Berangkat dari Kegalauan

Bayangkan situasi seperti berikut; Anda diwawancarai seorang wartawan dari sebuah media internasional. Wartawan itu mengajukan pertanyaan sederhana, yang seharusnya mudah Anda jawab, sebab pertanyaan tersebut berkaitan dengan bidang yang Anda geluti.

Namun demikian, entah kenapa Anda gagap menjawabnya. Jawaban yang meluncur dari mulut Anda sama sekali tidak memuaskan bagi diri Anda sendiri dan kemungkinan besar juga bagi wartawan tersebut. Dapatkah Anda bayangkan, perasaan seperti apa yang tinggal di hati Anda setelah wawancara itu berakhir? Malu, tidak nyaman, kecewa pada diri sendiri….

Apa yang sewajarnya kita lakukan dalam situasi semacam itu? Ya, secepatnya berusaha melupakan pengalaman tidak mengenakkan tersebut, lalu melanjutkan hidup dengan kegiatan yang lebih menyenangkan. Paling tidak, itulah yang pada mulanya saya lakukan, ketika situasi yang saya deskripsikan di atas terjadi pada diri saya. Namun, seperti yang tidak jarang saya alami, sekian waktu kemudian tiba-tiba saya menyadari betapa momen tidak menyenangkan tersebut menyimpan kerumitan tertentu, yang justru membuatnya menarik untuk diangkat dan direnungkan kembali. Mengapa saya gagap dan tidak bisa menjawab saat ditanyai oleh wartawan itu? Dan apa yang seharusnya saya jawab pada momen itu? Mengapa sampai saat ini pun saya tetap tidak tahu?

Adegan tersebut kemudian saya jadikan pembuka untuk mengawali esai pertama dalam salah satu buku saya, “Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial”.

“Makin banyak perempuan Indonesia yang memakai jilbab sekarang, ya?” ungkap wartawan itu, kemudian dia melanjutkan dengan mengutarakan keprihatinan akan hal tersebut. Terungkap dengan jelas betapa baginya, ada pertentangan antara jilbab, sebagai tanda semakin kuatnya nilai Islam dalam masyarakat, dengan emansipasi dan kemajuan perempuan.

Saya agak kewalahan menghadapi situasi itu. Pada saat itu, saya sendiri belum berjilbab, dan tampaknya wartawan Jerman itu mempersepsi saya sebagai “sesamanya”, yaitu sebagai non-Muslim, atau lebih spesifik, sebagai sesama perempuan Eropa berpendidikan tinggi dan berpandangan sekuler. Komentarnya tentang jilbab mengasumsikan sebuah pengetahuan bersama yang seakan-akan sama sekali tidak perlu dipertanyakan lagi: Tentu saja menguatnya nilai Islam adalah hal yang buruk untuk perempuan, sedangkan melemahnya nilai Islam akan lebih baik untuk perempuan.

“Apa hubungan antara jumlah perempuan berjilbab dengan emansipasi?” tanya saya. “Setahu saya, itu tidak berhubungan secara langsung.” Saya kemudian mencoba untuk sedikit mempertanyakan mindset wartawan itu. Namun demikian, dalam obrolan singkat dan tanpa persiapan khusus itu, saya berkesulitan menemukan titik berangkat yang tepat. Betapa kuatnya “pengetahuan bersama” yang diasumsikan wartawan itu. Bagaimana saya mesti menggoyahkannya?

Mindset yang sulit digoyahkan itu kemudian membuat saya semakin kewalahan dalam lanjutan obrolan dengan wartawan itu. “Saat sang wartawan menanyakan kondisi hak-hak perempuan secara umum di Indonesia, spontan saya terdorong untuk menjawab bahwa keadaan perempuan pada umumnya sangat baik di Indonesia. Apakah itu benar? Belum tentu! Tapi itulah dilema yang secara intuitif saya rasakan pada saat itu; Kalau saya menjawab bahwa masih ada sekian masalah ketidakadilan dan kekerasan gender dalam masyarakat Indonesia, jangan-jangan jawaban saya diterima sebagai pembenaran terhadap anggapan-anggapan tertentu seputar kejam, seksis, dan kolotnya masyarakat (bermayoritas) Muslim.” Demikian yang saya tulis di esai tersebut.

Sebuah pengalaman tidak menyenangkan yang pada mulanya ingin didesak sejauh-jauhnya ke sudut memori yang tak ingin dikunjungi kembali itu akhirnya menjelma menjadi pembuka esai, dan dengan demikian bukan hanya diangkat kembali, melainkan (bahkan) dibagi dengan publik yang luas. Saat menulis esai tersebut, saya tidak terlalu memikirkan keunikan strategi penulisan itu. Saya sekadar lega bahwa kejadian dengan wartawan tersebut akhirnya bisa lebih saya pahami sehingga perasaan tidak nyaman yang pada mulanya menyertainya pun makin teratasi. Namun demikian, lewat tanggapan sejumlah pembaca, saya kemudian tergelitik untuk sedikit merefleksikan proses kreatif saya.

