Surga Hanya Milik Kami

Abu Nuwas yang kita kenal sebagai tokoh yang menghibur karena aneka cerita anekdotnya, pernah pula terkenal karena syairnya yang sangat menyentuh. Berikut ini terjemahannya:

Tuhanku, aku bukanlah ahli surga

Tetapi aku tidak kuat akan siksa api neraka

Entahlah, itu syair yang digubah oleh Abu Nuwas atau bukan. Hanya saja, banyak orang menyebut bahwa syair tersebut memang digubah oleh Abu Nuwas. Saya tidak hendak memperdebatkan persoalan penggubah syair tersebut. Saya sendiri tidak melakukan penelitian atas syair tersebut sehingga saya tidak tahu penggubahnya.

Sekali lagi, bukan penggubah syair tersebut yang menjadi persoalan, melainkan pemaknaan syair tersebut yang patut kita perbincangkan. Oleh karenanya, mari kita meresapi syair tersebut dengan penghayatan.

Ya, jika kita mencermati syair tersebut, kita akan memahami keindahan maknanya. Akan tetapi, yang lebih penting bukan sekadar keindahannya, melainkan esensinya yang begitu dalam sebagai sebuah pengakuan (al-i’tiraf). Penggubah syair (sekali lagi, tidak usah kita persoalkan, kita anggap saja syair itu gubahan Abu Nuwas sebagaimana kabar yang populer) begitu gelisah akan kondisi dirinya sendiri. Ia menjadi hamba yang merasa tidak layak untuk mendapatkan surga tetapi di sisi lain ia juga tidak kuat jika harus menanggung siksa api neraka.

Lantas, maunya bagaimana? Apakah mau berada di al-manzilah baina al-manzilatain (satu tempat di antara dua tempat; surga dan neraka) sebagaimana teologi kaum Mu’tazilah? Tidak, itu bukanlah persoalan teologi melainkan persoalan rendah hati yang jika ditilik secara lebih cermat merupakan salah satu asas tasawuf.

Syair tersebut merupakan ungkapan pertobatan sehingga penggubah syair yang merasa banyak dosa tersebut menganggap dirinya tidak layak menjadi ahli surga dan sangat merasa kepayahan jika harus menanggung derita siksa neraka. Dengan demikian, panggubah syair “menampakkan” sikap rendah hati.

Rendah hati mempunyai antonim tinggi hati. Tinggi hati berarti sombong. Dengan demikian, penggubah syair tersebut “menghindarkan diri” dari kesombongan. Bisa jadi, jika penggubah syair tersebut menampakkan kesombongannya, syair yang digubah adalah “Tuhanku, aku layak masuk surga dan neraka tidak pantas untukku.”

Ya, itu memang tidak mungkin karena penggubah syairnya mempunyai sikap rendah hati sehingga mampu melahirkan syair yang sangat mendalam maknanya berbalut diksi yang indah. Tentu saja, rendah hati di hadapan Tuhan itu merupakan hal yang utama bagi para pencari cinta-Nya, bagi para manusia yang tengah bertobat, dan bagi para manusia yang mengaku beragama (Islam).

Orang-orang yang rendah hati merasa diri mereka penuh dosa meskipun hati mereka putih. Tentu pula mereka merasa bahwa diri mereka tidak lebih suci dari yang lain. Jangankan merasa lebih suci, merasa dirinya sendiri suci saja tidak. Oleh karenanya, mereka tidak akan mengatakan, “Kamu itu salah. Seharusnya kamu itu begini. Kalau kamu tidak begini maka kamu berbuat bidah, kamu itu sesat dan kafir. Darahmu halal.”

Namun demikian, kini banyak orang yang melupakan pemaknaan syair di atas. Kini, banyak orang yang merasa bahwa diri mereka itu benar dan yang lain pasti salah. Mereka mengklaim bahwa merekalah yang benar (truth claim) sehingga mereka merasa bahwa mereka adalah ahli surga sementara yang lain akan masuk neraka.

Bukankah itu kesombongan? Layakkah manusia itu bersombong-sombong ria? Dan, apakah mereka itu juga termasuk kita? Mari kita renungi!

Memang benar bahwa manusia adalah makhluk istimewa. Akan tetapi, layakkah sikap sombong itu ada pada diri kita? Bukankah kita sering mendengar kisah Iblis dalam kitab suci kita (Alquran) sebagai makhluk yang “aba wa istakbara” (enggan [bersujud kepada Nabi Adam As—menolak perintah Tuhan] dan merasa sombong)? “Genealogi” sifat sombong berujung pada sifat Iblis yang membangkang perintah Tuhan untuk bersujud (merendahkan hati) kepada Nabi Adam As. Dengan demikian, sikap sombong adalalh sikap Iblis.

Ah… saya tidak mau menggunakan kesimpulan atas dasar logika silogisme seperti ini:

Sombong adalah sifat Iblis

Manusia (yang merasa diri paling benar) adalah sombong

Manusia (yang merasa diri paling benar) adalah Iblis

Kesimpulan tersebut tidak layak saya ungkapkan. Jika saya mengungkapkannya, sama saja saya ini sombong dan sama saja saya ini merasa diri paling benar dan selain saya salah. Lebih baik, kita mencermati kalam arif para ulama, “Pendapatku benar, tetapi bisa jadi salah. Pendapat orang lain salah, tetapi bisa jadi benar.”

Kalam tersebut merupakan bentuk kerendahhatian mereka yang berilmu. Mereka merasa bahwa ijtihad mereka tidak benar secara mutlak dan ijtihad selain mereka juga dianggap tidak salah secara mutlak. Artinya, dalam hal pemikiran, kebenaran itu relatif karena masing-masing pemikir itu mempunyai pemikiran sendiri-sendiri yang mereka itu berpikir menurut sudut pandang mereka serta menghargai sudut pandang pemikir yang lain.

Jika demikian halnya, pantaskah kita mengklaim diri sebagai yang paling benar? Para ulama saja merasa diri tidak benar, lha kita ini siapa kok berani-beraninya mengklaim sebagai yang benar?

Ya, kita seolah-olah merasa diri paling benar dalam hal syariat sehingga kita berani menjamin diri kita sebagai ahli surga. Seolah-olah, kelak kita akan masuk surga dan selain kita akan masuk neraka secara mutlak jika tidak sesuai dengan pemahaman kita.

Oh… apakah kita telah menjadi nabi sehingga kita pantas berkata, “Surga hanya milik kami”? Tidak, bukan?

Wallahu a’lam