia dari masa ke masa. Perang antarkelompok, pertempuran dalam perebutan kekuasaan, invasi bangsa-bangsa barbar, penaklukan dalam misi kekuasaan, perang antarpemeluk agama, dan lain sebagainya, menjadi peristiwa yang banyak ditulis dalam buku-buku sejarah.

Peristiwa berdarah tersebut memang telah menjadi jalan sejarah panjang umat manusia. Dengan begitu, benarlah apa yang pernah dipertanyakan oleh para malaikat ketika Allah hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Para malaikat mempertanyakan kehendak Allah dan menegaskan bahwa manusia adalah kaum yang gemar merusak dan menumpahkan darah. (lihat QS. Al-Baqarah [2]:30).

Dalam sejarah umat Islam, pertumpahan darah pun terjadi. Jika kita menilik sejarah, bangsa Arab yang merupakan titik awal Islam lahir, tumbuh, dan berkembang, merupakan bangsa yang sering terlibat perang antarsuku. Ketika Islam didakwahkan kepada Nabi Muhammad Saw di Arab pun terjadi beberapa kali pertumpahan darah. Kita bisa membaca buku-buku sejarah yang menguraikan betapa umat Islam yang masih sedikit itu mendapatkan perlakuan barbar. Baru setelah peristiwa hijrah, umat Islam menguat dan harus menghadapi beberapa peristiwa berdarah untuk bertahan hingga peristiwa fath Makkah menegaskan kekuatan umat Islam.

Sepeninggalan Nabi Muhammad Saw, persatuan umat Islam terancam. Pada masa akhir kepemerintahan Utsman bin Affan, pertumpahan darah mengerikan terjadi. Mirisnya, perselisihan yang terjadi dalam pertumpahan darah tersebut justru oleh internal umat Islam (beberapa riwayat menyatakan ada rongrongan dari orang-orang munafik). Utsman pun terbunuh oleh umat Islam sendiri setelah dikepung. Pertumpahan darah tersebut menjadi hilir dari beberapa pertumpahan darah setelahnya, terutama di masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan awal era Dinasti Umayyah.

Pasca kewafatan Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dipilih untuk menjadi pemimpin, pengganti (khalifah) Utsman. Oleh Aisyah (istri Nabi Saw), Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan beberapa sahabat lain, Ali dituntut untuk segera mengusut kasus pembunuhan Utsman. Ali mengiyakan, namun tidak segera bertindak lantaran menurutnya, ada hal lain yang lebih penting untuk diselesaikan; stabilitas politik dan menenangkan gaduh perpecahan.

Hanya saja, Aisyah, Thalhah, dan Zubair tidak sabar terhadap kebijakan Ali tersebut sehingga menjadikan mereka salah paham. Lagi, umat Islam terpecah menjadi dua kubu; yang pertama adalah kubu Kufah yang mendukung Ali dan yang kedua adalah kubu Basrah yang mendukung Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Kedua kubu, karena termakan fitnah, akhirnya bertempur dalam Perang Jamal. Thalhah dan Zubair wafat, Ali menangis atas kewafatan dua sahabat baiknya itu. Sementara itu, Aisyah selamat dan dimuliakan oleh Ali. Itu adalah pertumpahan darah yang mengerikan lantaran para sahabat utama Nabi Saw justru saling menumpahkan darah.

Tidak sampai di situ. Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam semenjak era kepemimpinan Umar bin Khatthab pun menuntut Ali untuk mengusut pembunuhan Utsman. Muawiyah, yang merupakan keluarga Bani Umayyah—termasuk Utsman sendiri—menghendaki pengusutan atas pembunuhan Utsman secara cepat. Hanya saja, hasrat Muawiyah terlalu besar sehingga dia mengumpulkan pasukan untuk membangkan dan memberontak terhadap kepemimpinan Ali. Ali pun bereaksi, maka meletuslah Perang Siffin. Lagi, pertumpahan darah di antara umat Islam terjadi.

