Para Haji Sebagai Penggerak Revolusioner

Haji. Rukun Islam nomor lima ini benar-benar dahsyat. Untuk menunaikannya, masyarakat rela antre berangkat hingga bertahun-tahun. Dalam catatan sejarah, sepulang dari tanah suci, mereka menjadi para penggerak di berbagai bidang.

Berbeda dengan zaman sekarang yang menggunakan angkutan pesawat yang nyaman dan cepat, haji di masa lampau adalah perjalanan sulit. Selain ongkos yang tak sedikit, perjalanan ditempuh menggunakan kapal laut selama berminggu-minggu, setelah itu pun harus dilanjutkan melalui perjalanan darat melintasi gurun yang panas menyengat. Selesai? Belum. Calon jamaah haji masih pula terancam keselamatannya oleh bandit-bandit yang menyergapnya di perjalanan menuju dua kota suci: Mekkah dan Madinah. Benar-benar berat.

Pengalaman spiritual yang biasanya dialami oleh jamaah haji maupun upaya keras menjadi haji mabrur merupakan salah satu wujud kesungguhan jamaah haji. Di masa lampau, yang ketika itu sarana transportasi terbatas, ibadah haji menjadi legitimasi sosial, politik, hingga ekonomi. Di antara alasannya; pertama, membangkitkan kesadaran akan persatuan umat; kedua, membangkitkan semangat perjuangan untuk menentang penjajahan, karena jamaah haji dari berbagai negeri dunia Islam umumnya saling bertukar informasi dan akhirnya dapat saling memahami bahwa mereka sebenarnya hidup dalam penjajahan; ketiga, meningkatkan ketundukan kepada Islam yang kian kuat, baik dalam persoalan ibadah pribadi maupun aspek politik, sosial, dan ekonomi; keempat, meningkatkan semangat pengorbanan. 

Karena memiliki dampak berlipat ganda, pemerintah kolonial Hindia Belanda menerapkan aturan khusus yang rumit untuk mengontrol jumlah calon jamaah haji. Terhitung ada tiga peraturan yang dibuat pemerintah kolonia terkait perjalanan haji. Resolusi 1825, Ordonansi Haji 1859, dan Ordonansi 1922. 

Sikap demikian memang wajar. Sebagai penjajah, mereka takut para haji sepulang dari Tanah Suci akan membawa misi politik yang mengganggu jalannya kolonialisme. Apalagi, orang yang bergelar haji di masyarakat sangat dihormati dan dianggap memiliki kekuatan gaib. Pasca kepulangannya dari ibadah haji, selain mengubah nama menjadi “lebih Islami”, para haji ini juga memiliki karisma menggerakkan massa, baik di bidang spiritual, social, budaya, hingga politik.

Dalam “History of Java”, Thomas Stamford Raffles bahkan mengkhawatirkan dampak sosial politik yang diakibatkan oleh para haji manakala mereka melakukan perlawanan bersama rakyat. Dugaan Raffles tak meleset, ketika Pangeran Diponegoro angkat senjata, beliau didukung ratusan ulama dan para haji. Di berbagai daerah, para sultan yang melakukan perlawanan juga didampingi oleh jaringan ulama dan para haji. 

Bahkan, setelah api perlawanan yang dimotori Pangeran Diponegoro dipadamkan, dan Jawa benar-benar takluk di tangan Belanda, bangsawan Keraton Yogyakarta maupun Surakarta secara resmi dilarang pergi haji, meskipun mereka bergelar sultan. Demikian catatan Peter Carey dalam buku “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855”. Para sultan, dengan gelar mentereng sebagai pemangku dunia (Hamengkubuwono), pengelola negara (Mangkunegoro), Pakubuwono, serta Pakualam, justru kehilangan kuasa atas bumi/tanah yang disematkan dalam gelar kebangsawanannya. Demikian sindir Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu karyanya. Di lain sisi, akibat larangan pemerintah kolonial, para para raja Jawa juga kehilangan hak ke Tanah Suci meskipun mereka memiliki legitimasi keagamaan sebagai “amirul mukminin ing tanah Jawi”.

