Dari Arab, Kita Mengabil Karekter Bukan Ajaran

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mencela bangsa Arab, bukan pula untuk memujinya. Oleh karenanya, jika Anda termasuk bangsa Arab atau sekadar fanatik terhadap Arab, mohon jangan tersinggung jika merasa dicela dan jangan berbangga jika merasa dipuji setelah membaca tulisan ini.

 

Oke, saya lanjutkan.

Akhir-akhir ini, atau mungkin sudah dari dulu, kita (umat Islam) senantiasa diributkan oleh aneka perbedaan cara beragama kita. Saling klaim kebenaran, saling menuduh salah, dan bahkan saling mengafirkan menjadi hal yang sudah biasa bagi kita. Oleh karenanya, kita “pasti benar” menurut kita sendiri dan kita “pasti salah” menurut orang lain.

Jika demikian halnya, sebaiknya kita introspeksi. Jika kita mengedepankan etika, mari kita menarik diri dari sifat sombong yang mendorong kita untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Jika kita mengedepankan intelektualitas kita yang entah kita ini intelek atau tidak, mari kita telusuri “kebenaran kita” dan “kesalahan orang lain” dari sisi ilmiah. Jika kita gemar membaca sejarah, mari kita berdiskusi tentang kesejarahan yang tentunya terkait dengan sejarah Islam.

Kita sebagai umat Islam (tentu saja tulisan ini teruntukkan bagi umat Islam meskipun umat yang lain boleh membacanya), kita pun tahu bahwa agama rahmat ini lahir di tanah Arab. Yang saya maksud “Islam” di sini adalah ajaran atau agama secara formal-hitoris yang identitasnya ada karena dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, bukan ajaran Tuhan secara esensial karena kelahirannya memang semenjak Nabi Adam As.

Mari kita lanjutkan!

Di Arab, lahirlah agama Islam sebagai sebuah ajaran damai dan adil bagi seluruh umat manusia. Itulah ajaran yang seharusnya kita ambil, Islam. Pokok-pokok ajaran Islam secara teologi adalah penyembahan terhadap satu Tuhan dan pengamalan nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran yang telah Tuhan wahyukan. Ajaran tersebut melingkupi dua dimensi, syariat dan hakikat. Ajaran tersebut merupakan kelembutan tetapi juga ketegasan sehingga layak untuk dijadikan sebagai “metode” atau “cara” bagi umat manusia guna menciptakan kehidupan yang berkualitas di dunia dan akhirat.

Kehidupan yang berkualitas di sini saya maksudkan adalah kehidupan yang baik dan menebar kebaikan. Jika kita arahkan hal itu pada kehidupan di dunia, dan jika kita telah memeluk agama Islam, maka sudah selayaknya kita harus menjadi orang yang baik dan menebar kebaikan. Ya, itulah Islam.

Oke, mari kita tinggalkan dahulu bahasan tentang Islam dan kita mulai membahas tempat kelahiran Islam; Arab. Kehidupan di tanah gersang dan kerontang tersebut tidak menjadi perhatian bagi dua imperium besar, yakni Byzantium dan Persia, ketika keduanya saling bersaing dalam keunggulan. Di masa sebelum Islam, Jazirah Arab tidak pernah benar-benar ditaklukkan oleh kedua imperium tersebut. Jika kita menyebutnya, era ketika itu disebut sebagai jahiliah.

Bangsa yang terdiri atas berbagai suku tersebut saling berperang dan saling bersaing. Dengan demikian, tidak ada kebanggaan bagi dua imperium besar tersebut menaklukkan daerah gersang dengan penduduknya yang saling bermusuhan dan sulit disatukan. Hal yang paling menarik dari Arab adalah Ka’bah yang menjadi pusat ziarah bangsa Arab. Tentu saja hal itu bisa dimanfaatkan sebagai potensi ekonomi dan finansial yang menggiurkan bagi mereka yang mengelola. Oleh karenanya, berbagai suku tidak jarang saling berperang guna memperebutkan pengelolaan Ka’bah meskipun pada akhirnya pengelolaan tersebut jatuh pada klan Quraisy.

Singkat kata, sebelum kelahiran Islam, masyarakat Arab adalah masyarakat jahiliah. Mereka saling berperang. Mereka saling membenci. Mereka sangat mempertentangkan suku. Lihat saja bagaimana suku Aus dan Khazraj bertikai selama puluhan tahun. Mereka baru bisa berdamai ketika Nabi Muhammad SAW menyatukan mereka dalam Islam.

