Menyemai Keimanan, Merengkuh Persaudaraan

Perbincangan tentang identitas agama dan dasar teologinya senantiasa menarik dan tiada habisnya. Lebih dari itu, agama bukan sekadar keyakinan yang dipeluk oleh manusia, melainkan juga diferensiasi sosial yang terkadang menjadi sekat-sekat tebal untuk melebur dalam persaudaraan. Padahal, agama itu sendiri merupakan keimanan dan mengajarkan persaudaraan di antara umat manusia.

 

Keimanan—dalam teologi—adalah harga mati. Ia tidak bisa ditawar karena “menawarnya” sama saja dengan mengingkarinya. Mengingkarinya—dalam terminologi agama—merupakan kekafiran. Hanya saja, keimanan itu bukan sekadar kepercayaan. Ia harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan hanya sebatas teori kosong jika praktiknya tidak dilakukan.

Dalam sejarah, ada beberapa agama yang mempunyai akar genetika sama. Itulah agama-agama terbesar yang kini dianut oleh umat manusia di dunia; Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama besar tersebut mempunyai pemeluk yang sangat banyak dan nama ketiga agama tersebut bisa dikatakan paling populer di dunia. Ketiga agama tersebut mempunyai akar genetika yang sama, yakni millah Ibrahim atau bisa diistilahkan dengan agama-agama Abrahamik.

Yang tampak di permukaan adalah bahwa interaksi para pemeluk ketiga agama tersebut sering sekali terlibat perseteruan meski juga tidak jarang memadu toleransi. Oleh karenanya, mengurai interaksi sejarah dan keterkaitan teologi ketiga agama tersebut penting untuk dijadikan batu loncatan guna saling memahami antarumat beragama dengan prospek kerukunan.

Interaksi pemeluk ketiga agama tersebut sangat intens hingga kini, baik interaksi yang berupa konflik maupun kerukunan. Namun demikian, yang menarik dari interaksi tersebut adalah tampilnya media yang sering memberitakan fenomena konflik antarumat beragama. Tentu saja konflik tersebut berhulu pada klaim kebenaran yang kemudian menjalar ke berbagai sendi kehidupan sosial.

Klaim kebenaran menjadi hal yang wajar karena masing-masing mempunyai landasan keimanan. Hanya saja, lebih dari itu yang terpenting adalah keharmonisan yang berusaha dibangun oleh sebagian pemeluk ketiga agama tersebut.

Agama, menurut Thabathaba’i, adalah sistem yang paling baik untuk mengorganisasi masyarakat manusia. Keismpulan ini didapat setelah pengamatan yang menyimpulkan bahwa hukum non-agama hanya mengatur aspek lahiriah, tidak menanamkan kesadaran mendalam pada pelakunya dan lain-lain sehingga pelaku dalam melaksanakan aturan lebih karena takut kepada orang lain daripada karena kesadaran pentingnya melaksanakan aturan tersebut untuk dirinya. (Waryono Abdul Ghafur, Mizan—2016)

Dengan begitu, Thabathaba’i menilai bahwa agama adalah hal yang sangat urgen dalam kehidupan umat manusia. Hanya saja, kebenaran agama itu tergantung sudut pandang manusia yang “menginginkannya”. Dalam millah Ibrahim saja ada tiga agama besar; Yahudi, Kristen, dan Islam. Tentunya, ketiga agama tersebut mempunyai dasar teologi sendiri-sendiri meskipun bermuara pada millah yang sama.

Karena agama dianggap sebagai sesuatu yang urgen, maka dari itu agama sering sekali menjadi hal yang diperdebatkan dan diperselisihkan sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Agama-agama tidak lepas dari konflik yang bahkan mampu memicu peperangan antarumat beragama karena klaim kebenaran dan sensitivitas sosial.

Seorang sufi ternama, Jalaluddin Rumi, bahkan pernah berkomentar tentang agama. Ia mengatakan bahwa agama tidak akan pernah menjadi satu. Selalu saja ada dua atau tiga agama, dan selalu ada perang serta saling bunuh di antara mereka. Bagaimana bisa menginginkan hanya ada satu agama, ia tidak akan pernah menjadi satu kecuali di akhirat kelak, pada hari kiamat. Di dunia ini, ketunggalan agama adalah hal yang mustahil.

Berangkat dari komentar Rumi tersebut, tentu saja menjadi kewajaran jika antarumat beragama itu sering terjadi konflik. Itulah perbedaan yang memang sulit untuk menyikapinya dengan kepala dingin. Terutama perihal agama, tentu saja sensitivitasnya sangat tinggi sehingga umat sangat rentan atau rawan konflik.

Jika ajaran masing-masing agama dicermati, terutama tiga agama besar yang bermuara pada ajawan yang diwariskan oleh Ibrahim, masing-masing agama tentu mengajarkan perdamaian dan toleransi. Hal itu dikarenakan bahwa millah Ibrahim adalah ajaran yang menafikan kebrutalan dan menebarkan welas asih. Millah Ibrahim adalah ajaran yang hanif. Oleh karena itu, sejatinya agama adalah ajaran untuk persaudaraan.

Terlepas dari keimanan yang tidak bisa ditawar, kehidupan sosial mau tidak mau membingkai aneka keragaman iman. Dengan demikian, pembenturan antara umat agama yang satu dengan yang lain hanya akan memecah konflik. Terlebih lagi, ada penafsiran dari ajaran agama tentang “perang suci” yang ditebarkan sebagai aksi membela agama. Jika hal itu menjadi kenyataan, maka makna agama sebagai ajaran perdamaian menjadi sia-sia lantaran adanya sikap pengabaian terhadapnya.

Akan tetapi, sebagaimana yang komentar Jalaluddin Rumi di atas, selalu akan ada perang di antarumat beragama. Meski demikian, perang antarumat beragama tersebut hendaknya diminimalisasi seminimal mungkin karena agama di dunia ini tidak akan pernah menjadi satu.

Penelurusan genetika agama yang kemudian berhulu pada millah Ibrahim tidak seharusnya sekadar teori yang menjadi diskusi hangat dan panas di meja-meja akademik. Lebih dari itu, penelusuran tersebut menuntut untuk diimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan umat manusia beragama sebagai penyadaran akan adanya pluralitas keberagamaan.

Lebih jauh dari itu, yang terpenting adalah adanya penyemaian keimanan masing-masing untuk tumbuh lebih subur tetapi tetap menekankan harmoni sosial karena keimanan-keimanan tersebut terikat dalam persaudaraan millah Ibrahim. Keimanan memang tidak mungkin ditawar, namun kehidupan tidak terlepas dari perbedaan. Sebagai umat beragama, kita tinggal memilih; perang atau damai. Perang menawarkan “kenaifan”, damai menawarkan “kemuliaan”.