Memimpin dengan Perbuatan

Ketika pertama kali Utsman menjadi khalifah, beliau segera menaiki mimbar, sementara orang-orang menunggu apa yang akan beliau katakan. Sang khalifah terdiam dan tidak berkata apa-apa. Beliau hanya memandangi kerumunan orang-orang yang datang.

 

Tiba-tiba, mereka yang hadir dihinggapi oleh rasa takut dan tidak kuasa untuk beranjak pergi. Masing-masing mereka tidak ada yang tahu di mana yang lainnya duduk. Namun, pada peristiwa besar tersebut, seakan-akan ada ratusan wejangan dan khotbah yang meresap ke dalam jiwa mereka. Berbagai hikmah tergenggam, beragam rahasia yang sebelumnya tidak diketahui pun tersingkap.

Hingga waktu usai, khalifah terus memandangi mereka tanpa terucap sepatah kata. Sebelum meninggalkan mimbar, beliau berkata, “Kalian lebih butuh pada pemimpin yang banyak bekerja daripada pemimpin yang banyak bicara.”

Apa yang dikatakan beliau benar. Bila yang dikehendaki dari sebuah ucapan adalah hikmah, petuah, dan pembinaan moral, maka tanpa berkata apapun semua itu bisa diperoleh berkali-kali lipat dari yang diperoleh dengan ucapan.

Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Utsman itu adalah untuk mengomentari diri beliau sendiri. Selama berada di atas mimbar, beliau tidak melakukan sesuatu pekerjaan apapun yang bisa dilihat; beliau tidak salat, berhaji, bersedekah, berzikir, dan berpidato. Dari sini kita mengambil kesimpulan bahwa amal perbuatan tidak hanya dibatasi oleh bentuk luarnya. Perbuatan lahiriah itu hanyalah simbol dari pelaku amal yang sebenarnya, yaitu roh.