Rupanya, strategi saya tersebut—yaitu kecenderungan saya untuk mengangkat pengalaman pribadi yang sebagian besar bersifat meresahkan, tidak mengenakkan, atau membingungkan—menyulut perhatian pembaca. Kedua pembicara pada peluncuran buku saya tersebut 28 Februari 2017 di Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Tia Pamungkas dan Wahmuji, pun sama-sama mengomentari gaya penulisan saya tersebut. Tia menggunakan kata “galau”, sedangkan Wahmuji berbicara tentang keberanian saya untuk menghadapi dan mempersoalkan realitas kehidupan yang kerap kali tidak koheren.

Dalam hal penilaian, mereka tidak sepenuhnya sepakat satu sama lain. Wahmuji sangat apresiatif terhadap keunikan strategi penulisan saya, sedangkan Tia tampak agak ragu. Positif atau negatifkah “kegalauan” yang, menurut persepsinya, membuat arah tulisan saya cenderung kurang tegas? “Kalau membaca buku Katrin yang sebelumnya, di situ posisi Katrin jelas, yaitu Katrin adalah feminis pascakolonial. Tapi di buku ini, apakah Katrin masih feminis?” tanyanya.

Saya suka kata “galau” itu. Ya, saya memang kerap kali berangkat dari kegalauan dalam aktivitas penulisan saya. Dalam proses-proses membaca yang terjadi dalam keseharian, baik membaca tulisan maupun membaca pengalaman, saya cenderung selalu tertarik terhadap momen-momen yang membawa ketegangan. Perasaan tidak nyaman, ambivalensi, hal-hal yang bertentangan dalam diri saya tanpa ada solusi yang mudah, perilaku atau perasaan yang tidak terpahami…. hal-hal seperti itu yang membangkitkan gairah saya untuk menelusurinya lewat tulisan.

Saat melihat ulang buku saya tersebut menjelang peluncuran. Saya tertarik untuk merenungkan kembali proses penggagasan dan penyusunannya. Mengapa yang hadir di bawah judul yang seakan-akan sangat umum itu (seperti judul sebuah textbook) adalah esai-esai sangat beragam, dengan nada yang terkadang personal, berangkat dari refleksi tentang persoalan-persoalan gender yang umum ataupun yang relatif khusus, dengan bacaan yang campur aduk antara referensi teori yang bisa dianggap utama, dengan bacaan yang lebih khusus, yang “kebetulan” menyulut perhatian dan keasyikan saya? Apa yang saya cari dan saya inginkan lewat buku semacam ini?

Sejumlah pembaca pun mengekspresikan keheranan serupa; yang dibayangkan saat melihat judulnya adalah sebuah textbook alias bacaan yang cenderung “berat” dan kering, namun ternyata isinya sangat tidak sesuai ekspektasi. Apakah ketiadaksesuaian itu membuahkan kekecewaan atau justru keasyikan, tentu hal itu tergantung kepada masing-masing individu pembaca tersebut. Dari reaksi yang sampai kepada saya, yang dominan adalah rasa lega: buku dengan judul “berat” itu ternyata isinya tulisan yang kerap kali berangkat dari cerita-cerita pengalaman pribadi yang ringan dibaca.

Judul “Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial” pada mulanya lahir dari refleksi perjalanan Pusat Studi Perempuan, Media, dan Seni (Anjani) yang saya kelola di Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Sekitar akhir 2015, kami (anggota pusat studi tersebut) memutuskan untuk mempertegas perspektif kajian yang ingin kami kembangkan. Kami memilih perspektif pascakolonial, dengan alasan bahwa perspektif tersebut sangat relevan dengan kondisi negara ini, tapi masih kurang dikembangkan di dunia akademis Indonesia sendiri. Sebagai salah satu usaha untuk mewujudkan tekad pengembangan fokus baru itu, awal 2016 saya menyesuaikan materi matakuliah kajian gender yang sudah beberapa tahun saya ampu, dan judul matakuliah itu kemudian saya ubah menjadi “Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial”.

Sambil mengajar, saya mulai menggagas sebuah buku dengan topik serupa. Awalnya saya memang sempat membayangkannya sebagai semacam buku ajar (textbook), berangkat dari matakuliah yang saya ajarkan tersebut. Namun demikian, menulis textbook adalah proyek yang membutuhkan sangat banyak waktu dan energi. Agar mampu menulis pembahasan ringkas dan relevan tentang berbagai unsur kajian gender dalam konteks pascakolonial, bacaan harus sangat luas dan fokus harus dipilih dengan cermat, lewat proses yang tidak mungkin singkat.