Hikayat Haji Pertama dari Nusantara

Karena haji membutuhkan biaya banyak, maka hanya orang kaya yang sanggup berangkat, yaitu mereka yang memiliki usaha mapan dan masuk dalam kategori kelas menengah ke atas. Di Jawa masa lalu, mereka menguasai sektor bisnis tertentu dan terikat pada basis “persaudaraan haji”. Misalnya, jaringan pengusaha batik di kawasan yang membentang dari Solo hingga Ponorogo digerakkan oleh persaudaraan haji. Di Lampung, manakala era keemasan kopi mencapai puncaknya, di awal abad XX, para saudagar kopi ramai-ramai berangkat haji. Bahkan pengusaha batik terkemuka, Haji Samanhudi, menjadi pelopor pergerakan modern Indonesia melalui Sarekat Dagang Islam. Pelanjutnya, Haji Omar Said Tjokroaminoto juga menyematkan gelar haji di depan namanya. Selebihnya, peranan kaum pejuang yang bergelar Kiai Haji juga banyak dicatat dalam historiografi sejarah Indonesia.

Kota suci Mekkah telah menjadi inkubator. Bukan hanya tempat pematangan ruhani para kekasih-Nya, melainkan juga jejaring para ulama anti-kolonialisme. Para tokoh pendidikan di Indonesia bergerak dengan mendirikan lembaga pendidikan sepulang dari Mekkah. Mereka datang sebagai pelajar, pulang sebagai penggerak. Setidaknya ini bisa kita cermati dalam kiprah KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Syekh Zainuddin el-Yunusi, Prof. Mahmud Yunus, Buya Hamka, dan lain sebagainya. Mereka menjalankan tugas revolusioner sebagai perintis-pendidik usai lulus dari kota “inkubator” Mekkah.

Lantas, siapa orang Nusantara yang kali pertama naik haji? Pertanyaan ini memang tak mudah dijawab. Sebab, ternyata praktik haji berbanding lurus dengan sejarah Islamisasi Nusantara. Sayangnya tidak terlalu banyak catatan sejarah yang menunjukkan secara pasti kapan persisnya orang Nusantara naik haji, karena rata-rata catatan haji baru mulai ditulis pada abad ke-19. 

Henry Chambert Loir dalam buku “Naik Haji di Masa Silam” menuliskan hikayat orang Nusantara yang pertama kali naik haji. Sultan Mansyur Syah (1459-1477), Raja Kerajaan Malaka, sangat ingin naik haji. Dia pun menyiapkan puluhan kapal dan 12 ton emas serta permata untuk perjalanan spiritualnya ini. Sayang, niatnya tak kesampaian karena keburu terserang sakit kemudian meninggal. Putranya, Sultan Alaudin Riayat Syah (1477-1488) coba meneruskan cita-cita mendiang ayahnya. Hanya saja, setelah persiapan begitu matang dalam perjalanan dari Bintan ke Malaka, dia juga tak memiliki umur panjang. Sultan Mahmud Syah penerus kedua sultan tersebut ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat. Dia malah ’anti’ Mekkah. Menurutnya tak perlu jauh-jauh naik haji ke Mekkah sebab Malaka ‘derajatnya’ sama dengan Mekkah. 

Dalam catatan sejarah orang yang pertama naik haji adalah Laksamana Hang Tuah. Tokoh multitalenta ini berangkat haji ketika ditugaskkan oleh Sultan Malaka ke Istanbul untuk membeli meriam. Dia membawa rombongan besar dengan 42 kapal yang mengangkut 1600 prajurit dengan armadanya yang dikenal dengan nama Menfam Berahi. 

Hang Tuah naik haji bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 866 atau 29 Januari 1482. Ketika itu yang mejadi ’Raja Mekkah’ adalah Syarif Ahmad bin Zainal Abidin, sedangkan Madinah dipimpin oleh saudaranya, Syarif Baharudin. Akan tetapi, catatan haji Hang Tuah ini banyak mendapat kritik karena ada beberapa peristiwa yang tidak sinkron. 

Terlepas dari kontroversi itu, ada Ludovico di Varthema, orang Roma pertama yang mengunjungi Mekkah pada 1503. Dia melihat jamaah haji dari kepulauan Nusantara yang dia sebut “India Timur Kecil”. Jemaah haji yang dijumpai Varthem itu, menurut M. Shaleh Putuhena dalam “Historiografi Haji Indonesia”, barangkali orang-orang Nusantara yang pertama menunaikan ibadah haji.

“Tetapi, mereka bukan jemaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka adalah pedagang, utusan sultan, dan pelayar yang berlabuh di Jeddah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekah,” tulis Shaleh.

Terlepas dari perdebatan siapa orang Nusantara yang kali pertama menunaikan ibadah spesial ini, gelar haji di Tanah Air telah menjadi sebuah penanda sosial, budaya, bahkan ekonomi. Lebih dari itu, konon, bagi mereka yang telah usai menunaikan ibadah haji, selalu timbul keinginan untuk melaksanakan ibadah ini pada tahun-tahun berikutnya. 

 

Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyyah Kencong Jember