Dari dan Ke

Sering kali kematian menjadi hal yang sangat ditakuti oleh manusia. Padahal sesungguhnya, kematian adalah garis takdir yang harus dijalani, tetapi tetap saja kematian menjadi hal yang sangat mengerikan. Terlebih lagi jika kematian itu sendiri melalui cara atau jalan yang tidak menyenangkan karena berbagai hal, atau justru kematian itu melalui cara yang sangat mengerikan, tentunya hal itu sangat menakutkan.

 

Namun demikian, masyarakat Jawa (baca: falsafah Jawa) memandang kamatian secara lebih arif dan santun. Kematian dianggap cenderung lebih religius atau mengarah pada ranah transendentalisme. Demikian adanya, kematian adalah sebuah kewajaran dari sifat manusia yang fana, tidak abadi, dan pasti binasa. Dengan begitu, manusia pasti menjalani ritus kematian.

Sementara itu, tradisi kematian tersebut disikapi dengan berbagai cara yang berbeda-beda oleh umat manusia di berbagai belahan dunia. Tidak hanya itu, ritual yang diselenggarakan untuk “merayakan” kematian pun beragam, yang hal itu sesuai dengan tradisi dan budaya masing-masing tempat. Begitu pula dengan masyarakat Jawa, mereka merayakan kematian dengan berbagai ritual, sebagaimana ritual masyarakat Nahdliyin yang mengadakan tahlilan dan tradisi layat (takziah) yang dilakukan secara umum umat manusia, serta berbagai tradisi pemakaman jenazah yang dibakar dan dikubur.

Falsafah Jawa, sebagaimana pernah disinggung oleh Rangkai Wisnumurti, mengajarkan berbagai konsep kearifan sebagai bentuk tatanan yang mengikat secara lunak (bukan keras/padat) kepada umat manusia. Masyarakat Jawa telah mendudukkan konsepsi harmoni atau keselarasan sebagai faktor signifikan dalam sistem nilai-nilai filosofi pandangan dunianya. Konsepsi keselarasan ini tidak semata-mata dimaknai secara kosmologis, tetapi juga antropologis, yakni keselarasan hubungan antara manusia dengan alam dan masyarakat sehingga kesanggupan untuk menjaga atau menciptakan keselarasan menjadi hal yang sangat penting bagi orang Jawa.

Hal itu sangat terlihat jelas dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa yang arif, yang belum tersentuh dengan derasnya globalisasi, modernisasi, dan terlebih kapitalisasi. Masyarakat Jawa yang masih berpemikiran tradisional tidak mau membuat ketidakseimbangan antara berbagai relasi kemanusiaan yang hal itu pada akhirnya menimbulkan malapetaka dan kerusakan. Jika malapetaka dan kerusakan datang, maka kematian sebagian orang pun tidak terelakkan.

Demikian juga dalam menyikapi kematian, orang Jawa tidak serta-merta menuduh kematian sebagai momok serius meskipun terkadang menyakitkan. Kematian adalah jalan takdir yang memutus rantai kehidupan manusia dan makhluk bernyawa lainnya. Namun demikian, dalam dunia batin masyarakat Jawa, tampak jelas bahwa alam lahir dan batin atau alam wadak dan gaib bukanlah sesuatu yang serta merta terpisah secara tajam, melainkan suatu kesatuan yang padu dan masih memiliki suatu relasi serta interaksi secara timbal-balik. Keduanya saling memengaruhi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kematian bukanlah suatu keterputusan (diskontinuitas) yang mutlak, melainkan masih ada kontinuitas tertentu. Hal itu dikarenakan kesinambungan antara alam di sini (wadak) dan di sana (gaib) akan selalu ada. Kematian seolah tidak membawa suatu perubahan secara mendasar, baik dalam konteks ruang dan waktu. Setidaknya demikianlah pandangan common sense masyarakat Jawa tentang kematian yang akar pemahamannya dapat dilacak melalui konsep kematian yang dirumuskan dalam pandangan tarekat-tarekat masyarakat Jawa.

Ketersambungan atau kesinambungan antara alam wadak dan gaib inilah yang kemudian menjadi esensi falsafah kematian menurut masyarakat Jawa yang arif. Dengan demikian, relasi keduanya yang merupakan garis atau jalan kontinuitas tersebut merupakan marka kehidupan manusia, baik kehidupan di alam wadak maupun kehidupan pascakematian menuju alam gaib.

Karena ketersambungan alam wadak dan gaib yang dijembatani oleh proses kematian inilah kematian selalu dirayakan oleh masyarakat Jawa. Kearifan tersebut diselenggarakan untuk keselamatan manusia yang telah hidup pascakematian. Ritual untuk merayakan kematian tersebut dalam masyarakat Jawa tradisional disebut slametan (selamatan).

Tradisi slametan tersebut dalam masyarakat Jawa telah berubah dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh keyakinan-keyakinan yang berbeda. Sebelum datang agama Islam, masyarakat Jawa tradisional yang ketika itu masih menganut agama kapitayan, melakukan slametan sebagai perilaku penyembahan kepada roh halus. Sementara itu, ketika Islam telah berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya lokal, nilai-nilai Islam pun turut terinternalisasi dalam slametan dan perayaan-perayaan lainnya sehingga kepercayaan Islam memberikan kearifan tersendiri dalam merayakan kematian.

Kematian tidak serta-merta menjadi hal yang mengerikan dan profan, namun jika dimaknai secara sakral dan keyakinan akan kekuasaan Sang Pencipta kehidupan dan Yang Mematikan, manusia akan menyadari bahwa dirinya itu hanyalah makhluk bernyawa yang kecil yang tidak bisa lepas dari takdir kehidupan (lahir-hidup-mati-bangkit). Banyak hal yang bisa dipelajari dan diresapi secara maknawi dari proses kematian dan konsepsi masyarakat Jawa tentang kematian itu sendiri. Refleksi spiritual dalam hal ini pun telah dipaparkan oleh masyarakat Jawa dalam berbagai perilakunya yang menuju keselarasan. Hal itu demi terciptanya harmonisme dalam kehidupan umat manusia.

Prosesi itulah yang disebut sebagai sangkan-paraning dumadi yang dalam keberagamaan Islam terangkai dalam lafal tarji’, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Demikian itulah makna ketauhidan dalam perjalanan manusia dari yang sebelumnya tidak ada hingga kembali ke tidak ada lagi. Secara lebih sederhana, manusia itu berjalan dari dan ke Tuhan.