Kedua pasukan bertempur, namun kubu Ali hampir memenangkan pertempuran meskipun mereka kalah dalam hal jumlah pasukan. Merasa terdesak, kubu Muawiyah kemudian mengangkat Alquran guna mengadakan kesepakatan. Pertempuran terhenti dan kesepakatan pun terjalin. Tahkim atau arbitrase kemudian dilakukan. Peristiwa arbitrase inilah yang menentukan peta politik beberapa golongan. 

Sebagian orang dari kubu Ali yang tidak menyetujui adanya arbitrase ini kemudian keluar dari kubu Ali. Mereka membelot dan mencabut dukungan kepada Ali. Mereka yang keluar ini disebut sebagai golongan Khawarij (secara etimologi berarti “orang-orang yang keluar”). Sementara itu, mereka yang setia untuk mendukung Ali disebut Syi’atu ‘Ali (secara etimologi berarti “pendukung Ali”). Di kemudian hari, Syi’atu ‘Ali ini menjadi kelompok fanatisme Ali yang disebut sebagai Syi’ah saja. Ada pula golongan yang tidak menentukan pilihan antara mendukung Ali atau Muawiyah, dan mereka ini menyerahkan penghakiman tersebut kepada Allah di akhirat kelak dengan berdasar tiada pemutus perkara atau penentu mana yang salah dan mana yang benar kecuali Allah, hakim teradil. Golongan ini di kemudian hari disebut sebagai Murjiah (secara etimologi berarti “yang berharap—atas suatu keputusan”). Yang terakhir adalah golongan yang setia kepada Muawiyah yang di kemudian hari tergabung dalam kepemerintahan Dinasti Umayyah di bawah kepemimpinan Muawiyah.

Singkat cerita, golongan Khawarij ini kemudian merencanakan pembunuhan terhadap tiga tokoh yang mereka anggap sebagai dalang kekacauan umat Islam. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash. Gologan Khawarj menengarai bahwa selain dari golongan mereka adalah kafir. Ali, Muawiyah, dan Amr pun dituduh kafir karena telah melakukan arbitrase (kesepakatan hukum), sementara menurut Khawarij, la hukma illa lillah (tiada hukum selain milik Allah). Golongan Khawarij dengan demikian menganggap bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah itu sudah keluar dari Islam, bahkan darah mereka halal.

Maka, disusunlah strategi untuk membunuh ketiganya dengan tiga eksekutor yang berbeda; Abdurrahman bin Muljam mengeksekusi Ali, Al-Bark bin Abdillah membunuh Muawiyah, dan Amr bin Bakr membunuh Amr bin Ash. Pembunuhan dilakukan di waktu dini hari hingga subuh.

Ketika itu, Ali tengah berada di Kufah. Ibn Muljam, yang direncanakan sebagai eksekutor Ali pun berangkat ke sana dengan sebilah pedang yang hendak digunakan untuk membunuh Ali. Di sana, Ibn Muljam bertemu dengan seorang perempuan yang juga dari golongan Khawarij bernama Qutham bint Syajanah. Qutham juga menaruh dendam terhadap Ali karena ayah dan saudaranya terbunuh oleh pasukan Ali ketika terjadi bentrok antara Syi’ah dengan Khawarij.

Ibn Muljam bermaksud untuk meminang Qutham. Sementara itu, Qutham mensyaratkan pinangan tersebut dengan “darah” Ali. Dengan begitu, semakin menggebulah semangat Ibn Muljam untuk membunuh Ali yang telah dianggapnya sebagai seorang kafir. Lantas, berangkatlah ia ketika dini hari menjelang subuh. Begitu pula Al-Bark bin Abdillah dan Amr bin Bakr.

