Cangkul Sang Sunan

Dialah Sunan Kalijaga. Namanya begitu dikenal di Nusantara. Bahkan namanya digunakan sebagai sebuah nama lembaga pendidikan tinggi di kota Yogyakarta. Sunan Kalijaga termasuk salah satu anggota dari Wali Sanga, sekelompok dai yang berperan besar terhadap berkembangpesatnya agama Islam di Nusantara ini. Sunan Kalijaga yang memiliki nama asli Raden Said masyhur sebagai seorang pendakwah yang mampu mendamaikan budaya lokal dengan ajaran-ajaran agama Islam.

 

Lagu Lir-ilir dan Gundul-gundul Pacul termasuk karya Sunan Kalijaga yang digunakan sebagai media untuk mensyiarkan agama Islam di Nusantara ini. Selain lagu yang begitu populer di kalangan masyarakat tersebut, Sunan Kalijaga juga berhasil memasukkan ajaran Islam ke dalam cerita pewayangan, sebuah pertunjukan yang begitu digemari masyarakat Nusantara waktu itu. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika cerita pewayangan yang didominasi oleh kisah Mahabharata dan Ramayana pun bergeser dan berbeda dengan cerita aslinya dari India. Jika boleh dibilang, cerita pewayangan hasil kreasi Sunan Kalijaga memang mempunyai pakem tersendiri dalam sisi religiusitas dan spiritualitas.

Salah satu prestasi terbesar Wali Sanga, termasuk Sunan Kalijaga, adalah mengislamkan masyarakat Nusantara tanpa adanya pertumpahan darah. Penyebaran agama Islam di Nusantara tercatat sejarah sebagai penyebaran Islam paling gemilang, penuh kedamaian, dan tanpa mengandalkan keris. Para Wali Sanga menyebarkan agama Islam dengan penuh cinta, bukan dengan kebencian. Sampai hari ini, Islam menduduki posisi teratas sebagai agama yang paling banyak dianut di bumi Nusantara ini. Kunci dari kegemilangan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah berkat kecerdasan para Wali Sanga yang menggunakan strategi kebudayaan untuk menarik masyarakat Nusantara agar masuk Islam. Tanpa mengesampingkan para wali yang lain, Sunan Kalijaga termasuk wali yang dikenal getol menggunakan kesenian dan kebudayaan untuk menyebarkan Islam di bumi Nusantara ini.

Nusantara merupakan sebuah wilayah yang dikenal memiliki tanah subur. Saking suburnya, ada adagium yang berbunyi apa pun yang ditanam di tanah pertiwi ini, pasti akan tumbuh lestari. Wajar saja bahwa masyarakat Nusantara kala itu kebanyakan berprofesi sebagai petani. Potret seperti itu direkam dengan baik oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Sebagai seorang pendakwah yang cerdas dan kreatif, Sunan Kalijaga pun mendakwahkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara itu disesuaikan dengan kondisi mereka sebagai petani. Maka kemudian, Sang Sunan memaknasi sebuah alat pertanian dengan falsafah yang memuat nilai-nilai ajaran Islam.

Bagi orang yang tidak tahu, cangkul hanyalah sebuah alat pertanian semata. Padahal sebenarnya cangkul merupakan hasil kreasi Sunan Kalijaga yang sarat makna. Hal tersebut terungkap ketika Sunan Kalijaga memberikan wejangan kepada sahabatnya, Ki Ageng Sela yang berprofesi sebagai petani, mengenai cangkul. Cangkul, sebagaimana umumnya, terdiri atas tiga bagian. Pertama, plat besi yang dinamakan pacul atau cangkul. Kedua, bawak yang melingkar. Bagian kedua inilah yang menjadi media perekat antara bagian satu dan tiga. Ketiga, doran, yakni pegangan dari cangkul, biasanya terbuat dari kayu. Ketiga bagian cangkul itulah yang memiliki makna luar biasa.

Pacul memiliki kepanjangan ngipatake barang kang muncul lan mendugul (membuang sesuatu yang tidak rata). Sesuatu yang tidak rata dalam hal ini adalah sifat-sifat buruk yang menimbulkan dosa. Oleh karenanya, manusia harus berusaha untuk selalu berbuat baik dalam kehidupannya, yakni dengan mengenyahkan sifat-sifat buruk yang ada pada dirinya.

Sementara itu, bawak memiliki arti obahing awak (bergeraknya badan). Bagian kedua dari cangkul ini memiliki makna bahwa manusia harus terus bergerak untuk mendapatkan kesehatan badan. Bergerak di sini juga bisa diartikan sebagai bekerja. Artinya, manusia harus bekerja dengan gigih untuk mencukupi kebutuhan duniawinya. Tubuhnya harus bergerak mencari penghidupan, jangan malah diam saja. Inilah ajaran agama Islam yang mengajarkan agar manusia itu giat bekerja, bukan menjadi pemalas.

Bagian terakhir, yakni doran berarti donga marang Pangeran (berdoa kepada Tuhan). Bagian ketiga ini memiliki falsafah bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Oleh karenanya, manusia harus selalu berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Doa adalah media yang ampuh untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Jika makna ketiga bagian tersebut digabungkan, maka berarti bahwa manusia harus selalu berusaha menyingkirkan sifat-sifat buruknya, lalu giat dalam bekerja mencari penghidupan, dan setelah bekerja manusia harus  selalu berdoa kepada Tuhan. Bisa juga diartikan tawakal. Sungguh sebuah intisari ajaran Islam yang luar biasa yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga lewat alat pertanian yang bernama cangkul.

Dengan demikian, alat pertanian cangkul merupakan wujud komitmen Sunan Kalijaga menebarkan kedamaian tatkala menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga memanfaatkan kebudayaan masyarakat Nusantara, yakni bertani sebagai pintu masuk untuk mendakwahkan Islam kepada mereka. Sang Sunan tidak menggunakan keris, kekerasan, atau memaksakan kehendak ketika mensyiarkan Islam. Oleh karena itu, masyarakat Nusantara pun berbondong-bondong memeluk Islam karena Islam yang didakwahkan oleh Sunan Kalijaga berwujud Islam yang damai, ramah, toleran, dan anti kebrutalan.