Asal-Usul Konflik Antargenerasi

Oleh : Widodo*)

Sebagai pribadi yang berwawasan jauh, Begawan Abiyasa tahu kapan saatnya berhenti. Ketika memasuki usia senja, walaupun masih mampu memimpin dan masih memiliki pengaruh politik, dia memutuskan untuk turun takhta, menyerahkan kerajaan kepada pewarisnya, lalu hidup menyendiri sebagai pertapa jauh dari pusat kekuasaan.

 

Hal itu dilakukan Abiyasa sebagai persiapan untuk menyambut kematian. Meski tinggal jauh dari istana, Abiyasa sekali-kali masih dimintai nasihat oleh para penerusnya.

Dia pun kadang-kadang, dalam kondisi yang benar-benar darurat, masih turun tangan langsung untuk membantu mereka menyelesaikan masalah kerajaan. Abiyasa, dalam pertapaannya, membimbing anak-cucunya dari belakang. Tut wuri handayani.

Dalam kebudayaan Jawa, Abiyasa menjadi gambaran pemimpin yang ideal. Pemimpin besar selalu tahu batas, termasuk tahu batas usia.

Laku asketik Abiyasa tua kemudian diteladani oleh cucunya, Puntadewa. Jauh setelah perang Baratayuda berakhir, pemilik pusaka Jamus Kalimasada itu melimpahkan kekuasaan kepada penggantinya untuk kemudian, bersama saudara-saudaranya dan istrinya, tinggal jauh dari istana.

Dengan lapang dada, generasi tua menyingkir dari gelanggang dan menepi ke pinggir. Sudah datang giliran bagi generasi muda untuk menulis namanya pada lembaran sejarah dengan tinta emas.

Bandingkanlah apa yang dilakukan Abiyasa dan Puntadewa dengan apa yang dijalani Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana. Keduanya adalah pendekar sepuh dari golongan putih dalam cerita silat “Naga Sasra Sabuk Inten”.

Saat telah lanjut usia, kendati kesaktian mereka belum melemah apalagi lenyap, mereka kompak menanggalkan baju dinas kependekaran dan hidup layaknya orang biasa. Nama besar dilepaskan tanpa beban. Nama kecil dihayati juga tanpa beban.

Ki Ageng Sora Dipayana menyerahkan kekuasaan kepada anak-anaknya. Setelah mengembara beberapa lama, dia lalu bermukim sebagai petani di sebuah desa yang dahulu pernah dipimpinnya.

Akan tetapi, karena tak satu pun penduduk desa yang mengenalnya sebagai mantan pemimpin besar mereka, Ki Ageng Sora Dipayana diperlakukan sebagai orang tua biasa, dengan penghormatan yang wajar. Dia sendiri tidak menuntut pengistimewaan apalagi minta diagung-agungkan. Tidak pula mengemis pujian dan balas budi atas perjuangan yang pernah dilakukan. Sang pendekar tidak mengalami post-power syndrome.

Sahabatnya, Ki Ageng Pandan Alas, juga tidak mengalami post-power syndrome. Setelah secara tidak langsung disingkirkan menantunya, Ki Ageng Pandan Alas yang sudah sepuh mencari tempat bermukim baru. Di sana, dia menghabiskan sisa umurnya sebagai penduduk biasa yang bukan hanya tidak diperhitungkan, melainkan juga dianggap kurang waras.

Ki Ardi, itulah nama barunya, tinggal dalam sebuah goa yang terpencil sambil berladang jagung. Dia sering mengembara dengan maksud dan tujuan yang tidak dipedulikan penduduk. Tidak seorang pun dari mereka yang tahu bahwa Ki Ardi sebenarnya adalah Ki Pandan Alas, pendekar sakti dari Pegunungan Kidul yang ditakuti golongan hitam.

Demikian kearifan para pemimpin dalam cerita-cerita berlatar belakang Jawa. Sebagai "ideal type", sosok seperti Abiyasa, Puntadewa, Ki Ageng Sora Dipayana, dan Ki Pandan Alas tentulah sukar dicari dalam kehidupan nyata, sesukar mencari kesatria berhati suci semacam Arya Kamandanu atau Mahesa Jenar. Realitas lebih banyak menghadirkan pemimpin-pemimpin tua yang masih saja tergila-gila dengan kekuasaan meskipun sudah bau tanah. Tua-tua keladi, tambah tua tambah jadi.

Jika kurang dihargai, mereka mengeluh dan senewen. Kalau dipuji langsung lupa diri. Setelah turun takhta, mereka menderita penyakit post-power syndrome. Korbannya adalah angkatan muda yang jatah panggungnya direbut para lansia rakus.

Implikasi negatif lainnya, tatanan masyarakat menjadi konservatif, cenderung curiga terhadap kritik dan pembaharuan antisipatoris. Maka, meletuslah konflik laten antara kaum tua dengan kaum muda.

Dalam kebudayaan Minangkabau, konflik antargenerasi ini disimbolkan melalaui legenda Malin Kundang. Sementara itu, dalam kebudayaan Jambi, ia dinarasikan melalui "mitos" peperangan antara Bujang Jambi dan ayahnya, Tun Telanai.

 

*) Penulis adalah masyarakat biasa