Paradoksal Dualisme Agama

Dalam sejarah dunia, agama atau keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat transendental-spiritual selalu menjadi kebutuhan mayoritas umat manusia. Bahkan, di era pramodern saja, manusia telah berusaha mencari-cari Tuhan dan sesembahan untuk dipuja-puji.

Hal ini berarti bahwa agama atau keyakinan menjadi sebuah hal yang sangat urgen dalam perikehidupan umat manusia.

Agama yang dicari oleh manusia tersebut menjadi sebuah sandaran kehidupan untuk menggapai nilai-nilai kearifan. Di era dulu hingga kini, agama terkadang mampu mengalahkan kepentingan pribadi manusia yang bersifat duniawi untuk mencapai kearifan. Dengan demikian, agama dianggap sebagai pelipur lara manusia, sumber ketenteraman batin, dan lelaku spiritual yang bersifat transendental.

Akan tetapi, agama juga memiliki sisi lain. Agama memang menjadi sumber kasih sayang, namun agama juga bisa menjadi sumber bencana. Karena motivasi agama, manusia bisa saling mengasihi dan mencintai. Karena motivasi agama pula, manusia bisa saling menghancurkan dan membunuh. 

Dengan demikian, benar apa yang pernah disampaikan oleh Dr. Sindhunata (2013), bahwa berbicara tentang agama itu bagaikan berbicara tentang sebuah hal yang paradoksal. Paradoksal agama tersebut terjadi karena dualisme agama, yakni agama memiliki dua sisi yang kontras adanya. Di satu sisi agama adalah sumber kasih sayang sehingga umat manusia bisa saling mengasihi karena agama. Di sisi lain, agama justru menjadi sumber malapetaka dan bencara sehingga umat manusia bisa saling menghancurkan dan membunuh karenanya.

Dari dualisme yang mengandung realitas paradoks ini, bisa dipahami bahwa agama sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia. Pengaruhnya bahkan bisa mengubah sifat manusia menjadi sebaliknya, atau mampu mendoktrin manusia dengan berbagai ajaran, baik itu ajaran yang mulia ataupun yang menyesatkan.

Yang pasti, agama menjadi pengaruh bagi peradaban umat manusia dari zaman dahulu hingga sekarang dan tentunya juga di masa depan. Perlu ditegaskan pula bahwa agama memiliki seribu nyawa. Menurut Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, agama akan abadi, ia tidak akan mati sampai kapanpun karena manusia tetap membutuhkannya.

Meski demikian, realitas keabadian agama tersebut nyatanya kini menampakkan dualisme yang paradoks. Itu karena pengaruh politik dan sosial yang tentunya dibumbui dengan “nafsu keagamaan” yang sesat dan klaim kebenaran yang ditampakkan secara ekstrem dan radikal. Boleh jadi agama itu mengandung dua sisi yang kontras, namun kalau dualisme tersebut tidak seimbang, maka salah satu sisi agama akan mendominasi.

Jika yang mendominasi adalah sisi agama yang menjadi sumber kasih sayang, maka akan terciptalah perdamaian. Akan tetapi, jika sebaliknya, yakni yang mendominasi adalah sisi agama yang menjadi sumber bencana dan malapetaka, maka dunia ini akan diselimuti dengan permusuhan dan konflik abadi. Parahnya lagi, sisi agama yang kedua ini kini justru mulai mendominasi.

Tidak diragukan lagi, ideologi dan komitmen keagamaan menjadi faktor sentral dalam eskalasi kekerasan dan kejahatan di seluruh dunia yang bisa menjadikan umat manusia saling menghancurkan dan membunuh. Bukti itu kini ada dalam berita utama surat kabar: “Hindu dan Muslim di Ujung Peperangan di Kashmir”; “Kristen Serbia Diadili atas Pelaku Tindak Kekerasan terhadap Muslim Bosnia”; “Militan Muslim Dibunuh Pemukim Yahudi di Wilayah Pendudukan”; “Militan Muslim Menewaskan 20 Orang melalui Bom Bunuh Diri di Restoran Pizza Jerussalem”; dan masih banyak lagi (Charles Kimball, 2013).

Berbagai headline di beberapa surat kabar tersebut cukup memberikan bukti bahwa kini sisi agama yang menjadi sumber bencana justru mendominasi. Padahal pemberitaan pada surat kabar tersebut hanya sebagian kecil, sementara lainnya pun banyak yang tidak terekspos oleh media. Dengan demikian, terkadang dunia bersikap pesimis terhadap agama karena sisi yang buruk inilah yang mendominasi.

Realitas tersebut pada dasarnya diawali oleh berbagai penyelewengan. Penyelewengan suatu agama tersebut dimulai dari klaim kebenaran agama. Semakin hari, klaim kebenaran tersebut membutuhkan pembenaran tunggal yang tidak bisa diganggu gugat karena hal ini merupakan keyakinan atau keimanan yang pada gilirannya tidak dirasionalisasikan.

Menurut Charles Kimball, klaim-klaim itu mewarnai tradisi agama secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Dalam setiap agama, klaim kebenaran merupakan fondasi yang mendasari keseluruhan struktur agama. Namun demikian, ketika interpretasi tertentu atas klaim tersebut menjadi proposisi-proposisi yang menuntut pembenaran tunggal dan diperlakukan sebagai doktrin kaku, kecenderungan terhadap penyelewengan dalam agama ini muncul dengan mudah. Kecenderungan tersebut merupakan tanda-tanda awal kejahatan yang menyertainya.

Kini dunia pun bertanya, masihkah agama menjadi tumpuan harapan bagi peradaban manusia di dunia? Tentu saja pertanyaan tersebut merupakan pesimisme terhadap agama yang justru membawa bencana dan malapetaka. Akan tetapi, pada dasarnya itu hanyalah salah satu sisi agama saja. Masih ada harapan karena sisi agama yang lain bisa difungsikan dan dimaksimalkan. Untuk itulah kini harus memunculkan sumber-sumber daya manusia yang mampu berdialog terkait problem antarumat beragama untuk membangun jembatan perdamaian.