Subuh itu, Muawiyah hendak melakukan salat. Dia keluar rumah menuju masjid. Tiba-tiba, sebilah pedang dihantamkan oleh Al-Bark bin Abdillah ke tubuh Muawiyah. Muawiyah terluka, namun dia selamat dan lukanya berhasil diobat. Dengan demikian, Al-Bark bin Abdillah gagal dalam misi pembunuhan terhadap Muawiyah. Sementara itu, Amr bin Bakar juga menemui kegagalan dalam pembunuhan terhadap Amr bin Ash. Ketika itu, Amr bin Ash sedang sakit. Dia pun mengutus seseorang untuk menggantikannya menjadi imam salat subuh. Amr bin Bakr itu mengira bahwa yang mengimami salat subuh itu adalah Amr bin Ash. Maka, Amr bin Bakr segera menyabetkan pedangnya kepada imam tersebut hingga tewas. Amr bin Ash gagal dibunuh, namun pengganti imamnya menjadi korban.

Lain halnya dengan Ali bin Abi Thalib. Menjelang subuh, dia keluar rumah guna membangunkan orang-orang untuk salat subuh bersamanya. Saat keluar rumah, Ali dihampiri oleh Ibn Muljam yang telah mengintainya. Mendapat kesempatan yang tepat, Ibn Muljam pun langsung mengayunkan sebilah pedangnya sehingga mengenai kepala Ali. Darah pun mengucur deras sampai membasahi jenggotnya. Sontak, orang-orang pun berkumpul untuk menolong Ali dan sebagian mengejar Ibn Muljam serta menangkapnya. Dua hari berselang, Ali pun wafat. 

Ali dan orang-orang yang mendukungnya kemudian mendapatkan tekanan dari kubu Muawiyah. Setelah Ali wafat, mereka yang setia kepada Ali menghendaki Hasan bin Ali sebagai pemimpin. 40.000 orang lebih membaiat Hasan sebagai pemimpin mereka. Irak dan Khurasan pun berbaiat kepada Hasan. Sebagai pemimpin, Hasan sangat dicintai oleh para pendukung setianya, Syi’ah.

Pada suatu ketika, Hasan berniat hendak menemui Muawiyah. Rupanya, Muawiyah kala itu tengah menghimpun sepasukan besar untuk memerangi Hasan. Maka, dua pasukan besar umat Islam pun bertemu. Melihat umat Islam saling menghunuskan senjata antara satu dengan lainnya, Hasan bersedih hati. Dia lantas berniat untuk melakukan komunikasi dan negosiasi dengan Muawiyah. Hasilnya, Hasan yang berhati lembut dan tidak suka dengan pertumpahan darah antara sesama umat Islam itu bersedia menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Muawiyah dengan bebagai persyaratan tertentu yang salah satunya adalah bahwa setelah kepemiminan Muawiyah, maka diselenggarakan pemilihan untuk menunjuk pemimpin pengganti.

Tahun-tahun itu merupakan tahun perdamaian karena Hasan dengan sukarela menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah lantaran menghindari pertumpahan darah. Hanya saja, tidak ada tempat yang aman dalam politik. Hasan diracuni. Sebenarnya, Hasan mengetahui siapa yang membubuhkan racun dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Meski demikian, Hasan tidak mau berprasangka.

Husein bin Ali, adik Hasan dari seorang ibu, Fatimah Al-Zahra bint Muhammad, merasa kesal dan geram dengan tindakan meracuni tersebut. Husein pun bertanya kepada Hasan agar menunjukkan siapa pelaku tersebut. Hasan enggan menjawab, dia justru menasihati sang adik agar tidak berbuat dendam. Hasan menyatakan bahwa jika Hasan menunjukkan pelakunya, maka apa yang hendak dilakukan? Jika Hasan menunjuk pelakunya dan ternyata salah, padahal ia hendak dieksekusi (qishash), maka hal itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Beberapa bulan kemudian, Hasan wafat karena racun yang mengendap di dalam tubuhnya. 