Sebelum itu, bahkan penduduk Arab di bagian utara dan selatan pun saling berperang. Mereka juga saling merampas jika ada kabilah dagang yang bukan dari kelompok mereka dan yang tidak mendapatkan jaminan keamanan dari anggota kelompok mereka. Karakter seperti itu telah ada di dalam Arab semenjak dahulu.

Lebih jauh lagi, selepas masa Nabi Ismail As, masyarakat Arab pun saling berperang karena perebutan pengelolaan sumber mata air zamzam. Mereka saling membunuh dan membenci sehingga salah satu kelompok dari mereka menimbun sumur zamzam. Mata air itu pun hilang selama ratusan tahun hingga ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, karakter masyarakat Arab adalah saling membenci dan merasa diri paling berhak atas sesuatu.

Ah… tetapi bukankah hal itu terjadi juga di setiap tempat di zaman dahulu? Ya, memang benar. Selain masyarakat Arab, umat manusia pada zaman dahulu memang saling berperang. Lihat saja bagaimana kerajaan Bani Israil yang terpecah menjadi dua yang saling memusuhi; Yehuda dan Israel. Lihat juga bagaimana Raja Nebukadnezar membuang mereka ke Babel. Oh… mungkin kita juga ingat bagaimana bangsa Mesir menaklukkan berbagai wilayah untuk kepentingan ekspansi Mesir dan pemuasan para firaun. Hmm… yang lain juga seperti itu; saling berperang. Kurang puas? Silakan membaca sejarah dunia!

Lantas, mengapa Arab yang menjadi sorotan?

Islam tidak bisa dipisahkan dengan Arab dalam historiografinya. Islam turun di Arab dan mulai tersebar dari Arab. Nabi Muhammad Saw adalah orang Arab dan beliau lahir serta wafat di Arab. Penyebar Islam juga orang-orang Arab pada awalnya.

Karena Islam dan Arab itu tidak dipisahkan dalam historiografinya, maka jika kita berislam perlu memisahkan mana yang Islam dan mana pula yang Arab. Islam itu berbeda dengan Arab meskipun Islam dan Arab tidak terpisahkan. Gampangnya begini, jika kita telah bersyahadat, maka kita perlu membedakan mana karakter Arab dan mana ajaran (dari) Arab; Islam. Mengapa?

Islam itu agama universal, tidak hanya untuk orang Arab. Oleh karenanya, Islam tidak boleh diklaim hanya milik orang Arab. Hanya saja, kita malah sering terjebak pada warna abu-abu. Maksudnya, kita menganggap bahwa semua yang berasal dari Arab itu adalah Islam. Sungguh, itu adalah kekonyolan.

Telah disebutkan di atas bahwa Arab memasuki fase jahiliah sebelum Islam datang. Karakter jahiliah itu pun berusaha dihapuskan dengan Islam. Dengan demikian, Islam menghapuskan jejak karakter kejahiliahan; karakter yang gemar berperang, suka membenci, dan membela golongan sendiri meskipun salah.

Nah, bagaimana dengan kita, umat Islam Indonesia? Kita mengaku sebagai umat Islam, tetapi kita tetap mengambil karakter kejahiliahan. Apa ciri-ciri karakter kejahiliahan? Telah saya tuliskan di atas bahwa masyarakat jahiliah itu gemar berperang, suka membenci, dan membela golongan sendiri meskipun salah.

Ciri tersebut bersesuaian dengan perikehidupan kita akhir-akhir ini. Setiap hari, kita disuguhi berita hoax agar kita membenci kelompok lain secara membabi-buta. Anehnya, kita pun terpancing oleh berita-berita fitnah tersebut. Dengan demikian, kita “dipaksa” untuk berperang. Ya, kita saling berperang, meskipun bukan perang secara fisik.

Lantas, jika kita mengaku sebagai umat Islam—dan Islam itu menghapuskan karakter jahiliah—namun mengapa kita masih berpikiran ala jahiliah? Ah… saya takut mengatakan bahwa ini adalah jahiliah modern (atau post-modern?).

Hmm… sepertinya benar. Dari Arab, kita mengambil karakter jahiliah yang berusaha dihapuskan Islam, bukan mengambil ajaran yang lahir untuk menghapuskan kejahiliahan tersebut. Jika demikian, mengapa kita berusaha membangun kejahiliahan dengan Islam? Hei… Islam itu bukan kejahiliahan, melainkan “alat” untuk menghapuskannya! Rupanya, kita telah bersikap zalim kepada Islam karena kita sering mengatasnamakannya untuk melakukan kejahiliahan.

Wallahu a’lam