Membaca, Sebuah Doktrin atau Bukan?

Siapa yang tidak tahu QS Al-Alaq ayat 1 sampai 5? Semua kaum muslim nyaris mengetahuinya. Surah ini, bukan hanya wahyu pertama, melainkan juga kandungannya yang unik, yakni tentang perintah membaca. Dua hal itulah yang menjadikan ayat ini kerap kali dihafal dan disebutkan di setiap kesempatan, terutama di madrasah-madrasah.

 

Anak-anak kecil sudah menghafalkannya. Bahkan pada saat pelatihan, saya kerap kali menyuruh peserta untuk maju untuk membacakan surah teresebut, mereka hafal, meskipun tanpa terjemahannya. Hal ini berarti ayat “Iqra’” begitu populer. Sejak kecil sudah didengungkan. Surah ini termasuk dalam kategori surah-surah pendek yang sering dimasukan sebagai program hafalan. 

Kalau kita cermati ayatnya, di situ ada kata perintah membaca. Walaupun tidak disebutkan apa yang dibaca, secara tersirat ada teks yang dibaca. Hal itu bisa kita lihat dari jawaban Nabi Muhammad Saw dengan mengatakan “Ma ana biqari (saya tidak bisa membaca).” Berarti ada objek yang mesti dibaca oleh beliau, yang di situ beliau tidak bisa membacanya. 

Dari ayat tersebut, semua orang membicarakannya bahwa betapa pentingnya membaca, membaca, dan membaca. Akan tetapi, apa yang terjadi? Realitasnya tidak seperti itu. Ayat “membaca” hanya berhasil disampaikan dalam forum-forum akademis maupun pengajian-pengajian, namun pada kehidupan riilnya masih belum ada pengejawantahannya. 

Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, bahwa kata Iqra’ merupakan salah satu kata 'amr (perintah), yang khithab (audien)-nya ketika itu adalah Muhammad. Kata tersebut seakan menyatakan: Bacalah wahyu-wahyu Ilahi yang sebentar lagi akan banyak engkau terima, dan baca juga alam dan masyarakatmu. Bacalah agar engkau membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan. Bacalah semua itu namun dengan syarat hal tersebut engkau lakukan dengan atau demi nama Tuhan Yang selalu memelihara dan membimbingmu setiap detak jantung dan detik waktu. 

Singkatnya, Quraish Shihab memahami Iqra’ (membaca) tidak hanya berkonotasi terhadap sesuatu yang tertulis, tetapi juga hal-hal yang tak tertulis. Hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Beliau menyatakan bahwa perintah awal Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw ini, yakni membaca,  Jibril datang tidak membawa objek apa yang akan dibaca. Pesan dari ayat ini menegaskan bahwa perintah membaca dalam ayat tersebut bukan menegaskan membaca hanya sebatas membaca semata. 

Dari pemahaman kedua pakar tafsir di atas, tentu kita menyadarinya lantaran perintah Iqra’ dalam ayat tersebut tidak dibarengi objeknya. Jadi, tidak ada “kejelasan” apa yang dibaca oleh Nabi Muhammad Saw. Ketidakjelasan itu memunculkan kejelasan bahwa yang dibacanya adalah segala hal, bisa sebuah teks maupun nonteks. 

Meskipun saya meyakini bahwa ada objek yang dibacanya, dengan melihat jawaban Nabi Muhammad Saw, semua tafsiran bisa mengerucut pada satu hal bahwa Allah mengawali wahyu-Nya dengan kandungan perintah membaca. Apa yang dibacanya itu adalah hal lain,. dan menurut saya, yang paling dekat dengan proses membaca adalah membaca teks berupa huruf-huruf yang menjelma menjadi kata dan kalimat yang bisa dipahami. 

Atau, katakanlah membaca teks adalah level pertama sebelum membaca hal-hal lainnya. Dengan membaca teks, kita bisa beranjak pada level selanjutnya, yaitu memikirkan, memahami, meneliti, maupun merenungi. Membaca teks adalah hal paling mudah dibandingkan membaca dalam arti sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Ia adalah hal dasar yang semua orang yang dapat membaca kata demi kata dapat melakukannya, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa.

Realitas Kekinian 

Hanya saja, bagaimana realitasnya? Apakah umat Islam memperhatikan perintah membaca ini? Wallahu a’lam. Saya sendiri belum melakukan penelitian secara saksama dengan perangkat metode-metode penelitian, hanya sekadar memperhatikan apa yang ada di sekeliling saya. Untuk itu saya tidak akan menilainya sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di atas. Saya hanya hendak mengajak untuk merenungkan sama-sama perihal perintah membaca ini. 

Mungkin kita sudah tahu jawabannya mengapa Allah menurunkan wahyu pertama ini bermuatan perintah Iqra’, bukan yang lain. Baik, katakanlah kita akan menjawab agar kaum muslim mau membaca. Lantas, sudahkah kita mengamalkannya? Mungkin kita akan menjawab sudah. Pertanyaan berikutnya, apakah kita mengamalkannya secara serius, dalam arti melakukannya secara istikamah meskipun tidak setiap hari? Kemungkinan jawabannya bisa macam-macam. Biarlah masing-masing saja menjawabnya dalam hati. 

Boleh jadi kita menyadari bahwa betapa pentingnya membaca. Tanpa ayat Iqra’ pun kita mengetahui hal itu. Terlebih diperkuat dengan ayat tersebut, maka makin pentinglah aktivitas membaca. Namun demikian, untuk menjawab pertanyaan terakhir di atas kenapa bisa macam-macam jawabannya? Semoga saja alasannya bukan karena malas untuk melakukannya.  

Ada hal yang menarik pula untuk saya sampaikan di sini, perihal ayat Iqra’, apakah perintah membaca ini sebagai doktrin atau anjuran belaka? Sejauh pengamatan saya, hal ini belum banyak dikupas oleh para pakar tafsir. Jika sebuah doktrin, maka siapa yang tidak mengamalkannya akan ada sanksi dari Tuhan tentunya. 

 

M. Iqbal Dawami, penulis Pseudo Literasi (2017)