Di samping itu, semakin saya renungkan, semakin saya tidak tertarik untuk memproduksi sebuah textbook. Bukankah sebuah textbook selalu punya nada otoritatif tertentu, yaitu berusaha memberi overview terhadap sebuah bidang sambil mendefinisikan bidang tersebut? Bukan itu yang sedang ingin saya lakukan. Saya berniat membuka dialog tentang sebuah perspektif yang menurut saya relevan untuk membahas situasi di Indonesia, bukan berniat memberi definisi dan batas-batas kaku.

Niat tersebut juga terkait dengan pemosisian diri saya sendiri. Sebagai orang asing, lebih-lebih orang Eropa berkulit putih, saya kurang yakin apakah saya berhak menulis dengan suara otoritatif ala textbook. Saya lebih nyaman dengan tulisan yang bersifat “sharing”. Saya ingin berbagi tentang perspektif-perspektif yang menurut saya mengasyikkan, yaitu perspektif yang terasa “nyambung” saat saya menggunakannya untuk berusaha lebih memahami hidup saya sendiri.

Saya tidak bisa dan tidak ingin menggeneralisasi apa yang saya peroleh dari proses refleksi yang berangkat dari pengalaman dan posisi diri saya yang khusus itu, tapi saya berharap agar refleksi saya menginspirasi orang lain dan membawa refleksi tersendiri bagi masing-masing pembaca. Saya berharap bisa menularkan sebuah cara pandang, tanpa bisa memprediksi apa hasilnya saat orang lain—yang memiliki pengalaman hidup yang mungkin amat jauh dari pengalaman saya sendiri—menggunakan cara pandang tersebut.

Harus saya akui bahwa saya terharu saat membaca tulisan Wahmuji tentang buku saya. Saya bersyukur karena merasa dipahami. Beberapa hal yang diungkapkan Wahmuji bahkan baru saya sadari. Salah satunya adalah persoalan keberanian.

“Membaca pengalaman-pengalaman Katrin dalam kajian gender membuat saya bertanya-tanya: Apakah saya berani dan mampu menautkan pengalaman hidup pribadi untuk saya refleksikan dan saya jadikan bagian dari sebuah penelitian? Apakah pengalaman pribadi saya penting dan layak dibaca orang? Kemanakah refleksi pengalaman hidup akan membawa saya? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa saya jawab, tetapi justru meyakinkan saya bahwa Katrin telah berusaha keras untuk bisa merefleksikan pengalaman hidupnya sendiri dalam kajian gender; menghadirkan pengalaman yang direfleksikan bukan hanya soal kemampuan untuk menautkan diri dengan sesuatu yang lebih besar, tetapi juga soal keberanian dan eksperimen diri –yang pertaruhannya cukup besar. Kita terhanyut dan tidak tahu akan bermuara di mana.” demikian kata Wahmuji sebagai penutup ulasannya.

Diskusi santai bersama perupa Arahmaiani di ruang Anjani 1 Maret 2017, yaitu sehari setelah peluncuran yang saya sebut di atas, memberi saya kesempatan untuk menggali persoalan itu lebih lanjut. Diskusi antara kami berdua terwujud atas usul Arahmaiani yang merasa “nyambung” dengan beberapa hal yang saya bicarakan dalam buku saya. Berangkat dari rasa nyambung itu, diskusi tersebut diberi tajuk “Memperbincangkan Identitas Hibrid”. Bukankah kami sama-sama perempuan hibrid? Saya berkebangsaan Jerman, berkulit putih, berkarya hampir selalu dalam bahasa Indonesia, menetap di Jogja, dan beragama Islam. Sangat campur aduk. Pengalaman Iani (demikian panggilan akrab Arahmaiani), sebagai seniman yang banyak berkarya di luar Indonesia, tak kalah campur aduk.

Dari perspektifnya yang beridentitas hibrid itu, Iani mengutarakan keresahannya dengan apa yang disebutnya sebagai gejala menguatnya politik identitas. Makin lama, demikian persepsinya, orang makin dituntut untuk mendefinisikan identitasnya dengan sangat tegas dan tunggal. Orang mesti berafiliasi dengan pihak tertentu (kelompok tertentu yang berpolitik identitas) dan dengan demikian otomatis akan diasumsikan bukan bagian dari pihak yang lain. Menjadi sekian hal sekaligus atau berdiri di tengah-tengah bukan pilihan yang dianggap wajar. Kondisi tersebut terasa memprihatinkan bagi Iani, karena dengan demikian terjadi polarisasi dalam masyarakat dan tercipta kelompok yang terpisah satu sama lain yang kerap kali sulit untuk saling menghormati.

