Mohammed Arkoun; Episteme dan Kritik Ortodoksi Islam

Mohammed Arkoun lahir di wilayah Berber di Taurit-Mimoun, Kabila, Aljazair, pada 2 Januari tahun 1928. Arkoun menyelesaikan pendidikan dasar di desa asalnya. Sementara itu, pendidikan menengah dan tingginya ditempuh di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utama di Aljazair bagian barat.

Read more...

Identitas ‘Kita’ dalam Impitan Pascakolonialisme dan Islamisme

Edward Said dalam bukunya, Orientalisme, menegaskan bahwa bagi Eropa, Timur tidak hanya sekadar tempat untuk mencari sumber daya alam, tetapi juga dianggap sebagai yang liyan (the other). Pemahaman tentang the other ini kemudian memunculkan dominasi yang luar biasa dari Eropa. Oleh karena itu, menurut Said, dengan dominasi tersebut, budaya Eropa memperoleh kekuatan dan identitasnya dengan cara menyadarkan kepada dunia Timur sebagai wali atau pelindung.

Read more...

Kartini; Imajinasi Liar tentang Agama

“Duh, Tuhan,” kata seorang perempuan yang hanya tamat SD dalam munajatnya, “kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus mempersatukan semua orang sepanjang abad-abad yang telah lewat [malah] menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam.”

Read more...

Mohammed Arkoun dan Dekonstruksi Ortodoksi

Dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer, sosok Mohammed Arkoun mengemuka di permukaan seiring dengan berbagai karya dan pemikirannya yang progresif. Arkoun memberikan kritik terhadap berbagai pemikiran yang dianggapnya memperlambat progresivitas pemikiran Islam yang terjebak pada area konservativisme, fundamentalisme, dan tradisionalisme yang kaku sehingga tidak bisa dihadapkan dengan problematika kontemporer.

Read more...