Di lain pihak, Muawiyah menunjuk putranya, Yazid bin Muawiyah, untuk menjadi pemimpin pengganti dirinya. Kebijakan yang tak bijak tersebut menghkianati nota kesepakatan antara kubu Muawiyah—yang dengan demikian mendirikan Dinasti Umayyah yang monarki—dengan kubu Syi’ah.

Kegaduhan pun terjadi lagi. Dua tokoh penting saat itu, Husein bin Ali, yang merupakan adik Hasan dan putra Ali, serta Abdullah bin Zubair, menjadi sorotan bagi masyarakat yang tidak menyetujui kebijakan tersebut. Terlebih lagi, Yazid memang benar-benar menjadi pemimpin selepas Muawiyah wafat.

Husein dan Ibn Zubair pun pergi ke Mekkah. Di sana, mereka disambut dengan hangat. Husein menerima keluhan masyarakat Muslim di sana. Sementara itu, di Masjid Al-Haram Ibn Zubair merenungkan nasib politik monarki yang dibangun Muawiyah. 

Beberapa waktu kemudian, pesan-pesan dari Kufah, baik berupa surat maupun utusan, datang yang ditujukan kepada Husein. Masyarakat Kufah mendukung Husein untuk menjadi pemimpin. Mereka hendak membaiat Husein. Untuk mengetahui kebenarannya, Husein mengutus Muslim bin Uqail ke Kufah. Muslim pun pergi ke Kufah sebagaimana pinta Husein. Benar saja, rupanya masyarakat Kufah benar-benar hendak membaiat Husein sebagai pemimpin, bukan Yazid yang—menurut Imam Suyuthi dan Al-Thabari—fasik dan tidak cakap menjadi pemimpin. Kala itu, Kufah berada di bawah pimpinan gubernur yang lalim, Ubaidillah bin Ziyad.

Muslim pun menyampaikan kebenaran berita tersebut kepada Husein. Maka, berangkatlah Husein ke Kufah bersama rombongan. Sebenarnya, banyak orang di Mekkah yang mencegah kepergian Husein ke Kufah lantaran ada bahaya yang mengancam. Akan tetapi, Husein bersikukuh untuk menemui pendukungnya yang telah menantikan kedatangannya.

Berita keberangkatan Husein menuju Kufah pun tercium oleh Yazid. Yazid lantas memerintahkan kepada gubernur Kufah dan Basrah ketika itu, Ubaidillah bin Ziyad, untuk menghardik dan menyerang rombongan Husein yang berjumlah kurang lebih 70-an orang (riwayat lain menyatakan 60-an orang, ada juga yang menyatakan lebih dari seratus orang tetapi tidak lebih dari 140 orang, namun ada yang menyatakan sekitar 300 orang).

Ubaidillah segera mengutus sepasukan perang yang dipimpin oleh Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash untuk menyerang rombongan kecil Husein tersebut. Kedua kubu bertemu di Karbala. Pembantaian pun terjadi. Kepala Husein dipenggal. Nahas sekali nasib Husein, cucu Rasulullah Saw yang sangat dicintai. Kepala Husein kemudian diserahkan kepada Ubaidillah. Dia kemudian menyepak kepala tersebut dengan tongkat.

Tragedi berdarah tersebut terjadi pada 10 Muharram. Tragedi tersebut kemudian diperingati oleh masyarakat Syiah hingga sekarang sebagai hari berkabung.

Sejarah pertumpahan darah tersebut merupakan pelajaran penting dalam kehidupan umat manusia kini. Pertumpahan darah sesama umat Islam, yang seyogianya bersumber dari perbedaan kepentingan politik, yang kemudian politik itu membajak dalil-dalil agama, sejatinya harus menjadi objek pembelajaran kita di masa kini. Agama adalah seperangkat perdamaian, namun tidak jarang agama justru dibajak untuk kepentingan politik yang menjauhkan umatnya dari rasa damai. 

 

Supriyadi, penulis biasa.