Renungan Iani itu memancing saya untuk ikut merenung. Bagaimana kita dapat memahami hasrat untuk mempertegas identitas diri itu? Sepertinya sebagian orang merasa lebih aman dan nyaman dengan ketegasan semacam itu. Saya kemudian sedikit flashback. Sejak kapankah saya asyik mempersoalkan hibriditas pengalaman dan identitas saya? Ketika saya mengingat-ingat masa remaja saya sampai usia 20-an, saya menjadi sadar bahwa di masa itu saya pun cenderung merindukan identitas yang lebih pasti, jelas, dan koheren. Ketertarikan saya pada budaya lain, terutama budaya Asia dan kemudian secara khusus budaya Indonesia, dimulai di masa itu. Namun demikian, apakah pada saat itu saya bercita-cita menjadi manusia hibrid? Justru sebaliknya, seingat saya. Berangkat dari keresahan dan ketidaknyamanan dengan budaya saya sendiri, saya mencari alternatif demi alternatif untuk berusaha larut di dalamnya. Saya ingin secara total dan utuh menjadi sesuatu yang baru agar segala kegelisahan saya terselesaikan; Ingin menjadi Zen Buddhist di Jepang, ingin menjadi Hindu Bali, .…

Untuk mengakui—pada akhirnya—bahwa semua itu tidak berhasil membuat saya merasa utuh dan bahwa apa yang ada dalam diri saya selalu campur aduk dan penuh pertentangan, pun dibutuhkan waktu panjang. Dan, tepat sekali seperti yang dikatakan Wahmuji, pengakuan itu butuh keberanian. Lebih-lebih untuk mengakui bahwa saya berdiri di posisi tertentu di tengah relasi kekuasaan global, yaitu sebagai bagian dari manusia Eropa dengan sejarah kelamnya sebagai penjelajah dunia yang menindas (menjajah) hampir seluruh planet Bumi ini.

Tidak mudah meninggalkan hasrat untuk menyangkal realitas itu, lalu melarutkan diri dalam ilusi bahwa saya bisa menjadi apa saja yang saya mau, tanpa berurusan dengan relasi kuasa dan penenindasan. Keberanian untuk bersikap semakin jujur tumbuh lewat sebuah proses panjang, dan baru kini, di usia saya yang sudah kepala 4, pemahaman akan posisionalitas diri saya mulai terpetakan dengan agak lebih eksplisit. Entah proses itu akan membawa saya ke mana di masa mendatang.

Sebagai kesimpulan dari renungan saya dalam dialog dengan Arahmaiani itu, saya semakin meyakini bahwa keberanian untuk memandang dan mengungkapkan diri secara jujur merupakan bagian dari tanggung jawab kami sebagai intelektual. Kemampuan yang saya miliki saat ini untuk mengartikulasikan posisionalitas saya, tidak mungkin saya capai tanpa proses pembelajaran yang bersifat akademis, yaitu lewat bacaan teoretis, kerja penulisan, dan diskusi-diskusi akademis. Lewat refleksi tentang proses panjang yang saya butuhkan untuk sampai ke titik ini, saya merasa diingatkan untuk berhati-hati dalam menilai orang lain. Tidak semua orang perlu, mampu, dan berkesempatan menyibukkan diri dengan sekian ambivalensi dalam diri dan tidak semua orang merasakan keasyikan dalam pekerjaan seperti itu, sebagaimana yang saya rasakan.

Setelah peluncuran buku itu, beberapa kali saya teringat akan pertanyaan Tia. Apakah saya masih feminis? Yang menarik bagi diri saya bukan sekadar bahwa saya tidak tahu jawabannya, melainkan juga bahwa ternyata saya hampir tidak pernah mengajukan pertanyaan semacam itu pada diri saya sendiri. Sekian tahun saya mempelajari kajian gender dan tentu saja saya terus-menerus menghubungkan apa yang saya baca dengan pengalaman kehidupan saya sendiri. Namun demikian, di tengah kompleksitas renungan yang distimulasi oleh bacaan-bacaan yang beragam tersebut, pertanyaan “apakah saya feminis” jarang mengemuka. Mungkin karena pertanyaan itu bersifat terlalu besar, umum, dan abstrak. Daripada bertanya apakah bacaan-bacaan di bidang kajian gender membuat saya menjadi feminis atau tidak, saya lebih menikmati pertanyaan seputar pertentangan, ambivalensi, dan “kegalauan” yang lahir akibat perjumpaan antara bacaan tersebut dengan sekian aspek lain dalam diri saya.

———

Rujukan

Wahmuji, “Pengalaman, Posisionalitas, dan Kekuasaan”, literasi.co 9 Maret 2017, http://literasi.co/2017/03/pengalaman-posisionalitas-dan-kekuasaan/