Hakikat Kebenaran

Semakin banyak saja orang menjadi hakim. Bukan hakim sungguhan yang memutus perkara di pengadilan, melainkan orang dengan gaya hakim, yang selalu membuat judgment: ini salah itu benar, ini lurus itu sesat. Di masyarakat, orang semakin mudah saling menuding. Masing-masing merasa diri paling benar. Dalam urusan agama, bahkan sesama mereka dalam satu agama, fenomena ini kian terasa, misalnya dengan munculnya gerakan tabdi’ (saling membidahkan) atau takfir (saling mengafirkan).

 

Kadang, hajatan politik menjadi pemantik. Seperti belakangan ini, ketika orang dengan mudah menuduh orang lain sebagai munafik hanya karena perbedaan selera atau pilihan politik. Hal itu merupakan tuduhan yang berat dan berani, karena bahkan generasi pertama, para sahabat, pun tak tahu siapa di antara mereka yang munafik kecuali yang dikabarkan oleh “langit”.

Akar dari masalah ini sebenarnya soal cara pandang tentang hakikat kebenaran. Apakah kebenaran itu selalu tunggal? Mungkinkah dua pendapat sama-sama benar?

Teori kebenaran yang paling klasik tentu saja corespondence theory of truth (teori korespondensi kebenaran). Teori ini paling mudah dipahami dan karenanya paling diterima secara luas, bahkan telah menjadi common sense. Sesuatu dikatakan benar, menurut teori ini, jika memiliki kaitan dengan fakta. Misalnya, kita menyebut ‘sedang turun hujan’ ketika secara faktual memang ada air yang berjatuhan dari langit. Di sini, kebenaran atas sesuatu bisa diobjektifikasi: benar adalah benar dan salah adalah salah, menurut siapapun. Kebenaran bersifat tunggal, sehingga tidak ada dua pernyataan berbeda yang bernilai benar dan salah sekaligus.

Teori korespondensi kebenaran memiliki kelemahan ketika berhadapan dengan fakta yang kompleks, yang sulit diobjektifikasi. Pemaknaan teks atau ujaran misalnya, bagaimana bisa diobjektifikasi? Dalam satu kisah populer, pada waktu Perang Ahzab selesai, Nabi Muhammad Saw. berpesan kepada para sahabat untuk tidak Salat Asar kecuali di Bani Quraizhah. Ternyata, mereka masih dalam perjalan ketika masuk waktu Asar. Sebagian sahabat berpendapat bahwa mereka tidak akan Salat Asar kecuali setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah sesuai perintah Nabi Muhammad Saw. tersebut. Sementara itu, sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka harus menunaikan Salat Asar karena menurut pemahaman mereka, perintah Nabi Muhammad Saw. itu bertujuan agar mereka mempercepat perjalanan sehingga dapat melakukan Salat Asar di perkampungan Bani Quraizhah, bukan harus salat di tempat itu. Bagaimana sikap Nabi Muhammad Saw. atas dua penafsiran itu? Ternyata, beliau tidak menyalahkan salah satunya.

Dalam proses mencari tahu hakikat kebenaran, manusia memiliki dua modal, yakni indra dan rasio. Dengan indra, manusia bisa menangkap fakta empiris berupa rupa, suara, rasa, atau aroma. Dengan rasio atau bisa juga disebut intelektualitas, manusia memiliki logika untuk membuat kesimpulan-kesimpulan atas fakta tersebut. Kita semua sadar, baik indra ataupun rasio manusia memiliki keterbatasan. Sementara itu, fakta yang hendak diketahui manusia juga sering kali kompleks, lebih dari realitas fisik yang objektif.

Betapa banyak kemampuan indra menjadi tumpul untuk menangkap kebenaran. Hal itu sebagaimana kisah Nabi Musa As. yang gagal paham dengan apa yang dilakukan Nabi Khidlir As.; kapal dilubangi, anak kecil dibunuh, dan rumah reyot justru diperbaiki. Dengan indranya, Nabi Musa As. tidak memahami hikmah di balik tindakan Nabi Khidlir As. tersebut. Ada kebenaran tersembunyi yang belum bisa diketahui oleh Nabi Musa As. Maka, sepintar-pintar ahli ilmu, masih kalah dengan ahli hikmah.

Jauh setelah itu, bahkan ketika Nabi Muhammad Saw. masih hidup di tengah-tengah para sahabat, perbedaan pemaknaan teks itu terjadi. Sulit membayangkan orang akan memiliki tafsir tunggal pada teks yang sudah diwariskan dari ribuan tahun silam. Apa yang terjadi sekarang, ada sekelompok orang yang merasa pembacaannya atas teks yang paling benar dan paripurna. Kelompok lain dianggap salah atau bahkan sesat. Pemahaman mutlak semacam ini yang sulit melahirkan sikap toleran (tasamuh), karena bagi mereka yang merasa paling benar ini kelompak lain dianggap sebagai ‘laitsa minna’ (bukan bagian dari kelompok kami).

Mereka yang arif selalu sadar akan keterbatasan indra dan rasio atau intelektualitasnya sehingga menghindari pemahaman mutlak dan final. Mereka boleh merasa tahu, namun tak sungguh-sungguh tahu. Mereka merasa sebagai pencari kebenaran yang diandaikan sebagai sebuah mozaik. Ketika ‘Kebenaran’ (dengan K besar) adalah kebenaran Tuhan, mereka terus berikhtiar merangkai ‘kebenaran-kebenaran’ (dengan k kecil) versi manusia. Dengan begitu, bermodalkan pikiran terbuka, akal yang cerdas, dan hati yang lurus, mereka akan berdialektika untuk mencari kebenaran dengan bermartabat.

Wallahu a’lam.